Jateng

Perjalanan Loji Gandrung Solo: Jejak Sejarah dan Makna Budaya yang Mendalam

Theo Adi Pratama | 12 Januari 2024, 14:00 WIB
Perjalanan Loji Gandrung Solo: Jejak Sejarah dan Makna Budaya yang Mendalam

AKURAT.CO Sejarah, Loji Gandrung Solo, sebuah bangunan bersejarah yang tak hanya menjadi rumah dinas Wali Kota Solo, tetapi juga menyimpan jejak sejarah yang panjang.

Dibangun sejak tahun 1830, Loji Gandrung telah menjadi saksi bisu perkembangan dan perubahan di Kota Surakarta.

Baca Juga: Sebuah Sejarah dan juga Perjalanan Stasiun Bringin: Antara Kejayaan Masa Lalu dan Keadaan yang Terabaikan di Kabupaten Semarang

Profil Loji Gandrung Solo

Loji Gandrung, yang terletak di Jalan Brigjen Slamet Riyadi Nomor 261, Kelurahan Penumping, Kecamatan Laweyan, Kota Surakarta, memiliki luas bangunan mencapai 3.500 meter persegi.

Bangunan ini merupakan bagian dari kompleks rumah dinas seluas 6.295 meter persegi.

Selain digunakan sebagai tempat tinggal Wali Kota Solo, Loji Gandrung seringkali dijadikan lokasi untuk berbagai kegiatan dan acara, termasuk kirab pernikahan putra Presiden Joko Widodo, Kaesang Pangarep, dengan Erina Gudono pada Desember 2022.

Sejarah Awal Loji Gandrung

Dibangun sejak tahun 1830, Loji Gandrung memiliki sejarah yang cukup panjang.

Desainnya berasal dari tangan arsitek Belanda, C.P. Wolff Schoemaker, yang pada awalnya difungsikan sebagai tempat kediaman saudagar perkebunan gula dan tuan tanah bernama Tinus.

Tinus membangun Loji Gandrung setelah menikah pada tahun 1819 dengan Raden Ayu Cokrokusumo, anggota keluarga Keraton Kasunanan Surakarta.

Loji Gandrung pada awalnya lebih mirip benteng daripada rumah biasa, dikelilingi oleh tembok tinggi dan pos penjagaan.

Pada masa itu, Loji Gandrung digunakan untuk mengundang relasi dan menyelenggarakan berbagai acara, yang membuat masyarakat sekitar menyebutnya sebagai "gandrungan."

Baca Juga: Jejak Perjalanan Stasiun Jambu: Wisata Sejarah Sekaligus Keindahan Alam di Kabupaten Semarang

Asal Usul Nama "Loji Gandrung"

Seiring berjalannya waktu, rumah ini dikenal sebagai Loji Gandrung. Kata "gandrung" dalam Bahasa Jawa memiliki arti tergila-gila atau menyukai.

Sementara itu, kata "loji" berasal dari Bahasa Belanda, "loge," yang berarti rumah besar, bagus, dan berdinding tembok.

Loji Gandrung menjadi nama yang melekat, menggambarkan rumah besar dengan sejarah dan keunikan budaya yang kental.

Peran Loji Gandrung pada Masa Kemerdekaan RI

Selama masa kemerdekaan Republik Indonesia, Loji Gandrung mengalami perubahan fungsi.

Awalnya digunakan sebagai tempat tinggal saudagar dan tuan tanah, Loji Gandrung kemudian dijadikan markas pusat pasukan pimpinan Jendral Gatot Subroto pada masa kedudukan Belanda selama Agresi Militer II (1948-1949).

Selain itu, Letkol Slamet Riyadi, Komandan Brigade V, juga memanfaatkannya sebagai tempat untuk mempersiapkan Serangan Umum tahun 1949.

Loji Gandrung Solo di Masa Kini

Pada 3 Mei 2013, Loji Gandrung diresmikan sebagai cagar budaya. Pemerintah Kota Surakarta kemudian mempersiapkan rumah dinas baru bagi Wali Kota Solo pada Agustus 2020.

Loji Gandrung direvitalisasi pada Juni 2017 dan selesai pada akhir 2018.

Fasilitas aula di Loji Gandrung juga dibuka untuk masyarakat tanpa biaya pada Februari 2022, sehingga menjadi tempat pertemuan yang terbuka untuk berbagai kegiatan.

Baca Juga: Jejak Stasiun Bedono: Saksi Bisu Sebuah Perjalanan Sejarah di Puncak Bedono, Kabupaten Semarang

Sejarah Loji Gandrung Solo membuktikan betapa pentingnya pelestarian warisan budaya.

Dari tempat kediaman seorang saudagar Belanda hingga markas pasukan kemerdekaan, Loji Gandrung menjadi saksi bisu perkembangan dan perubahan yang patut dijaga keberlangsungannya.

Sebagai bagian dari cagar budaya, Loji Gandrung tetap menjadi tempat yang berarti, menggambarkan kaya akan sejarah dan kehidupan Kota Surakarta yang kini terus berkembang.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.