Jateng

Sejarah Awal Mula Stasiun Pasuruan: Saksi Bisu Perjalanan Kereta Api Pertama di Jawa Timur

Theo Adi Pratama | 12 Desember 2023, 13:32 WIB
Sejarah Awal Mula Stasiun Pasuruan: Saksi Bisu Perjalanan Kereta Api Pertama di Jawa Timur

AKURAT.CO Sejarah, Stasiun Pasuruan, berlokasi di Trajeng, Gadingrejo, Pasuruan, telah menjadi saksi bisu perjalanan kereta api di Jawa Timur selama 145 tahun.

Dibangun pada tanggal 16 Mei 1878 oleh Stadspoorwegen (SS), perusahaan kereta api negara Hindia Belanda, stasiun ini melayani perjalanan kereta api dari Surabaya ke Pasuruan dan sebaliknya.

Meskipun telah berusia, Stasiun Pasuruan tetap aktif dan menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah perkeretaapian di Indonesia.

Baca Juga: Misteri Lukisan Oei Hui Lan: Antara Kehidupan Gemilang dan Kehadiran Misterius di Hotel Tugu Malang

Awal Mula Berdirinya Stasiun Pasuruan

Pada tahun 1870, penerapan Undang-Undang Agraria membawa dampak besar terhadap perkembangan perkebunan di Jawa Timur.

Dibukanya investasi asing meningkatkan produksi komoditas seperti gula, kopi, tembakau, dan teh.

Namun, ketersediaan alat transportasi menjadi kendala serius, mengingat pengangkutan masih mengandalkan tenaga hewan dan alat tradisional.

Pada tanggal 6 April 1875, atas dorongan pengusaha swasta, pemerintah Hindia Belanda memutuskan untuk membangun jalur rel kereta pertama di Jawa Timur, yakni jalur Surabaya–Pasuruan–Malang.

Proyek ini dipimpin oleh David Marschhalk. Jalur rel pertama melibatkan Surabaya–Pasuruan, diikuti dengan jalur Pasuruan–Malang.

Kereta api tidak hanya menjadi sarana angkutan hasil perkebunan tetapi juga mengangkut pekerja dan pegawai perkebunan.

Baca Juga: Sejarah dan Kisah Oei Hui Lan: Kehidupan yang Bergelimang Harta namun Penuh Kesepian

Selain kereta api, trem juga melintas di jalur Surabaya–Pasuruan.

Pasoeroean Stoomtram Maatschappij (PsSM) memiliki hak untuk membangun dan mengoperasikan trem di Pasuruan sejak 16 Maret 1895.

Trem ini memiliki rute Bakalan–Pasar Alkmaar, Warungdowo–Ngempit, dan Pasuruan–Kali Gembong.

Perbedaan utama antara kereta api dan trem terletak pada daya angkut dan jarak tempuh.

Seiring berjalannya waktu, mobilitas pengangkutan barang dan penumpang meningkat, mendorong pembangunan Stasiun Pasuruan sebagai pusat administratif dan sarana perawatan kereta api.

Baca Juga: Menelusuri Kisah Dibalik Gedung Oudetrap: Menyaksikan Jejak Sejarah dan Peradaban Kota Lama Semarang

Kondisi Terkini Stasiun Pasuruan

Hingga saat ini, bangunan utama Stasiun Pasuruan tetap mempertahankan keaslian arsitektur lama.

Bangunan ini, yang telah menjadi cagar budaya, menjadi saksi bisu perubahan zaman. Meski ada penataan ulang di bagian depan stasiun, esensi dan keelokan sejarahnya tetap terjaga.

Stasiun Pasuruan terletak strategis, dekat dengan Jalan Raya Pos (sekarang Jalan Soekarno-Hatta), Pasar Besar (berdiri sejak 1827), dan Pelabuhan Pasuruan.

Bangunan ini memainkan peran penting dalam mendukung distribusi hasil perkebunan dan mobilitas penduduk.

Sebagai bagian dari warisan budaya, Stasiun Pasuruan tidak hanya berfungsi sebagai tempat keberangkatan dan kedatangan kereta api, tetapi juga menjadi objek yang menarik untuk dipelajari.

Meskipun beberapa bangunan berubah fungsi, seperti tandon air dan dipo lokomotif, esensi sejarahnya tetap terasa.

Dengan usia yang terus bertambah, Stasiun Pasuruan bukan hanya menjadi stasiun kereta api; ini adalah penanda perjalanan panjang perkembangan perkeretaapian di Jawa Timur.

Keberadaannya yang tetap aktif dan dijaga dengan baik adalah bukti nyata komitmen pelestarian warisan budaya di Indonesia.

Stasiun Pasuruan tetap menjadi bagian hidup dari masyarakat setempat dan warisan berharga yang harus dijaga untuk generasi mendatang.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.