Jateng

Perjalanan Batik Laweyan: Melangkah dari Sejarah Menuju Kebangkitan Baru

Theo Adi Pratama | 12 Januari 2024, 13:00 WIB
Perjalanan Batik Laweyan: Melangkah dari Sejarah Menuju Kebangkitan Baru

AKURAT.CO Sejarah, Batik, sebagai salah satu warisan budaya Indonesia, memiliki keunikan dalam proses pembuatannya yang melibatkan pelekatan malam/lilin panas pada media kain.

Khususnya, Batik Laweyan di Kota Solo menjadi saksi bisu perjalanan panjang sejarah dan kini berusaha bangkit kembali sebagai destinasi wisata budaya yang menarik.

Baca Juga: Sejarah dan Perjalanan Candi Pringtali di Perbukitan Manoreh: Kekayaan Mistis di Lereng Jalur Samigaluh, Nanggulan

Sejarah Panjang Batik Laweyan

Batik Laweyan tidak hanya sebuah teknik perintangan warna, melainkan juga sebuah warisan budaya adiluhung bangsa Indonesia.

Konon, perkembangan batik di Solo bermula sejak masa Kerajaan Majapahit.

Namun, Batik Laweyan secara khusus telah berkembang sebelum abad ke-15, saat pemerintahan Sultan Hadiwijaya (Joko Tingkir) di Keraton Pajang.

Pada masa tersebut, pengrajin Batik Laweyan mulai membangun industri batik tulis dengan pewarna alami, menjadikan desa Laweyan sebagai kawasan penghasil batik tertua di Indonesia.

Keberadaan Batik Laweyan terus berkembang hingga mencapai puncak kejayaannya pada era 1900an.

Kejayaan dan Perubahan Teknologi

Seiring dengan pergerakan kemerdekaan yang dimotori oleh Sarikat Dagang Islam (SDI) dengan pimpinan KH Samanhudi, Batik Laweyan mengalami masa kejayaannya.

Proses pembuatan batik cap, yang lebih mudah, cepat, dan ekonomis, membuat industri batik ini semakin berkembang.

Salah satu tokoh fenomenal, Tjokrosoemarto, menjadikan Batik Laweyan pusat industri batik terbesar dengan omzet luar biasa.

Namun, pada era 1970an, muncul teknik baru yaitu batik printing yang menggunakan screen sablon tanpa lilin panas.

Meskipun keliru disebut sebagai "batik," proses produksi yang lebih murah dan cepat ini mulai menyaingi batik tulis dan batik cap.

Seiring waktu, banyak industri batik di Laweyan mengalami kebangkrutan, dan pada tahun 2000an, jumlahnya menyusut drastis.

Baca Juga: Hari Ini Dalam Sejarah: Pertempuran Tarakan 1942, Epiknya Peperangan untuk Perebutan Ladang Minyak

Kebangkitan Batik Laweyan Melalui Pariwisata

Prihatin dengan kemunduran industri batik, tokoh masyarakat dan juragan batik Laweyan bersatu dalam Forum Pengembangan Kampoeng Batik Laweyan (FPKBL) yang dideklarasikan pada Oktober 2022.

Mereka bermusyawarah untuk membangun kembali industri batik Laweyan dengan konsep kawasan wisata batik.

Sejak itu, Kampoeng Batik Laweyan berbenah diri dengan membangun industri batik dan non-batik dalam konsep pariwisata.

FPKBL bekerja sama dengan pihak pemerintah, perguruan tinggi, organisasi pariwisata, dan sektor swasta untuk memajukan Batik Laweyan.

Saat ini, jumlah Industri Kecil dan Menengah (IKM) dan Usaha Kecil Menengah (UKM) Batik Laweyan telah meningkat menjadi lebih dari 80.

Peningkatan kualitas batik juga terus dilakukan, termasuk dengan mengikuti program Standar Nasional Indonesia (SNI).

FPKBL bahkan mendaftarkan merek batik kolektif dengan nama "Batik Heritage Laweyan" di Kemenkumham untuk memperkuat identitas merek batik Laweyan.

Mengukir Masa Depan dengan Inovasi

Berbagai upaya inovasi terus dilakukan oleh FPKBL demi memajukan Batik Laweyan dan menyongsong masa depan yang lebih cerah.

Melalui kekompakan dan sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, organisasi pariwisata, dan pelaku usaha, Batik Laweyan kembali mengukir sejarahnya sebagai destinasi wisata budaya yang menarik dan bernilai tinggi.

Baca Juga: Menaklukkan Keindahan dan Sejarah Gunung Argopuro: Pengalaman Mendaki yang Penuh Tantangan

Sebagai wujud pelestarian dan regenerasi, FPKBL juga aktif dalam program pendidikan dan pelatihan bagi generasi muda, memastikan keberlanjutan tradisi batik Laweyan.

Dengan upaya bersama ini, diharapkan Batik Laweyan tidak hanya menjadi kebanggaan lokal, tetapi juga memperkaya khazanah budaya Indonesia yang mendunia.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.