Jateng

Sejarah Masjid Darussalam Temanggung: Kesejukan Spiritual dan Kebesaran Arsitektur

Theo Adi Pratama | 6 Februari 2024, 17:00 WIB
Sejarah Masjid Darussalam Temanggung: Kesejukan Spiritual dan Kebesaran Arsitektur

AKURAT.CO Sejarah, Masjid Darussalam, yang lebih dikenal sebagai Masjid Agung Temanggung, memancarkan keanggunan arsitektur dan kesejukan spiritualnya di tengah-tengah kota Adipura Kencana, Lereng Gunung Sumbing, Temanggung.

Meskipun secara sepintas terlihat modern, masjid ini mempertahankan nilai-nilai sejarah dan budaya yang kental.

Baca Juga: Sejarah Masjid Tua Jerrae Allakuang: Cagar Budaya Berusia 414 Tahun di Sulawesi Selatan

Sejarah dan Pendiri Masjid

Berdasarkan catatan Pemda Temanggung, Masjid Darussalam Temanggung didirikan pada tahun 1835 oleh Raden Temanggung Joyonegoro, Bupati Temanggung pertama.

Pembangunan masjid dilakukan setahun setelah ibu kota kadipaten dipindahkan dari Parakan ke Temanggung pada tahun 1834.

Seiring waktu, masjid ini menjadi pusat kegiatan keagamaan dan kesejarahan di wilayah tersebut.

Makam Joyonegoro dan Tradisi Keislaman

Di sebelah barat masjid, terdapat makam R.T. Joyonegoro dan keluarganya, yang menjadi tempat ziarah masyarakat setempat.

Setiap tanggal 10 November, masjid menjadi pusat peringatan hari jadi kota Temanggung dengan nuansa keislaman yang kental.

Penetapan tanggal ini juga mengaitkan masjid dengan peranannya sebagai tempat musyawarah dan strategi pasukan bambu runcing pada masa perjuangan.

Baca Juga: Perjalanan Masjid Tua Katangka: Pusaka Sejarah dan Kecantikan Arsitektur di Sulawesi Selatan

Renovasi dan Pemeliharaan Keaslian

Meskipun telah mengalami beberapa kali renovasi, Masjid Darussalam tetap mempertahankan keaslian dan kekunoannya.

Bangunan ini tampak megah dan indah, dengan empat sokoguru tinggi delapan meter yang terbuat dari kayu jati pilihan.

Departemen Pekerjaan Umum, yang ditugaskan oleh Pemda Temanggung, senantiasa memperbaiki dan merawat struktur bangunan tanpa mengubah esensi dan keberartiannya.

Kegiatan dan Jamaah yang Berkah

Masjid Darussalam tidak hanya menjadi simbol kebesaran fisik, tetapi juga makmur dalam kegiatan dan jumlah jamaahnya.

Selain berfungsi sebagai tempat ibadah, masjid ini menyelenggarakan Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPA) dan jadwal pengajian yang padat.

Lembaga Pemasyarakatan (LP) Temanggung juga sering memanfaatkan masjid untuk pembinaan kerohanian narapidana.

Baca Juga: Sejarah dan Perjalanan Masjid Jami Tua Palopo: Saksi Abad Penyebaran Islam di Sulawesi Selatan

Pusaka Bersejarah: Beduk Kiai Bagelan

Keunikan Masjid Darussalam juga tercermin dalam Beduk Kiai Bagelan, sebuah beduk raksasa yang dibuat dari bongkot pohon jati bang.

Beduk ini menjadi saksi bisu sejarah dan telah diangkat ke tingkat nasional, bahkan ditabuh oleh Bapak Presiden Soeharto pada acara Takbir Nasional tahun 1997.

Masjid Darussalam Temanggung tetap menjadi penanda kesejukan spiritual dan kebesaran arsitektur, menjadi tempat yang menginspirasi dan mendalamkan nilai-nilai keislaman bagi warga Temanggung dan sekitarnya.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.