Jateng

Sejarah Perjalanan Jembatan Rajamandala: Awal Sebuah Jalur Legendaris yang Sempat Menjadi Jalan Tol

Theo Adi Pratama | 21 Februari 2024, 12:00 WIB
Sejarah Perjalanan Jembatan Rajamandala: Awal Sebuah Jalur Legendaris yang Sempat Menjadi Jalan Tol

AKURAT.CO Sejarah, Jembatan Rajamandala, atau dikenal juga sebagai Sasak Rajamandala, bukan sekadar sebuah jembatan.

Ia adalah ikon yang menghubungkan Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Bandung Barat di Jawa Barat, Indonesia.

Berdirinya jembatan ini menandai kehadiran jalan tol pertama di Indonesia, yang menjadi simbol kemajuan infrastruktur pada masanya.

Baca Juga: Menelusuri Jejak Sejarah yang Ada di Pabrik Gula Pangka: Memori Salah Satu Pabrik Tertua di Indonesia

Sejarah Panjang Jembatan

Dibangun pada tahun 1972, Jembatan Rajamandala memperoleh pengesahan dari Presiden Soeharto pada tahun 1979 dan mulai beroperasi pada tahun yang sama.

Sebelumnya, jembatan ini menjadi pengganti Jembatan Citarum Lama sebagai jalur utama antara Cianjur dan Bandung Barat.

Pada awal beroperasinya, kendaraan yang melintasi jembatan ini dikenai tarif.

Meskipun bukan merupakan jalur tol publik, kendaraan dikenai biaya tol sebesar Rp50 untuk sepeda motor dan Rp100 untuk mobil.

Tarif tersebut kemudian naik menjadi Rp100 untuk sepeda motor dan Rp500 untuk mobil pada era 90-an.

Baca Juga: Mengenal Sejarah Singkat dan Perjalanan Kupat Bongkok Tegal: Jejak Panjang Sebuah Kuliner Legendaris

Sistem Tol Pendek Pertama di Indonesia

Jembatan Rajamandala memiliki pintu tol di kawasan Rajamandala, dengan delapan pintu tol yang terdiri dari enam pintu untuk mobil dan dua pintu untuk sepeda motor.

Pengendara yang tidak membayar tol akan dihentikan oleh petugas di pintu penjagaan sekitar 100 meter dari pintu tol.

Meskipun panjang jembatan ini hanya sekitar 200 meter, tol tersebut memiliki panjang sekitar 2 kilometer dari pos PJR hingga ke pintu tol, menjadikannya tol terpendek di Indonesia.

Namun, pada tahun 2003, statusnya berubah setelah ditetapkan oleh Keppres Nomor 37 Tahun 2003 sebagai jalan umum, mengakhiri masa-masa menjadi jalan tol.

Transformasi Menjadi Wisata Ekstrem

Setelah berhenti berfungsi sebagai jalan tol, Jembatan Rajamandala tidak kehilangan daya tariknya.

Kini, tempat ini telah menjadi destinasi wisata ekstrem yang menawarkan pengalaman bungee jumping atau lompat tali dengan ketinggian 30 meter.

Baca Juga: Sejarah Perjalanan Gunung Mahameru: Mitos Pindahnya Himalaya ke Jawa, dan Kisah Kosmologi dalam Mitologi Jawa Kuno

Bagi para petualang yang mencoba bungee jumping di sini, mereka akan disuguhi pemandangan indah pegunungan dan Sungai Citarum yang memikat.

Wisatawan dari berbagai penjuru telah mencoba wahana ekstrem ini dan menikmati sensasi yang ditawarkan.

Jembatan Rajamandala, dengan sejarahnya yang panjang dan transformasinya menjadi wisata ekstrem, terus menjadi bagian dari perjalanan dan cerita bagi masyarakat lokal dan pengunjung dari luar.

Ia tidak hanya menjadi penghubung fisik antara dua wilayah, tetapi juga simbol perubahan dan adaptasi dari waktu ke waktu.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.