Jateng

Perjalanan dan Perkembangan Masjid Darul Muttaqin: Jejak Sejarah dan Kebesaran di Purworejo

Theo Adi Pratama | 6 Februari 2024, 16:00 WIB
Perjalanan dan Perkembangan Masjid Darul Muttaqin: Jejak Sejarah dan Kebesaran di Purworejo

AKURAT.CO Sejarah, Purworejo, sebuah kota yang kaya akan sejarah dan warisan budaya, menjadi tuan rumah bagi Masjid Darul Muttaqin, sebuah keajaiban arsitektur dan keagamaan yang terletak di depan alun-alun kota.

Masjid ini tidak hanya memancarkan keindahan seni ukir dan arsitektur klasik, tetapi juga menyimpan sejarah yang memukau.

Baca Juga: Sejarah Masjid Gholo atau Masjid Ki Ageng Pandanaran: Keindahan Masjid Bersejarah di Puncak Jabalakat

Sejarah dan Pendiri Masjid

Menurut prasasti di atas pintu utama, Masjid Darul Muttaqin didirikan pada tanggal 2 Besar (Dzulhijjah) 1762 Jawa Tahun Alip atau 16 April 1834 M.

Bupati pertama Purworejo, Kanjeng Raden Adipati Cokronagoro, memerintahkan pembangunan masjid ini, dengan tanah wakaf dari Kiai Haji Baedhowi yang memiliki garis keturunan dari Sunan Giri.

Arsitektur yang Mengagumkan

Masjid Agung ini mengambil pola dari Masjid Agung Keraton Surakarta, mencerminkan hubungan erat antara Kanjeng Raden Adipati Cokronagoro I dan Raden Ngabehi Sodiwiryo atau Reksodiwiryo, abdi dalem Mantri Gladag Keraton Surakarta.

Arsitektur induk bangunan mengadopsi Tajuk Lawakan Lambang Teplok, sementara serambi masjid bertipe limasan trajumas.

Baca Juga: Mengenal Lebih Dekat Masjid Sunan Kalijaga di Kadilangu: Saksi Perjalanan Sejarah Islam di Jawa Tengah

Seni Ukir dan Detail Indah

Masuk ke dalam bangunan induk masjid, mata akan disuguhi mihrab dengan lengkungan indah yang bergambar Sangkalan Memet.

Sangkalan ini berbentuk ranting pohon srikaya dengan daun dan buahnya, membawa pesan "Pang Pinajang Srikaya Sagodhonge."

Tiang Agung atau sokoguru, terbuat dari kayu jati dari Dukuh Pendowo, memberikan kesan megah dan klasik.

Maksuroh dan Keunikan Lainnya

Di dalam bangunan induk, terdapat maksuroh, tempat shalat Jumat khusus untuk Bupati Purworejo tempo dulu dan mimbar khotbah bagi imam.

Bentuknya indah dengan ukiran bunga-bungaan dan bentuk geometris lainnya.

Prasasti dua kalimat syahadat terukir di plengkung depan, menambah keindahan masjid ini.

Baca Juga: Mengenal Lebih Dekat Masjid Mantingan: Pusaka Sejarah dan Kearifan Lokal di Jepara

Beduk Raksasa: Beduk Kiai Bagelan

Masjid Darul Muttaqin juga dikenal karena Beduk Kiai Bagelan, beduk raksasa yang dibuat dari bongkot pohon jati bang.

Beduk ini memiliki sejarah yang mencengangkan, dibuat atas perintah KRA Cokronagoro I pada tahun 1834-1840 M.

Beduk ini tidak hanya memukau dengan ukuran raksasanya, tetapi juga dengan bahan baku dari kayu jati bercabang lima yang disebut Jati Pendowo.

Pengangkatan Beduk yang Sulit

Proses pengangkatan Beduk Kiai Bagelan menjadi legenda tersendiri.

Selesai dibuat, pengangkatan beduk menjadi tantangan. Raden Tumenggung Prawironagoro, adik KRA Cokronagoro I yang memimpin pembuatan beduk, kesulitan mengangkatnya.

Akhirnya, Kiai Muhammad Irsyad, menantu KRA Cokronagoro I, yang memiliki keilmuan dan kesaktian, dipilih untuk mengangkat beduk raksasa ini.

Beduk Kiai Bagelan bahkan ditabuh oleh Bapak Presiden Soeharto pada acara Takbir Nasional di malam Idul Fitri tahun 1997.

Baca Juga: Mengungkap Keindahan Arsitektur dan Sejarah Perjalanan Klenteng Seng Hong Bio di Singaraja, Bali

Keberkahan dan Kesejahteraan

Masjid Darul Muttaqin tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga saksi bisu berbagai peristiwa bersejarah dan simbol kebesaran.

Kehadirannya di tengah kota Purworejo menciptakan kesejukan spiritual di tengah hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari.

Sebagai tempat ibadah yang sarat dengan sejarah dan nilai-nilai keagamaan, Masjid Darul Muttaqin terus menjadi penanda keberkahan dan kebesaran di Purworejo.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.