Jateng

Jejak Stasiun Bedono: Saksi Bisu Sebuah Perjalanan Sejarah di Puncak Bedono, Kabupaten Semarang

Theo Adi Pratama | 10 Januari 2024, 14:00 WIB
Jejak Stasiun Bedono: Saksi Bisu Sebuah Perjalanan Sejarah di Puncak Bedono, Kabupaten Semarang

AKURAT.CO Sejarah, Sebuah keping sejarah yang masih kokoh berdiri, Stasiun Bedono, menghampar keindahannya di tengah Kabupaten Semarang.

Dibangun pada tahun 1873, stasiun ini menjadi saksi perjalanan panjang Republik Indonesia menuju kemerdekaannya.

Terletak di Bedono, Kecamatan Jambu, stasiun ini tidak hanya menjadi tempat bersejarah tetapi juga menawarkan pemandangan luar biasa dari ketinggian 711 mdpl, menjadikannya stasiun tertinggi kedua di Indonesia setelah stasiun Ngarek yang berada di ketinggian 848 mdpl.

Baca Juga: Perjalanan Gereja Blenduk Semarang: Menguak Kisah Sejarah dan Keindahan Arsitektur Bangunan di Kota Lama

Pembangunan Rel Kereta Api oleh Pemerintah Hindia Belanda

Pada tahun 1867, Pemerintah Hindia Belanda meluncurkan proyek ambisius untuk membangun jalur kereta api di Indonesia.

NISM (Nederlandsch Indisch Spoorweg Matscapij), perusahaan kereta api milik Hindia Belanda, memimpin pembangunan ini.

Jalur kereta api pertama dibangun di Semarang, merambah ke Jogjakarta, Surakarta, Gubug, Magelang, dan Ambarawa.

Proyek ini tidak hanya didorong oleh faktor ekonomi tetapi juga kebutuhan militer.

Sejarah Panjang Stasiun Bedono

Stasiun Bedono memiliki sejarah panjang yang dimulai sejak pembangunannya pada tahun 1873.

Dibuka secara resmi pada tahun 1905, stasiun ini memiliki peran penting dalam mengangkut hasil bumi seperti kopi dan rempah-rempah dari daerah sekitar Bedono menuju Semarang.

Stasiun Bedono juga menjadi pusat mobilisasi tentara Hindia Belanda dari Magelang ke Ambarawa.

Baca Juga: Perjalanan Masjid Agung Kauman Semarang: Kekayaan Sejarah dan Keindahan Arsitektur Bangunan Ibadah

Keunikan Jalur Rel Bergerigi dan Lokomotif Uap

Salah satu keunikan Stasiun Bedono adalah penggunaan jalur rel bergerigi untuk menaklukkan tanjakan.

Biasanya, lokomotif uap buatan Jerman dengan seri B 2502 dan B 2503 memimpin perjalanan melalui jalur ini, membawa suasana nostalgia dengan bahan bakar kayu jati.

Stasiun ini juga dilengkapi dengan rel putar manual untuk memutar lokomotif.

Kondisi Fisik dan Kebersihan Stasiun

Meskipun sudah lebih dari 100 tahun berdiri, Stasiun Bedono tetap kokoh dan menunjukkan kehandalan konstruksinya.

Bangunan stasiun terawat dengan baik, memberikan kesan bahwa pelaksanaan pembangunannya mungkin bebas dari mark up harga dan korupsi.

Setiap elemen, mulai dari loket kayu hingga kursi penumpang, masih memancarkan vintagenya tanpa tergerus waktu.

Stasiun Bedono Hari Ini

Meskipun tidak lagi beroperasi sebagai stasiun kereta api, Stasiun Bedono tetap membuka pintunya untuk para pengunjung.

Meski jarang dikunjungi, stasiun ini tetap terjaga dengan baik, dibiarkan seolah-olah waktu berhenti.

Kebersihan dan perawatan terlihat dalam setiap detailnya, menjadikan stasiun ini sebagai tempat yang memikat untuk melihat sejarah hidup.

Baca Juga: Pesona Mistis dan Sejarah Keharmonisan Candi Gedong Songo: Pemandian Belerang dan Legenda Rahwana

Pemeliharaan dan Peninggalan Cagar Budaya

Stasiun Bedono adalah warisan cagar budaya yang tidak boleh dilupakan.

Pengunjung yang ingin merasakan suasana jaman dahulu dapat datang ke sini.

Keunikan arsitektur, peron, corong air, dan rel putar, semuanya menjadi jendela yang membawa kita kembali ke masa lalu.

Pemeliharaan dan keberlanjutan kondisi stasiun ini adalah tanggung jawab bersama untuk menjaga warisan berharga ini sebagai saksi bisu perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.