Jateng

Menapaki Sejarah dan Kebudayaan: Perjalanan Klenteng Hoo Tong Bio di Banyuwangi

Theo Adi Pratama | 2 Februari 2024, 13:00 WIB
Menapaki Sejarah dan Kebudayaan: Perjalanan Klenteng Hoo Tong Bio di Banyuwangi

AKURAT.CO Sejarah, Jika Anda berada di Banyuwangi dan menginginkan pengalaman wisata yang memadukan sejarah dan edukasi, Klenteng Hoo Tong Bio adalah destinasi yang tepat.

Sebagai salah satu cagar budaya yang berdiri sejak tahun 1784, tempat ini menjadi tempat ibadah bagi pemeluk ajaran Konghucu dan sebuah peninggalan berharga di Jawa Timur dan Bali.

Baca Juga: Sejarah Klenteng Kim Tek Le (Jin De Yuan): Keindahan dan Kebijaksanaan yang Abadi di Tengah Jakarta

Sejarah Klenteng Hoo Tong Bio

Klenteng ini memiliki sejarah panjang yang dimulai sejak tahun 1784, dan hingga hari ini, bangunan kokoh ini masih berdiri dengan megahnya.

Dengan dominasi warna merah yang mencolok, Klenteng Hoo Tong Bio menonjolkan keunikan arsitektur khas Tionghoa yang menarik perhatian pengunjung.

Dengan luas bangunan mencapai 400 meter persegi dan tinggi mencapai 9 meter, Klenteng Hoo Tong Bio mampu menampung hingga 500 orang.

Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) ini menjadi saksi bisu perjalanan etnis Tionghoa di Banyuwangi.

Pembangunan Klenteng dan Etnis Tionghoa di Banyuwangi

Pembangunan klenteng ini berakar pada migrasi etnis Tionghoa ke wilayah Banyuwangi sekitar tahun 1740.

Pada awalnya, pemukiman etnis Tionghoa terpusat di dua wilayah, yaitu Kelurahan Tukangkayu (Pecinan Kulon) dan Kelurahan Karangrejo (Pecinan Wetan).

Bangunan Klenteng Hoo Tong Bio kemudian didirikan di Kelurahan Karangrejo sebagai bentuk penghormatan kepada Tan Hu Cin Jin.

Tan Hu Cin Jin, seorang kapten, dianggap sebagai pahlawan yang menyelamatkan etnis Tionghoa dari kolonialisme.

Ia bahkan berkontribusi sebagai arsitek di Kerajaan Blambangan dan dianggap moksa oleh pengikutnya.

Baca Juga: Sejarah Kelenteng Sam Poo Kong: Jejak Cheng Ho dan Kearifan Tionghoa di Semarang

Perpindahan dan Perkembangan Klenteng

Awalnya, klenteng berada di Lateng, Rogojampi. Namun, setelah mengalami perampasan tanah oleh VOC, klenteng dipindahkan ke Banyuwangi.

Klenteng Hoo Tong Bio kemudian menjadi klenteng induk bagi beberapa klenteng lainnya, termasuk yang berada di Probolinggo, Besuki, Tabanan, Jembrana, Kuta, hingga Lombok.

Pada tahun 1960-an, etnis Tionghoa mengalami diskriminasi, dan nama klenteng harus diganti menjadi Nara Raksita.

Selama masa Orde Baru, aktivitas peribadatan di klenteng dibatasi, tetapi setelah itu, larangan tersebut dicabut, dan klenteng mendapat kembali namanya, Hoo Tong Bio.

Daya Tarik Klenteng Hoo Tong Bio Banyuwangi

Wisatawan yang berkunjung ke Klenteng Hoo Tong Bio dapat menikmati berbagai daya tarik, antara lain:

1. Gaya Arsitektur Tradisional Khas Tionghoa

Gaya arsitektur klenteng yang khas Tionghoa dengan warna merah yang mencolok menarik perhatian.

Pagoda, lonceng raksasa, dan altar seperti Tian, Cim Kong Sin, menciptakan suasana sakral dan memperkaya pengalaman wisatawan.

Baca Juga: Mengenal Klenteng Tien Kok Sie, Tanda Eksistensi Etnis Tionghoa di Kota Solo

2. Lokasi Mudah Diakses

Klenteng ini terletak di tengah perkotaan, memudahkan akses dengan kendaraan pribadi, transportasi umum, atau layanan online.

Lokasinya yang tidak jauh dari Pantai Pulau Santen juga memungkinkan wisatawan untuk menjelajahi lebih banyak destinasi.

3. Perayaan Meriah Saat Imlek

Ketika perayaan Imlek tiba, Klenteng Hoo Tong Bio menjadi pusat perayaan yang meriah.

Lampion, barongsai, liang-liong, dan pertunjukan lainnya memenuhi klenteng, menciptakan pengalaman Imlek yang tak terlupakan bagi pengunjung.

Baca Juga: Persiapkan Diri, Ini Tanggal Libur dan Cuti Bersama Tahun Baru Imlek 2024 serta Jadwal Libur Nasional dan Cuti Bersama Sepanjang Tahun 2024

Menyelami Kekayaan Sejarah dan Budaya

Klenteng Hoo Tong Bio Banyuwangi bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga saksi hidup sejarah dan keberagaman budaya.

Wisatawan yang mengunjungi klenteng ini dapat merasakan nuansa religius, menikmati keindahan arsitektur, dan menyatu dengan meriahnya perayaan tradisional.

Sebuah pengalaman wisata yang memadukan keindahan dan makna mendalam.***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.