Jateng

Jejak Sejarah dan Perjalanan Kota Jayapura: Perkembangan dari Era Kolonial Hingga Masa Kini

Theo Adi Pratama | 4 Maret 2024, 14:00 WIB
Jejak Sejarah dan Perjalanan Kota Jayapura: Perkembangan dari Era Kolonial Hingga Masa Kini

AKURAT.CO Sejarah, Jayapura, ibukota Provinsi Papua, adalah sebuah kota dengan sejarah yang panjang, dimulai dari zaman penjajahan Belanda hingga masa kini.

Sebelum menjadi pusat pemerintahan Papua, kota ini telah mengalami berbagai perubahan dan tantangan sepanjang sejarahnya.

Sejarah Jayapura dimulai pada masa penjajahan Belanda di wilayah tersebut.

Ketika Papua masih menjadi bagian dari Keresidenan Ternate, pemerintah kolonial Belanda menempatkan wakilnya di Manokwari.

Baca Juga: Jejak Sejarah Tangsi Militer Belanda di Semarang: Dari Perlawanan hingga Transformasinya Menjadi Pusat Perbelanjaan Terbesar

Pada sekitar tahun 1909, pemerintah kolonial mulai membuka wilayah Papua dengan membangun pos-pos pemerintahan.

Pada saat itu, seorang pasukan KNIL dipimpin oleh Kapten Infanteri Frans Jonathan Pieter Sachse diberangkatkan ke Youtefa, dekat Abepura, untuk melakukan eksplorasi terbatas.

Pada Maret 1910, rombongan tersebut mendirikan bivak pertama di aliran Sungai Anafre (Nubai), yang kini dikenal sebagai kawasan Taman Imbi.

Di tempat baru ini, mereka mengalami berbagai kesulitan, termasuk masalah kesehatan dan keterbatasan pangan.

Baca Juga: Perjalanan Sebuah Gereja Blenduk: Jejak Sejarah dan Kecantikan Arsitektur di Kota Lama Semarang

Meskipun demikian, kapten Sachse terus menjalankan tugasnya hingga naik pangkat menjadi Jenderal Mayor KNIL.

Pada 1910, dia digantikan oleh Kapten JFE Klooster. Selama itu, serdadu KNIL tidak hanya berpatroli di sekitar Taman Imbi, tetapi juga hingga ke Sungai Keerom dan Danau Sentani.

Perkembangan wilayah Jayapura berlangsung lambat hingga Perang Dunia II, ketika Hollandia menjadi salah satu medan perang.

Setelah Perang Dunia II, Belanda kembali menguasai Papua, namun pada 1962, Papua diserahkan kepada otoritas PBB dan kemudian masuk kendali Republik Indonesia.

Baca Juga: Misteri dan Sejarah Tanjakan Gombel: Pintu Gerbang Menuju Kota Semarang yang Menantang

Pada masa perubahan ini, nama Hollandia pun berubah menjadi Sukarnapura sekitar tahun 1964, dan kemudian menjadi Jayapura pada sekitar tahun 1968, dalam upaya untuk menghapus jejak kolonial Belanda dan menegaskan kedaulatan Indonesia atas wilayah Papua.

Sejak itu, Jayapura terus berkembang menjadi pusat kegiatan ekonomi, politik, dan budaya di Papua.

Meskipun menghadapi berbagai tantangan dan konflik, kota ini tetap menjadi simbol penting bagi masyarakat Papua dan Indonesia secara keseluruhan, mencerminkan perjalanan panjang dan perubahan yang telah dilaluinya.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.