Pesona Batik Jlamprang: Jejak Sejarah dan Keindahan Motif Patola di Indonesia

AKURAT.CO Sejarah, Penggunaan kain bermotif batik telah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya Indonesia.
Motif-motif batik hadir dalam berbagai gaya busana, mulai dari blouse, kemeja, hingga celana, menciptakan keberagaman gaya fashion yang memukau.
Salah satu motif batik yang kini semakin diminati adalah batik Jlamprang asal Pekalongan.
Baca Juga: Mitos Tumbal Proyek: Sejarah dan Makna di Balik Kepercayaan Masyarakat
Jejak Motif Patola: Asal Usul Batik Jlamprang
Motif batik Jlamprang memiliki akar sejarah yang dalam, berasal dari pola patola, suatu ikat ganda khas India yang disebut chhabadi bhat atau pola keranjang.
Sandra Sardjono, seorang peneliti dan kurator seni rupa dan tekstil, menjelaskan dalam tesisnya berjudul “Depiction of Textiles in Ancient Java (8th-15th century)” bahwa motif ini pertama kali ditemukan dalam pola patola, ikat ganda tertentu dari India, yang dikenal sebagai Patola atau Patolu.
Indahnya Motif Jlamprang di Indonesia
Motif Jlamprang, seperti diilustrasikan oleh arkeolog Van der Hoop dalam Indonesische Siermotieven: Indonesian Ornamental Design, terdiri dari sekumpulan lingkaran yang saling bersentuhan, diisi dengan elemen-elemen seperti mawar dan motif lainnya.
Desain ini menciptakan paduan artistik yang menawan, mengundang kekaguman bagi siapa pun yang melihatnya.
Baca Juga: Mengulik Kota Malang: Jejak Sejarah, Pendidikan yang Gemilang, dan Pesona Alam
Patola di Indonesia: Simbol Kecantikan dan Kemewahan
Motif patola tidak hanya sekadar kain di Indonesia.
Selain tertuang dalam kain, motif ini juga diabadikan dalam pahatan-pahatan candi yang dianggap sebagai tempat kediaman para dewa.
Pada abad ke-9 M, motif patola pertama kali ditemukan di dinding candi Kompleks Candi Prambanan, memberikan kesan kemewahan dan keanggunan.
Motif Mewah untuk Kelas Atas: Arca Singasari dan Penggunaan Motif Patola
Arca-arca yang ditemukan dari Kerajaan Singasari pada abad ke-13, seperti arca Prajnaparamita dan arca Durgamahisasuramardhini, menunjukkan bahwa motif patola adalah simbol kemewahan yang digunakan oleh kalangan atas.
Pada kedua arca tersebut, motif patola tampak pada kain bawahan dan atasan, memberikan kesan kemewahan dan keanggunan.
Baca Juga: Kisah Dibalik Julukan Paris van Java: Kota Bandung yang Mempesona dan Penuh dengan Sejarah
Motif Patola dalam Naskah Kesusastraan Jawa
Tidak hanya terpatri dalam seni dan arsitektur, motif patola juga hadir dalam naskah kesusastraan Jawa.
Setidaknya ada enam naskah, seperti Tantri Kamandaka dan Kidung Harsa Wijaya, yang mencatat keindahan motif patola dan mengabadikannya dalam sejarah sastra Jawa.
Revolusi Motif: Batik Jlamprang dan Batik Nitik di Indonesia
Pada abad ke-18, kain motif patola menjadi salah satu kain impor mewah yang diminati bangsawan di Jawa dan Sumatra.
Untuk mengatasi sulitnya mendapatkan kain tersebut, beberapa tempat di Jawa mulai memproduksi kain dengan motif yang serupa, namun dengan teknik batik.
Inilah yang melahirkan batik Jlamprang di Pekalongan dengan warna cerah, dan batik Nitik di Yogyakarta dengan warna coklat.
Baca Juga: Sejarah Awal Mula Stasiun Pasuruan: Saksi Bisu Perjalanan Kereta Api Pertama di Jawa Timur
Akulturasi Budaya: Motif Patola Menjadi Milik Indonesia
Motif batik yang mirip patola di Indonesia merupakan hasil akulturasi dari India, Cina, dan budaya Jawa sendiri.
Penggunaannya tidak lagi dikhususkan untuk kalangan atas, melainkan telah meresap ke berbagai lapisan masyarakat.
Motif ini pun mendapat nama lokal, memberikan makna dan arti filosofi yang mendalam.
Penutup: Kecantikan yang Abadi dalam Batik Jlamprang
Batik Jlamprang, dengan jejak sejarah dan kemewahan motif patola di dalamnya, menjadi bagian tak terpisahkan dari kekayaan budaya Indonesia.
Keindahan yang terpatri dalam setiap helai kain menciptakan warisan seni yang tak lekang oleh waktu, menjadikan batik Jlamprang sebagai simbol kecantikan dan keanggunan yang abadi.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Profil Instagram Ko Hyung-jin Wasit Indonesia vs Malaysia, Sejarah Kelam 2019 Kembali Terbayang usai Tom Haye Dikartu Merah!
- 2LIVE SCORE Indonesia vs Malaysia, Skor 0-0 Menit ke-70 Thom Haye Kartu Merah, Cek Skor Akhir FULL TIME Menang Siapa?
- 3Kalender Jawa Oktober 2026: Weton, Neptu, dan Rekomendasi Hari Baik untuk Hajatan
- 4Laga PERSIKU VS PSIS BATAL DIGELAR! Ini Alasan Manajemen Tuan Rumah Terkait Pembatalan Pertandingan
- 5Laga Persiku vs PSIS Mendadak BATAL Digelar, Netizen: Harusnya Tuan Rumah Kalah WO!
- 6F1 Ubah Jadwal GP Azerbaijan ke Sabtu, Ternyata Ini Penyebabnya
- 7Panduan Lengkap Kalender Jawa November 2026, dari Minggu Pahing hingga Senin Legi
- 8MotoGP 2026 Masuki Fase Akhir: Ini Jadwal Lengkap Sisa Balapan
- 9PLN Umumkan Pemeliharaan Jaringan di Semarang Timur, Listrik Padam 6 Jam
- 10TNT Awards Jateng 2026 Dorong Elektronifikasi Transaksi Pemerintah Daerah







