Jateng

Undip Jadi Tuan Rumah PIMNAS ke-39, Kemdiktisaintek Tekankan Integritas Akademik dan Inovasi Mahasiswa

Arixc Ardana | 3 November 2026, 14:14 WIB
Undip Jadi Tuan Rumah PIMNAS ke-39, Kemdiktisaintek Tekankan Integritas Akademik dan Inovasi Mahasiswa
Universitas Diponegoro (Undip) menjadi tuan rumah Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-39 yang resmi dibuka di Gedung Prof Sudharto, Kampus Undip, Semarang, Selasa (3/11/2026).

JATENG.AKURAT.CO, SEMARANG – Universitas Diponegoro (Undip) menjadi tuan rumah Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-39 yang resmi dibuka di Gedung Prof Sudharto, Kampus Undip, Semarang, Selasa (3/11/2026).

Ajang kompetisi ilmiah mahasiswa tingkat nasional ini mempertemukan sekitar 3.000 delegasi dari 100 perguruan tinggi di Indonesia yang terbagi dalam sekitar 650 kelompok finalis.

Selain menjadi panggung unjuk kemampuan riset dan inovasi, penyelenggaraan PIMNAS tahun ini juga membawa pesan penting dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), yakni penguatan integritas akademik, kejujuran ilmiah, dan pemanfaatan ilmu pengetahuan untuk kepentingan masyarakat.

Sekretaris Direktorat Jenderal Sains dan Teknologi Kemdiktisaintek, Dr. M. Samsuri, menegaskan bahwa integritas harus menjadi landasan utama dalam setiap karya ilmiah yang dihasilkan mahasiswa.

Menurutnya, kejujuran, kepercayaan, tanggung jawab, dan kehormatan merupakan nilai yang tidak boleh dipisahkan dari kegiatan penelitian.

Karya ilmiah tidak semata-mata dibuat untuk memenuhi persyaratan kompetisi, mendapatkan penghargaan, atau menunjang kenaikan jabatan akademik, tetapi juga menjadi referensi pengetahuan yang akan digunakan dan dikembangkan oleh orang lain.

Karena itu, setiap penelitian harus melalui proses yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan.

Samsuri secara khusus mengingatkan peserta agar menghindari berbagai bentuk pelanggaran integritas akademik, mulai dari fabrikasi data, falsifikasi data, hingga plagiarisme.

Fabrikasi merupakan tindakan menciptakan data yang sebenarnya tidak pernah diperoleh, sedangkan falsifikasi dilakukan dengan memanipulasi data atau hasil penelitian.

Adapun plagiarisme terjadi ketika seseorang menggunakan karya atau gagasan pihak lain tanpa pengakuan yang semestinya.

Menurut Samsuri, pelanggaran semacam itu dapat merusak kepercayaan terhadap dunia pendidikan tinggi sekaligus mencederai tujuan penelitian sebagai upaya menemukan dan mengembangkan pengetahuan yang bermanfaat.

“Nilai-nilai kejujuran itu nomor satu, kemudian nilai-nilai kepercayaan, nilai-nilai tanggung jawab, nilai-nilai kehormatan itu menjadi utama,” ujar Samsuri saat memberikan penjelasan mengenai pentingnya menjaga integritas dalam menghasilkan karya ilmiah.

Ia menekankan bahwa pembentukan karakter akademik perlu dilakukan sejak mahasiswa masih berada pada tahap awal pendidikan.

Kesadaran tersebut juga harus dimiliki dosen dan peneliti, terlebih ketika karya ilmiah semakin sering digunakan sebagai salah satu dasar penilaian prestasi, publikasi, dan pengembangan karier akademik.

Samsuri menilai pencegahan pelanggaran akan lebih efektif apabila tumbuh dari pemahaman dan kesadaran pribadi, bukan semata-mata karena takut terhadap sanksi.

“Yang paling penting adalah membangun kesadaran sejak dini. Soal hukuman itu terakhir,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Samsuri juga menyoroti perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang semakin banyak digunakan dalam kegiatan pendidikan dan penelitian.

Ia menyatakan, penggunaan AI diperbolehkan sepanjang ditempatkan sebagai alat bantu, misalnya untuk menelusuri informasi, membantu penyusunan bahasa, atau mendukung pekerjaan teknis tertentu.

Namun, teknologi tersebut tidak boleh mengambil alih pemikiran ilmiah dan menggantikan orisinalitas karya mahasiswa.

Menurutnya, gagasan utama, proses penalaran, analisis, serta kontribusi ilmiah harus tetap berasal dari penulis atau peneliti yang bersangkutan.

Mahasiswa tidak boleh sekadar menyerahkan proses berpikir kepada teknologi tanpa memahami dan mempertanggungjawabkan isi karya yang dihasilkan.

“AI saya kira sebagai alat bantu, sebagai tools untuk pelacakan, ataupun membantu dalam menyusun bahasa dan lain sebagainya, itu tidak masalah. Tetapi AI tidak boleh menggantikan pemikiran ilmiah,” kata Samsuri.

Ia menambahkan, pengawasan terhadap integritas akademik tidak hanya berlaku dalam kompetisi mahasiswa.

Apabila pelanggaran ditemukan dalam karya ilmiah yang digunakan untuk keperluan lain, konsekuensinya juga dapat berdampak pada status publikasi maupun perjalanan karier akademik seseorang.

Dalam kompetisi seperti PIMNAS, pelanggaran yang terbukti dapat berujung pada diskualifikasi sesuai ketentuan yang berlaku.

Karena itu, ia berharap PIMNAS menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa untuk memahami bahwa prestasi ilmiah harus dibangun melalui proses yang jujur.

Mahasiswa yang saat ini berkompetisi dinilai berpotensi menjadi peneliti, akademisi, dan pemikir masa depan.

Integritas yang dibangun sejak dini akan menjadi modal penting agar perkembangan ilmu pengetahuan tetap dapat dipercaya.

Undip Sambut Ribuan Delegasi dari 100 Perguruan Tinggi

Rektor Undip, Prof. Suharnomo, menyampaikan rasa bangga atas kepercayaan Kemdiktisaintek yang menunjuk kampusnya sebagai tuan rumah PIMNAS ke-39.

Ia menyebut penyelenggaraan kompetisi tersebut melibatkan proses seleksi panjang yang telah dimulai sejak Januari 2026.

Menurut Suharnomo, sekitar 98.000 proposal masuk dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia untuk mengikuti rangkaian Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Setelah melewati tahapan seleksi, para peserta terbaik memperoleh kesempatan mempresentasikan gagasan, hasil penelitian, dan inovasi mereka di hadapan juri pada babak final PIMNAS.

“Dimulai dari Januari itu sudah luar biasa banget. Ada 98 ribu proposal yang masuk,” ujar Suharnomo.

Ia menjelaskan, PIMNAS ke-39 diikuti sekitar 3.000 delegasi dari 100 perguruan tinggi dengan sekitar 650 kelompok yang berkompetisi.

Jumlah peserta tersebut menunjukkan besarnya minat mahasiswa Indonesia untuk mengembangkan kreativitas, melakukan penelitian, serta menghadirkan gagasan baru melalui pendekatan ilmiah.

Undip, lanjut Suharnomo, berupaya mempersiapkan penyelenggaraan sebaik mungkin agar seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar.

Selain menjadi tuan rumah, kampus tersebut juga ingin memberikan pengalaman akademik yang berkesan bagi para peserta dari berbagai daerah.

Namun, ia mengingatkan bahwa keberhasilan PIMNAS tidak semestinya hanya diukur dari jumlah medali yang diperoleh masing-masing perguruan tinggi.

Kompetisi ini harus menjadi kesempatan untuk membangun persahabatan, memperluas wawasan, serta mendorong mahasiswa agar semakin peka terhadap persoalan di sekitarnya.

“PIMNAS bukan sekadar ajang berburu medali emas, melainkan panggung kemanusiaan dan wadah pemanfaatan ilmu bagi masyarakat luas,” ungkap Suharnomo.

Ia berharap para peserta mampu menghubungkan pengetahuan yang diperoleh di bangku kuliah dengan kebutuhan nyata masyarakat.

Dengan demikian, penelitian dan inovasi mahasiswa tidak berhenti pada laporan akademik atau presentasi kompetisi, tetapi dapat dikembangkan menjadi solusi yang memberikan manfaat lebih luas.

Sembilan Bidang Kompetisi, dari Riset hingga Gagasan Masa Depan

PIMNAS ke-39 mempertandingkan sembilan bidang Program Kreativitas Mahasiswa yang mencakup berbagai disiplin ilmu dan bentuk inovasi.

Bidang-bidang tersebut dirancang untuk memberikan ruang bagi mahasiswa dengan minat yang berbeda, mulai dari penelitian dasar hingga penerapan teknologi dan gagasan pembangunan jangka panjang.

Sembilan bidang yang diperlombakan meliputi:

PKM Riset Eksakta (PKM-RE), berfokus pada penelitian di bidang eksakta untuk menghasilkan temuan baru dalam ilmu pengetahuan dan teknologi.

PKM Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH), mengkaji berbagai fenomena sosial, ekonomi, budaya, serta perilaku masyarakat melalui pendekatan ilmiah.

PKM Kewirausahaan (PKM-K), mendorong mahasiswa mengembangkan usaha melalui penciptaan produk atau jasa yang kreatif dan memiliki nilai ekonomi.

PKM Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-PM), mengaplikasikan ilmu pengetahuan untuk membantu menyelesaikan persoalan yang dihadapi mitra masyarakat nonkomersial.

PKM Penerapan Iptek (PKM-PI), menghadirkan solusi berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi untuk membantu meningkatkan kapasitas serta produktivitas mitra usaha, termasuk sektor usaha mikro, kecil, dan menengah.

PKM Karsa Cipta (PKM-KC), memfasilitasi mahasiswa menciptakan rancangan, prototipe, atau karya baru yang memiliki fungsi dan potensi pemanfaatan.

PKM Karya Inovatif (PKM-KI), berorientasi pada pengembangan produk inovatif yang dirancang agar memiliki fungsi nyata dan berpotensi dikembangkan untuk produksi lebih luas.

PKM Video Gagasan Konstruktif (PKM-VGK), mengomunikasikan gagasan dan solusi untuk menjawab persoalan pembangunan melalui media video kreatif.

PKM Gagasan Futuristik Tertulis (PKM-GFT), memberikan ruang bagi mahasiswa untuk merumuskan gagasan visioner dalam menghadapi tantangan masa depan.

Keberagaman bidang tersebut memperlihatkan bahwa kreativitas mahasiswa tidak terbatas pada penelitian laboratorium.

Inovasi juga dapat hadir dalam bentuk solusi sosial, pengembangan usaha, teknologi terapan, pengabdian masyarakat, hingga gagasan yang menawarkan arah baru bagi pembangunan Indonesia.

Melalui penyelenggaraan PIMNAS ke-39, Kemdiktisaintek berharap semakin banyak mahasiswa yang terdorong untuk menghasilkan karya orisinal, mengembangkan budaya riset, serta menjunjung tinggi etika akademik.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.