Jateng

Mengenal Tokoh Pewayangan dari Perspektif Sejarah dan Budaya: Citraksa, Pangeran Kurawa yang Mahir dalam Seni Keprajuritan

Theo Adi Pratama | 12 Maret 2024, 08:00 WIB
Mengenal Tokoh Pewayangan dari Perspektif Sejarah dan Budaya: Citraksa, Pangeran Kurawa yang Mahir dalam Seni Keprajuritan

AKURAT.CO, Citraksa, putra Prabu Drestarasta, raja negara Astina dengan Dewi Gandari, adalah salah satu tokoh terkenal dalam kisah epik Mahabharata.

Dia lahir dari hubungan antara Prabu Drestarasta dengan permaisuri Dewi Gandini dari negara Gandaradesa.

Citraksa memiliki saudara sebanyak 100 orang, yang terkenal dengan nama Sata Kurawa, terdiri dari 99 orang laki-laki dan 1 orang wanita.

Baca Juga: Mengenal Tokoh Pewayangan dari Sisi Sejarah dan Budaya: Sang Hyang Bayu, Dewa Angin yang Gagah Perkasa

Diantara saudara-saudaranya yang paling terkenal adalah Duryudana, yang kemudian menjadi raja negara Astina, serta nama-nama seperti Bogadatta, Bomawikata, Citraksi, Citraboma, Citrayuda, dan banyak lagi.

Mereka semua memiliki peran yang penting dalam cerita Mahabharata.

Sebagai murid Resi Drona, Citraksa terampil dalam seni keprajuritan, terutama dalam mempermaikan senjata panah dan lembing.

Baca Juga: Mengenal Tokoh Pewayangan dari Sisi Sejarah dan Budaya: Bilung, Raksasa Kecil dalam Dunia Pewayangan Jawa

Namun, meskipun memiliki keahlian yang tinggi, Citraksa juga dikenal memiliki sifat yang kontroversial.

Dia digambarkan sebagai sosok yang ladak, congkak, licik, mau menangnya sendiri, dan agak pengecut.

Hubungan Citraksa sangat erat dengan Citraksi dan Citrayuda, dua saudaranya yang juga terlibat dalam perang Bharatayuda.

Pada awal pertempuran, Citraksa dan beberapa saudaranya tampil sebagai komandan pasukan balatentara Kurawa.

Baca Juga: Mengenal Tokoh Pewayangan dari Sisi Sejarah dan Budaya: Bogadatta, Sang Legenda Pahlawan Perang Bharatayuda

Namun, nasib tragis menimpa Citraksa ketika dia bersama dengan Citrayuda, Surtayu, Citrakundala, dan Dirgalasara tewas dalam pertempuran melawan Arya Wratsangka, senapati perang Pandawa, yang merupakan putra Prabu Matswapati dari negara Wirata.

Kematian Citraksa dan saudara-saudaranya menjadi salah satu momen tragis dalam epik Mahabharata, menggambarkan pahitnya perang dan harga yang harus dibayar atas ambisi dan konflik antar keluarga.

Kisah Citraksa dan saudara-saudaranya tidak hanya menjadi bagian dari warisan budaya dan kekayaan sastra Hindu, tetapi juga menjadi sumber inspirasi dan refleksi bagi kita tentang pentingnya memahami nilai-nilai keadilan, persaudaraan, dan perdamaian dalam menghadapi konflik dan pertempuran dalam kehidupan.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.