Bikin Nagih! Ini Dia Kisah di Balik Kuliner Keripik Sanjai, Oleh-Oleh Wajib dari Bukittinggi

JATENG.AKURAT.CO, Jika kamu ditanya soal camilan khas dari Padang atau Bukittinggi, pasti yang langsung terlintas adalah Keripik Sanjai!
Keripik singkong balado berwarna merah menyala dengan rasa pedas manis yang bikin nagih ini memang sudah jadi ikon.
Tapi, tahukah kamu, keripik Sanjai yang melegenda ini punya kisah asal-usul yang sangat unik?
Berawal dari Kampung Sanjai, Lahir dari Tiga Ibu Hebat
Nama "Sanjai" bukanlah nama merek, melainkan nama sebuah kampung di utara Kota Bukittinggi, tepatnya di Desa Manggis.
Di kampung inilah, singkong tumbuh subur dengan kualitas istimewa, dikenal punya tekstur lebih renyah ketika diolah.
Sekitar tahun 1923, tiga orang ibu bernama Amai Malan, Amai Seram, dan Amai Terimalah merasa bosan dengan olahan singkong yang hanya direbus.
Mereka pun berinovasi membuat keripik singkong. Awalnya, mereka menjajakan keripik ini di warung-warung kecil.
Tak disangka, keripik buatannya laris manis hingga para pedagang dari pasar berdatangan langsung ke rumah mereka di Sanjai.
Keripik ini kemudian mulai ramai di Los Maninjau, Pasar Atas, Bukittinggi.
Para pembeli yang mencari keripik itu sering bertanya, "Karupuak (kerupuk) dari Sanjai ini, ya?".
Dari situlah nama "karupuak Sanjai" atau kini dikenal sebagai Keripik Sanjai mulai terkenal.
Popularitasnya yang meroket membuat seluruh penduduk Kampung Sanjai ikut memproduksi keripik ini, hingga Sanjai menjadi sentra industri rumahan keripik singkong.
Bahkan, pemerintah setempat menjadikan daerah ini sebagai Kampung Wisata Manggis Ganting sebagai bentuk apresiasi.
Tiga Varian Rasa yang Menggoda
Banyak yang mengira Keripik Sanjai hanya ada rasa balado. Padahal, ada tiga varian utamanya:
- Original: Keripik singkong ini berwarna putih, hanya digoreng dan diberi sedikit garam.
- Gurih: Varian ini memiliki warna lebih kuning karena diberi bumbu bawang putih, kunyit, dan garam sebelum digoreng.
- Balado: Inilah primadona Keripik Sanjai. Keripik yang sudah digoreng dibalut dengan saus pedas manis dari campuran cabai, bawang merah, bawang putih, dan gula.
Meskipun kini proses produksinya semakin modern dengan mesin, beberapa perajin seperti Ni Yus (Yusrida), masih mempertahankan cara tradisional.
Ia bahkan masih menggunakan kayu bakar untuk menggoreng keripiknya demi menjaga kualitas dan rasa otentik yang khas.
Keripik Sanjai kini menjadi camilan wajib yang selalu ada di setiap momen santai dan pertemuan.
Eksistensinya tak lekang oleh waktu, membuktikan bahwa inovasi sederhana yang lahir dari sebuah kampung bisa menjadi warisan kuliner yang abadi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










