Perjalanan Masjid Tua Katangka: Pusaka Sejarah dan Kecantikan Arsitektur di Sulawesi Selatan

AKURAT.CO Sejarah, Masjid Tua Katangka, yang menjulang kokoh di Kelurahan Katangka, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, tidak hanya menjadi tempat ibadah harian bagi warga setempat, melainkan juga sebuah saksi bisu perkembangan Islam di Kerajaan Gowa.
Dikelilingi oleh makam-makam Raja Gowa, masjid ini mencerminkan kebesaran dan kearifan sejarah yang melekat padanya.
Baca Juga: Eksplorasi Sejarah serta Keunikan Masjid Al Irsyad: Perpaduan Desain Megah dan Makna Filosofis
1. Sejarah Masjid Tua Katangka
Masjid Tua Katangka, awalnya dikenal sebagai Masjid Al Hilal Katangka, dibangun pada tahun 1603 Masehi oleh Raja Gowa XIV I Mangngarangi Daeng Manrabbia.
Nama Katangka diambil dari sejenis pohon yang memiliki makna keramat pada masa pemerintahan Raja I Tumanurung.
Kawasan ini dipilih karena dianggap suci dan bebas dari praktik-praktik maksiat.
2. Peran Masjid Tua Katangka dalam Sejarah Islam di Luwu
Masjid Tua Katangka juga melibatkan dirinya dalam sejarah perpindahan pusat Kerajaan Luwu dari Pattimang Malangke ke Palopo.
Raja Gowa XIV, I Mangngerangi Daeng Manrabbia, memerintahkan pembangunan masjid ini setelah memeluk agama Islam pada sekitar tahun 1603 M.
Keberadaan masjid ini tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat penyebaran Islam di Luwu.
Baca Juga: Eksplorasi Keindahan Sejarah dan Keagungan Arsitektur Masjid Agung An Nur di Pekanbaru
3. Arsitektur Masjid Tua Katangka
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, arsitektur Masjid Tua Katangka menggambarkan pengaruh budaya lokal dan asing.
Beberapa ciri khas arsitekturnya mencakup:
Gerbang Utama
- Warna putih Nieuwe Bouwen sebagai ciri khas Kolonial Belanda.
- Mengadopsi ornamen gawel dari Kolonial Belanda dengan variasi pediment.
Pilar Bangunan
- Pilar besar dengan ornamen order doric klasik Yunani.
- Bahan dari Kolonial Belanda.
Atap
- Mustaka atau keramik guci berasal dari Cina.
- Material atap genteng didatangkan khusus dari Belanda.
- Bentuk atap menyerupai atap Joglo dengan pengaruh Cina, Kolonial Belanda, dan Jawa.
Serambi Masjid
- Mengadopsi kebudayaan Jawa dengan fungsi sebagai ruang peralihan untuk wudhu.
Mimbar
- Bentuk menyerupai atap klenteng dengan ornamen Cina dan tulisan Arab berbahasa Makassar.
Jendela
- Mengadopsi gaya arsitektur Kolonial Belanda dengan jendela lebar.
- Mirip dengan jendela di Benteng Fort Rotterdam.
Dinding
- Warna putih Nieuwe Bouwen sebagai ciri khas arsitektur Kolonial Belanda.
- Dinding tebal sekitar 120 cm, mencerminkan penggunaan masjid sebagai benteng pertahanan.
Baca Juga: Masjid Raya Sumatera Barat: Jejak Sejarah, Kebesaran Arsitektur, hingga Perjalanan Saat Ini
4. Nilai-Nilai Filosofi Bangunan Masjid Tua Katangka
Masjid Tua Katangka tidak hanya menghadirkan keindahan arsitektur, tetapi juga menyimpan nilai-nilai filosofis yang tinggi dalam setiap elemennya.
Beberapa nilai filosofis yang terkandung di dalamnya meliputi:
- Mustaka sebagai simbol kesatuan Tuhan.
- Atap bertingkat dua sebagai simbol dua kalimat syahadat.
- Soko guru yang berjumlah empat sebagai representasi empat sahabat Nabi.
- Hiasan daun pakis sebagai simbol sumber kehidupan.
- Hiasan kaligrafi sebagai pengingat Tuhan Yang Maha Esa.
- Pintu masjid yang berjumlah tiga sebagai simbol angka ganjil yang sakral dalam Islam.
- Enam jendela pada dinding utama sebagai representasi enam rukun iman dalam Islam.
5. Masjid Tua Katangka: Pusaka Sejarah dan Wisata Religi
Dengan statusnya sebagai cagar budaya pemerintah Sulawesi Selatan dan benda cagar budaya nasional, Masjid Tua Katangka bukan hanya tempat ibadah, melainkan juga destinasi wisata religi yang sering dikunjungi oleh wisatawan dari berbagai daerah.
Keunikan arsitektur dan nilai-nilai sejarah serta filosofi yang terkandung di dalamnya menjadikan masjid ini sebagai warisan berharga bagi masyarakat dan bangsa Indonesia.
Masjid Tua Katangka tetap menjaga keasliannya sepanjang waktu, menjadi saksi bisu perjalanan panjang Islam di Sulawesi Selatan.
Dengan nilai-nilai yang terus dijunjung tinggi, masjid ini bukan hanya menjadi tempat ibadah, melainkan juga sebuah pintu gerbang menuju masa lalu yang kaya akan sejarah dan kearifan lokal.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1UPDATE Skor LIVE SCORE! Indonesia vs Singapura, Cek Hasil Babak Pertama Kedua Full Time di FIFA ASEAN Cup 2026, Malam Ini!
- 2Vietnam vs Filipina LIVE STREAMING GRATIS di Mana? Cek Jadwal dan Siaran Langsung TV FIFA ASEAN Cup 2026
- 3Prediksi SKOR Vietnam vs Filipina FIFA ASEAN Cup 2026: Head to HEAD - Susunan Pemain, Menang Siapa?
- 4Italia vs Belgia Live di Mana? Cek Jadwal dan Siaran Langsung TV Nations League 2026
- 5RedMagic 12 Pro Series Resmi Meluncur Oktober 2026, Ini Bocoran Spesifikasinya
- 6PT Pandawa LED Indonesia Buka Lowongan Admin Support di Semarang, Fresh Graduate Bisa Melamar!
- 7Prediksi Skor Turki vs Prancis: Era Baru Zidane Diuji, Tuan Rumah Incar Kejutan
- 8Pemuda dan Mahasiswa Jateng Didorong Perkuat Gerakan Antikorupsi, Alumni Kelas Antikorupsi Mulai Jalankan Rencana Aksi
- 9Hari Ini Malam Jumat Apa? Kamis 24 September 2026 Apakah Malam Jumat Kliwon? Cek Amalan Lengkap Malam Jumat
- 10UPDATE! Ranking FIFA Timnas Indonesia Naik 2 Peringkat Usai Bungkam Singapura 2-0, Dapat Tambahan 4,12 Poin









