Jateng

Sejarah Masjid Gholo atau Masjid Ki Ageng Pandanaran: Keindahan Masjid Bersejarah di Puncak Jabalakat

Theo Adi Pratama | 4 Februari 2024, 11:00 WIB
Sejarah Masjid Gholo atau Masjid Ki Ageng Pandanaran: Keindahan Masjid Bersejarah di Puncak Jabalakat

AKURAT.CO Sejarah, Masjid Gholo, yang dikenal juga sebagai Masjid Ki Ageng Pandanaran, merupakan sebuah keajaiban bersejarah di atas perbukitan tandus di Desa Paseban, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.

Meskipun berdiri di atas tanah yang tandus, masjid ini menjadi saksi perkembangan Islam dan mempertahankan keasliannya sejak abad ke-16.

Baca Juga: Sejarah Masjid Tua Jerrae Allakuang: Cagar Budaya Berusia 414 Tahun di Sulawesi Selatan

Legenda Nama "Gholo"

Menurut cerita turun-temurun, awalnya masjid ini didirikan di puncak Jabalakat (Gunung Jabalakat) untuk menghindari pengusiran dan gangguan.

Namun, masyarakat sekitar kesulitan menyebutkan kata "golok" (yang dilemparkan dan menancap di tanah). Akhirnya, mereka menyebutnya dengan nama "gholo".

Mesjid ini, yang terletak di Desa Paseban, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, menjadi tempat ibadah dan pusat aktivitas keagamaan yang penting.

Keberlanjutan dan Kekokohan Bangunan

Meskipun usianya sudah mencapai abad ke-16, kekokohan bangunan Masjid Gholo tetap terlihat jelas.

Dengan ukuran 8 x 8 meter, masjid ini telah mengalami dua kali renovasi.

Renovasi pertama dilakukan pada tahun 1980 oleh Departemen Agama dan Dinas Purbakala Depdikbud.

Meskipun terletak 300 meter dari makam Ki Ageng Pandanaran, persis di tepi jalan dari Klaten ke Bayat, ketinggiannya sekitar 20 meter dari jalan.

Baca Juga: Perjalanan Masjid Tua Katangka: Pusaka Sejarah dan Kecantikan Arsitektur di Sulawesi Selatan

Jejak Sejarah dan Peninggalan

Masjid Gholo, selain dikenal sebagai tempat ibadah, juga diyakini masih dihuni oleh jin bernama Muhammad Harun menurut cerita masyarakat setempat.

Beberapa peninggalan sejarah yang masih asli, seperti beduk dan gentong untuk tempat air wudhu, menjadi bukti keaslian masjid ini.

Keberadaan jin Muhammad Harun masih menjadi kepercayaan dan cerita menarik bagi masyarakat sekitar.

Pertemuan Wali Songo dan Keajaiban Sunan Kalijaga

Konon, Masjid Gholo menjadi saksi sejarah pertemuan Wali Songo di Masjid Agung Demak.

Saat itu, Sunan Kalijaga memberikan usul untuk menyetujui Bupati Semarang sebagai pengganti Syekh Siti Jenar.

Meskipun mendapat kegaduhan, usul tersebut diterima dengan syarat pendekatan dari Sunan Kalijaga.

Ki Ageng Pandanaran, yang kemudian diangkat sebagai mubalig, menjadi figur kunci dalam kejadian tersebut.

Baca Juga: Sejarah dan Perjalanan Masjid Jami Tua Palopo: Saksi Abad Penyebaran Islam di Sulawesi Selatan

Legenda Sunan Tembayat dan Penyebaran Islam

Ki Ageng Pandanaran, yang dikenal sebagai Sunan Tembayat, menjadi figur rohani bagi kaum bangsawan.

Ia mematuhi syarat-syarat Islam dan menjadi anggota Wali Songo.

Sunan Tembayat meninggalkan jabatan dan harta benda untuk menyebarkan Islam di Desa Tembayat, yang awalnya merupakan daerah miskin.

Kehidupannya mempengaruhi banyak santri, termasuk Bengawan Wasibango yang memainkan peran penting dalam syiar Islam.

Masjid Gholo atau Masjid Ki Ageng Pandanaran tidak hanya sebuah bangunan bersejarah.

Ia adalah saksi hidup perkembangan Islam dan keajaiban sejarah di puncak Jabalakat.

Keberadaannya yang tetap kokoh dan penuh dengan legenda membuatnya menjadi bagian tak terpisahkan dari warisan budaya dan spiritual di Jawa Tengah.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.