Jateng

Sejarah Kelenteng Sam Poo Kong: Jejak Cheng Ho dan Kearifan Tionghoa di Semarang

Theo Adi Pratama | 1 Februari 2024, 14:00 WIB
Sejarah Kelenteng Sam Poo Kong: Jejak Cheng Ho dan Kearifan Tionghoa di Semarang

AKURAT.CO Sejarah, Kawasan wisata religi, Kelenteng Agung Sam Poo Kong, yang terletak di Kelurahan Bongsari, Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang, bukan hanya menjadi destinasi spiritual tetapi juga sebuah peninggalan sejarah yang kaya nilai dan kebijaksanaan Tionghoa.

Dengan arsitektur khas Tiongkok yang memukau, setiap sudut bangunan memancarkan daya tarik yang memikat pengunjung.

Namun, keunikan Sam Poo Kong tidak hanya terletak pada keindahan arsitekturnya.

Baca Juga: Sejarah Kota Reog Ponorogo: Jejak Warisan Budaya Indonesia yang Mempesona

Kawasan ini memiliki sejarah panjang yang melibatkan Laksamana Cheng Ho, tokoh Tionghoa yang terkenal pada abad ke-15 Masehi.

Pada misi perdamaian dan diplomatik atas perintah Dinasti Ming pada 1405, Cheng Ho berlayar dan menyusuri Pulau Jawa, termasuk Semarang.

Kawasan Sam Poo Kong dulunya merupakan tempat istirahat bagi rombongan Cheng Ho saat berlayar.

Tidak hanya sebagai tempat beristirahat, Cheng Ho dan rombongannya juga berbagi pengetahuan tentang bercocok tanam kepada masyarakat setempat.

Baca Juga: Perjalanan Istana Maimun Medan: Jejak Sejarah yang Hidup dalam Sebuah Kebudayaan

Sebuah cerita yang menciptakan ikatan historis antara Tionghoa dan Semarang.

Menurut ahli sejarah, Cheng Ho tiba di Semarang pada abad ke-15, meskipun tanggal pasti kedatangannya tidak dapat dipastikan.

Saat berada di Gedong Batu Simongan (Sam Poo Kong), Cheng Ho dan rombongan beristirahat dan mengobati juru mudinya, Wang Jing Hong.

Wang Jing Hong, yang memilih untuk tinggal di Semarang, kemudian mendirikan patung di dalam goa peristirahatan.

Baca Juga: Perjalanan Tugu Juang Siliwangi: Sejarah yang Terbengkalai di Baleendah, Kabupaten Bandung

Dari goa itu, tempat sembahyang umat Konghucu berkembang.

Pada tahun 1704, goa tersebut runtuh, dan sebagai upaya untuk mempertahankan jejak Cheng Ho, goa dan kelenteng Sam Poo Kong dibangun ulang.

Nama "Sam Poo Kong" sendiri berasal dari nama asli Laksamana Cheng Ho, Ma San Bao, yang memiliki arti "Gua San Bao" dalam dialek Hokkian.

Proses pembangunan kelenteng tidak selalu lancar, terutama dengan kendala tanah yang terbatas dan hambatan dari tuan tanah sekitar.

Baca Juga: Masjid Kauman Semarang: Menyimpan Sejarah Tertua Kota Semarang dan Saksi Kemerdekaan

Namun, pada tahun 1704, kelenteng Sam Poo Kong mulai berdiri sebagai tempat ibadah yang mengenang perjalanan Cheng Ho di Semarang.

Pada tahun 1844, kelenteng ini mengalami pemugaran selama 12 tahun dan selesai pada tahun 1856.

Sejak saat itu, meskipun melalui beberapa fase dinamika selama masa Orde Baru, Sam Poo Kong tetap menjadi cagar budaya dan tempat ibadah yang berkembang, terutama setelah Konghucu diakui sebagai salah satu agama resmi di Indonesia.

Keterlibatan pengusaha terkemuka seperti Oei Tjie Sien, yang membantu dalam pembebasan lahan di Simongan, juga menjadi bagian dari perjalanan panjang Sam Poo Kong.

Kini, kelenteng ini memiliki lahan yang luas dan menjadi destinasi wisata religi yang terkenal di Indonesia.

Melalui proses reformasi, kawasan Sam Poo Kong semakin berkembang pesat dan menjadi daya tarik bagi wisatawan lokal dan internasional.

Kisah Sam Poo Kong bukan hanya sejarah tentang Laksamana Cheng Ho, tetapi juga tentang ketangguhan dan keberlanjutan warisan Tionghoa di Semarang. Sebuah jejak yang terus hidup dan membanggakan.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.