Jateng

Pesona Batik Jlamprang: Jejak Sejarah dan Keindahan Motif Patola di Indonesia

Theo Adi Pratama | 15 Desember 2023, 05:30 WIB
Pesona Batik Jlamprang: Jejak Sejarah dan Keindahan Motif Patola di Indonesia

AKURAT.CO Sejarah, Penggunaan kain bermotif batik telah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya Indonesia.

Motif-motif batik hadir dalam berbagai gaya busana, mulai dari blouse, kemeja, hingga celana, menciptakan keberagaman gaya fashion yang memukau.

Salah satu motif batik yang kini semakin diminati adalah batik Jlamprang asal Pekalongan.

Baca Juga: Mitos Tumbal Proyek: Sejarah dan Makna di Balik Kepercayaan Masyarakat

Jejak Motif Patola: Asal Usul Batik Jlamprang

Motif batik Jlamprang memiliki akar sejarah yang dalam, berasal dari pola patola, suatu ikat ganda khas India yang disebut chhabadi bhat atau pola keranjang.

Sandra Sardjono, seorang peneliti dan kurator seni rupa dan tekstil, menjelaskan dalam tesisnya berjudul “Depiction of Textiles in Ancient Java (8th-15th century)” bahwa motif ini pertama kali ditemukan dalam pola patola, ikat ganda tertentu dari India, yang dikenal sebagai Patola atau Patolu.

Indahnya Motif Jlamprang di Indonesia

Motif Jlamprang, seperti diilustrasikan oleh arkeolog Van der Hoop dalam Indonesische Siermotieven: Indonesian Ornamental Design, terdiri dari sekumpulan lingkaran yang saling bersentuhan, diisi dengan elemen-elemen seperti mawar dan motif lainnya.

Desain ini menciptakan paduan artistik yang menawan, mengundang kekaguman bagi siapa pun yang melihatnya.

Baca Juga: Mengulik Kota Malang: Jejak Sejarah, Pendidikan yang Gemilang, dan Pesona Alam

Patola di Indonesia: Simbol Kecantikan dan Kemewahan

Motif patola tidak hanya sekadar kain di Indonesia.

Selain tertuang dalam kain, motif ini juga diabadikan dalam pahatan-pahatan candi yang dianggap sebagai tempat kediaman para dewa.

Pada abad ke-9 M, motif patola pertama kali ditemukan di dinding candi Kompleks Candi Prambanan, memberikan kesan kemewahan dan keanggunan.

Motif Mewah untuk Kelas Atas: Arca Singasari dan Penggunaan Motif Patola

Arca-arca yang ditemukan dari Kerajaan Singasari pada abad ke-13, seperti arca Prajnaparamita dan arca Durgamahisasuramardhini, menunjukkan bahwa motif patola adalah simbol kemewahan yang digunakan oleh kalangan atas.

Pada kedua arca tersebut, motif patola tampak pada kain bawahan dan atasan, memberikan kesan kemewahan dan keanggunan.

Baca Juga: Kisah Dibalik Julukan Paris van Java: Kota Bandung yang Mempesona dan Penuh dengan Sejarah

Motif Patola dalam Naskah Kesusastraan Jawa

Tidak hanya terpatri dalam seni dan arsitektur, motif patola juga hadir dalam naskah kesusastraan Jawa.

Setidaknya ada enam naskah, seperti Tantri Kamandaka dan Kidung Harsa Wijaya, yang mencatat keindahan motif patola dan mengabadikannya dalam sejarah sastra Jawa.

Revolusi Motif: Batik Jlamprang dan Batik Nitik di Indonesia

Pada abad ke-18, kain motif patola menjadi salah satu kain impor mewah yang diminati bangsawan di Jawa dan Sumatra.

Untuk mengatasi sulitnya mendapatkan kain tersebut, beberapa tempat di Jawa mulai memproduksi kain dengan motif yang serupa, namun dengan teknik batik.

Inilah yang melahirkan batik Jlamprang di Pekalongan dengan warna cerah, dan batik Nitik di Yogyakarta dengan warna coklat.

Baca Juga: Sejarah Awal Mula Stasiun Pasuruan: Saksi Bisu Perjalanan Kereta Api Pertama di Jawa Timur

Akulturasi Budaya: Motif Patola Menjadi Milik Indonesia

Motif batik yang mirip patola di Indonesia merupakan hasil akulturasi dari India, Cina, dan budaya Jawa sendiri.

Penggunaannya tidak lagi dikhususkan untuk kalangan atas, melainkan telah meresap ke berbagai lapisan masyarakat.

Motif ini pun mendapat nama lokal, memberikan makna dan arti filosofi yang mendalam.

Penutup: Kecantikan yang Abadi dalam Batik Jlamprang

Batik Jlamprang, dengan jejak sejarah dan kemewahan motif patola di dalamnya, menjadi bagian tak terpisahkan dari kekayaan budaya Indonesia.

Keindahan yang terpatri dalam setiap helai kain menciptakan warisan seni yang tak lekang oleh waktu, menjadikan batik Jlamprang sebagai simbol kecantikan dan keanggunan yang abadi.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.