Jateng

Jejak Bangunan Sejarah: GPIB Beth-El Magelang, Megahnya Gedung Gereja Bersejarah di Pusat Kota

Theo Adi Pratama | 15 Januari 2024, 14:00 WIB
Jejak Bangunan Sejarah: GPIB Beth-El Magelang, Megahnya Gedung Gereja Bersejarah di Pusat Kota

AKURAT.CO Sejarah, Bangunan megah berwarna putih di pusat Kota Magelang tetap kokoh berdiri, meski usianya sudah tak lagi muda.

Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat (GPIB) Beth-El Magelang, sebuah simbol keagungan dan sejarah, menyambut pengunjung dengan halaman parkir yang tak pernah sepi dari jajaran kendaraan yang singgah sejenak.

Namun, kehadiran pengunjung yang lalu-lalang tak mengurangi kesakralan tempat ini, di mana setiap minggu umat berkumpul untuk beribadah.

Baca Juga: Peninggalan Bangunan Bersejarah: Rumah Dinas Walikota Salatiga, Jejak Sejarah yang Tetap Megah di Tengah Kota

Dua Abad Perjalanan GPIB Beth-El Magelang

Sejarah GPIB Beth-El Magelang dimulai dua abad yang lalu, tepatnya pada tahun 1817.

Gereja ini didirikan seiring dengan pembangunan alun-alun kota oleh Adipati Danuningrat I, dengan restu dari Sir Thomas Stamford Raffles, Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada masa kekuasaan Inggris.

Sejak saat itu, kawasan gereja ini tidak hanya menjadi jantung Kota Magelang, tetapi juga menjadi simbol pluralisme, karena dibangun berdampingan dengan Masjid dan Gereja Katolik di sekitarnya.

Selama dua abad, GPIB Beth-El dan sekitarnya pernah menjadi saksi pertempuran dan perebutan kekuasaan antara Hindia-Belanda.

Setelah kembali ke tangan Belanda dari hasil Traktat London, kawasan alun-alun Kota Magelang berkembang sesuai dengan misi Belanda pada masa itu, yang dikenal dengan sebutan Gold Glory Gospel (3G).

Misi ini melibatkan pembangunan tempat ibadah bagi penganut agama Kristen, dan GPIB Beth-El dipilih sebagai salah satu lokasi untuk memenuhi kebutuhan rohani komunitas Eropa yang tinggal di sekitar kawasan tersebut.

Baca Juga: Peninggalan Bangunan Bersejarah: Wisma BCA Salatiga, Keindahan dan Sejarah yang Tetap Terjaga di Pusat Kota

Simbol Persatuan dan Pluralisme

GPIB Beth-El Magelang bukan hanya sebuah tempat ibadah, tetapi juga simbol persatuan dan pluralisme.

Sejak didirikan, gereja ini menjadi tempat yang mewadahi berbagai kelompok dan komunitas.

Menyandang nama De Protestantse Kerk te Magelang sebelum diberi nama GPIB Beth El, gereja ini menunjukkan peran pentingnya dalam pelayanan rohani untuk komunitas Kristen Protestan Eropa.

Majelis GPIB Beth-El Magelang, dr Reno Ranuh, menjelaskan bahwa gereja ini didirikan pada tahun yang sama ketika Kota Magelang diresmikan sebagai ibu kota Karesidenan Kedu pada 14 Maret 1817.

Angka tahun tersebut telah diabadikan di halaman depan gereja dengan tulisan "Magelang Heritage 1817," menunjukkan warisan sejarah yang dimilikinya.

Baca Juga: Menggali Jejak Sejarah di Kota Salatiga: Pendapa Pakuwon dan Tantangan Konservasi Bangunan Bersejarah

Peran Gereja Seiring Perjalanan Waktu

Pada masa pemerintahan Belanda, gereja ini diserahi tanggung jawab kepada institusi De Indische Kerk untuk mengelolanya.

Gereja ini menyediakan pelayanan rohani untuk komunitas Eropa yang tinggal di sekitar kawasan tersebut.

Namun, bagi masyarakat pribumi atau inlander, didirikan pula gereja Protestan di Kebonpolo pada 1923, dikenal dengan nama Gereja Ambon karena banyaknya jemaat dari Ambon atau Maluku pada saat itu.

Setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945, De Indische Kerk melepaskan tanggung jawabnya dan menyerahkan bangunan gereja ini kepada lembaga agama Kristen Protestan De Protestansche Kerk in Westelijk Indonesia (GPIB) pada 31 Oktober 1948.

Sejak saat itu, sekitar 250-300 jemaat pribumi rutin beribadah dan berkegiatan di gereja ini.

Baca Juga: Jejak Peninggalan Sejarah Kota Salatiga: Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat (GPIB) Tamansari

Meskipun GPIB Beth-El Magelang hampir tidak pernah mendapat pemugaran yang signifikan, bangunan bergaya arsitektur Gothic itu masih berfungsi dengan baik.

Dr Reno mengungkapkan bahwa meski hanya beberapa kali mengalami pengecatan ulang, GPIB Beth-El tetap megah dan berdiri sebagai saksi bisu perjalanan sejarah Kota Magelang dan Indonesia pada umumnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.