Mengenal Tokoh Pewayangan dari Perspektif Sejarah dan Budaya: Citraksa, Pangeran Kurawa yang Mahir dalam Seni Keprajuritan

AKURAT.CO, Citraksa, putra Prabu Drestarasta, raja negara Astina dengan Dewi Gandari, adalah salah satu tokoh terkenal dalam kisah epik Mahabharata.
Dia lahir dari hubungan antara Prabu Drestarasta dengan permaisuri Dewi Gandini dari negara Gandaradesa.
Citraksa memiliki saudara sebanyak 100 orang, yang terkenal dengan nama Sata Kurawa, terdiri dari 99 orang laki-laki dan 1 orang wanita.
Diantara saudara-saudaranya yang paling terkenal adalah Duryudana, yang kemudian menjadi raja negara Astina, serta nama-nama seperti Bogadatta, Bomawikata, Citraksi, Citraboma, Citrayuda, dan banyak lagi.
Mereka semua memiliki peran yang penting dalam cerita Mahabharata.
Sebagai murid Resi Drona, Citraksa terampil dalam seni keprajuritan, terutama dalam mempermaikan senjata panah dan lembing.
Namun, meskipun memiliki keahlian yang tinggi, Citraksa juga dikenal memiliki sifat yang kontroversial.
Dia digambarkan sebagai sosok yang ladak, congkak, licik, mau menangnya sendiri, dan agak pengecut.
Hubungan Citraksa sangat erat dengan Citraksi dan Citrayuda, dua saudaranya yang juga terlibat dalam perang Bharatayuda.
Pada awal pertempuran, Citraksa dan beberapa saudaranya tampil sebagai komandan pasukan balatentara Kurawa.
Namun, nasib tragis menimpa Citraksa ketika dia bersama dengan Citrayuda, Surtayu, Citrakundala, dan Dirgalasara tewas dalam pertempuran melawan Arya Wratsangka, senapati perang Pandawa, yang merupakan putra Prabu Matswapati dari negara Wirata.
Kematian Citraksa dan saudara-saudaranya menjadi salah satu momen tragis dalam epik Mahabharata, menggambarkan pahitnya perang dan harga yang harus dibayar atas ambisi dan konflik antar keluarga.
Kisah Citraksa dan saudara-saudaranya tidak hanya menjadi bagian dari warisan budaya dan kekayaan sastra Hindu, tetapi juga menjadi sumber inspirasi dan refleksi bagi kita tentang pentingnya memahami nilai-nilai keadilan, persaudaraan, dan perdamaian dalam menghadapi konflik dan pertempuran dalam kehidupan.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Lama Tak Terlihat, Tiba-tiba Hendi Menjabat Ketua LPEU MUI Jawa Tengah
- 2Rawapening Run Heritage 2026 Bidik 1.500 Pelari, Angkat Wisata Sejarah Ambarawa
- 3BRA Semarang Gelar Fuso Mosaic Campaign 2026, Dorong Bisnis Pelanggan Melaju Tanpa Henti
- 4AHY Run Jateng 2026 Meriah, 5.500 Pelari Nikmati Rute Ikonik Kota Semarang
- 5Xiaomi Redmi G27Q 2026 Resmi Hadir, Monitor Gaming 2K 240Hz Harga di Bawah Rp2 Juta
- 6Prakiraan Cuaca Semarang dan Solo Minggu Siang Ini 18 Oktober 2026: Cerah Berawan Tapi Panasnya Bikin Otak Meleleh
- 7Prediksi Skor Persib vs Persik: Adu Strategi Igor Tolic dan Marcos Reina, Mampukah Pangeran Biru Amankan Kemenangan?
- 8Lawu Terbakar 100 Hektar, Sebangau Menyala: Peta Karhutla 18 Oktober 2026 yang Bikin Gelisah
- 9Dibantu Polres Purbalingga, Bapanas Pantau Harga dan Stok Bahan Pangan
- 102026, Tahun di Mana Indonesia Belajar Bertahan: Banjir, Asap, Antre BBM, dan Listrik yang Mati








