Jateng

Mitos Tumbal Proyek: Sejarah dan Makna di Balik Kepercayaan Masyarakat

Theo Adi Pratama | 13 Desember 2023, 05:00 WIB
Mitos Tumbal Proyek: Sejarah dan Makna di Balik Kepercayaan Masyarakat

AKURAT.CO Sejarah, Ketika membahas proyek-proyek besar seperti pembangunan jembatan, jalan raya, atau jalan tol, seringkali muncul istilah yang meresahkan, yaitu "tumbal proyek".

Istilah ini merujuk pada keyakinan bahwa sebuah proyek memerlukan pengorbanan, baik berupa hewan maupun manusia, untuk memastikan kesuksesan pembangunannya.

Meskipun kita hidup di zaman modern, kepercayaan ini masih melekat kuat dalam masyarakat, dari perdesaan hingga perkotaan.

Sejarah tumbal proyek ternyata telah mengakar sejak zaman penjajahan Belanda.

Baca Juga: Sejarah Awal Mula Stasiun Pasuruan: Saksi Bisu Perjalanan Kereta Api Pertama di Jawa Timur

Bregas Pranoto, menceritakan kisah menyeramkan tentang seorang penjahat sakti yang bekerja sebagai kaki tangan pemerintah kolonial Belanda.

Tugasnya tidak lain adalah menculik anak-anak untuk dijadikan tumbal pembangunan jembatan, jalan raya, dan bangunan penting lainnya.

Onghokham dalam karyanya "Kemelut Sejarah" menambahkan bahwa pada abad ke-19 dan 20, rumor beredar di pedesaan bahwa pemerintah Belanda memerlukan dua tengkorak manusia sebagai pondasi jembatan, gedung pemerintah, dan proyek besar lainnya.

Akibatnya, masyarakat setempat mulai mencurigai kehadiran orang asing, terutama orang Belanda, dan bahkan menyerang mereka sambil berteriak "Culik, culik!" sembari menyembunyikan anak-anak mereka.

Baca Juga: Misteri yang Menyelimuti Hotel Majapahit Surabaya: Saksi Bisu dari Sejarah Perjuangan yang Dibalut Nuansa Mistis yang Kental

Namun, apakah semua ini hanyalah kesalahpahaman? Beberapa artikel sempat menyebutkan bahwa awal mula mitos ini mungkin berasal dari salah tafsir terhadap permintaan orang Belanda kepada penduduk lokal untuk menggunakan otak (menggunakan kepala) saat bekerja di proyek-proyek.

Namun, karena kurangnya pemahaman, hal ini diartikan sebagai kebutuhan akan kepala manusia.

Bregas menyoroti bahwa mitos tumbal proyek jauh lebih kompleks dan terkait dengan keyakinan masyarakat Asia Tenggara di masa lalu.

Penumbalan, menurutnya, diharapkan dapat memuaskan roh dan merestui pembangunan di wilayah mereka.

Baca Juga: Menelusuri Kisah Dibalik Gedung Oudetrap: Menyaksikan Jejak Sejarah dan Peradaban Kota Lama Semarang

Ini mencerminkan aspek kepercayaan dan perlindungan yang diakui oleh masyarakat.

Tradisi perburuan kepala dalam masyarakat Dayak Mualang juga menjadi sorotan Bregas.

Meskipun tidak umum di wilayah lain seperti Sumatra Utara, Jawa, hingga NTT, namun hal ini bisa dihubungkan dengan aksi penculikan pada masa penjajahan.

Ekspresi kekalahan masyarakat lokal juga menjadi aspek penting dalam mitos tumbal proyek.

Serangan besar Belanda ke pedalaman Nusantara memicu cerita ini, terutama saat Belanda melarang perburuan kepala dan mengontrol aktivitas tersebut.

Baca Juga: Sejarah dan Kisah Oei Hui Lan: Kehidupan yang Bergelimang Harta namun Penuh Kesepian

Dayak, yang kehilangan aspek budaya tersebut, melihat Belanda sebagai penjaga monopoli perburuan kepala untuk memperkuat kekuasaannya dan membangun proyek-proyek besar.

Bregas berpendapat bahwa cerita ini adalah cara bagi masyarakat untuk mengatasi rasa tak berdaya dan kehilangan mereka di tengah pesatnya pembangunan yang seringkali melibatkan eksklusi mereka.

Sejarah mencatat kejadian serupa di Sumatra Utara ketika Belanda membangun perkebunan pada awal abad ke-20.

Desa-desa dipindahkan, hutan diratakan, dan perbukitan dibangun jalan untuk mendukung pembangunan perkebunan karet.

Dengan demikian, mitos tumbal proyek ternyata bukan hanya sekadar cerita seram, tetapi juga mencerminkan bagaimana masyarakat mencerna perubahan besar dan eksklusi dalam pembangunan.

Meskipun zaman telah modern, namun keyakinan dan mitos ini terus bertahan, menjadi warisan dari masa lalu yang mengajarkan kita untuk memahami kompleksitas budaya dan kepercayaan masyarakat Indonesia.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.