Jateng

Tapai Ketan Kuningan: Dari Penganan Hari Raya Hingga Primadona Wisata Kuliner, Rahasia dan Manfaatnya Bikin Ketagihan!

Theo Adi Pratama | 21 September 2025, 11:48 WIB
Tapai Ketan Kuningan: Dari Penganan Hari Raya Hingga Primadona Wisata Kuliner, Rahasia dan Manfaatnya Bikin Ketagihan!

JATENG.AKURAT.CO, Indonesia kaya akan kuliner tradisional yang unik, dan salah satunya adalah tapai.

Penganan hasil fermentasi ini punya beragam rupa, tergantung bahan dasar dan cara pembuatannya.

Di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, ada satu kudapan khas yang tak hanya lezat, tapi juga menyimpan cerita sejarah dan manfaat kesehatan yang tak terduga: Tapai Ketan Kuningan.

Sejarah di Balik Kelezatan yang Melegenda

Tapai Ketan Kuningan bukanlah sekadar camilan biasa. Makanan ini memiliki akar sejarah yang kuat di Desa Cibereum, Kecamatan Cibingbin, Kuningan.

Dahulu, tapai ketan ini sakral dan hanya disajikan pada momen-momen istimewa, khususnya saat hari-hari besar agama Islam seperti menjelang Idul Fitri.

Kehadirannya melengkapi hidangan Lebaran, menjadi simbol kehangatan dan kebersamaan keluarga.

Namun, seiring berjalannya waktu dan popularitasnya yang semakin meluas, tapai ketan tidak lagi terbatas pada acara keagamaan.

Rasanya yang khas, perpaduan sempurna antara rasa asam dan manis, membuat banyak orang jatuh cinta.

Kini, kudapan ini menjadi kuliner khas Kuningan yang bisa ditemukan dengan mudah di berbagai sudut kota.

Penjualnya berjejer di pinggir jalan, menawarkan bungkusan-bungkusan daun jambu air yang menggoda.

Di Balik Tampilan Sederhana: Proses Fermentasi yang Rumit

Meskipun terlihat sederhana, proses pembuatan Tapai Ketan Kuningan ternyata melewati berbagai tahap yang cukup rumit.

Bahan utamanya adalah beras ketan putih yang diolah bersama dengan ragi tapai.

Setelah dicampur, adonan ketan ini dibungkus dengan hati-hati menggunakan daun jambu air.

Pembungkus alami ini tidak hanya memberikan aroma yang khas, tetapi juga berperan penting dalam proses fermentasi.

Selain daun jambu air, tapai ketan ini juga diberi pewarna alami yang berasal dari daun katuk.

Pewarna ini memberikan sentuhan warna kehijauan yang cantik dan alami, membuat tampilan tapai ketan semakin menarik.

Proses yang paling krusial adalah fermentasi. Fermentasi beras ketan hingga menjadi tapai bisa memakan waktu yang cukup lama, antara tiga hari hingga satu minggu, tergantung pada kondisi dan suhu lingkungan.

Untuk memastikan proses fermentasi berjalan sempurna, masyarakat Kuningan biasanya menggunakan ember warna hitam dan kedap udara sebagai media.

Kondisi yang gelap dan tanpa sirkulasi udara ini diyakini ideal untuk pertumbuhan mikroorganisme yang mengubah pati menjadi gula dan alkohol, sehingga menghasilkan rasa dan tekstur tapai yang sempurna.

Lebih dari Sekadar Lezat: Manfaat Kesehatan yang Tersembunyi

Selain rasanya yang nikmat, tapai ketan juga menyimpan segudang manfaat kesehatan yang sering tidak disadari.

Proses fermentasi yang dilaluinya dipercaya mampu meningkatkan kandungan Vitamin B1.

Vitamin B1 atau tiamin ini sangat baik untuk sistem saraf, sel otot, dan sistem pencernaan pada tubuh manusia.

Jadi, selain memanjakan lidah, menyantap tapai ketan juga turut menjaga kesehatan.

Tak hanya itu, secara turun-temurun, tapai ketan juga dipercaya sebagai obat alami.

Masyarakat meyakini tapai ketan bisa menjadi obat untuk diabetes dan pegal-pegal.

Bahkan, kandungan nutrisinya juga diklaim mampu menjaga kesehatan kulit.

Jadi, siapa sangka, di balik bungkusan daun yang sederhana, Tapai Ketan Kuningan menyimpan sejarah panjang, proses pembuatan yang teliti, dan manfaat kesehatan yang luar biasa.

Kudapan ini bukan hanya sekadar makanan, melainkan warisan budaya yang terus hidup dan dinikmati dari generasi ke generasi.

Saat Anda berkunjung ke Kuningan, jangan lewatkan kesempatan untuk mencicipi kelezatan tapai ketan ini!

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.