Jateng

Sejarah Perjalanan Mercusuar Willem III: Peninggalan Bersejarah Pelabuhan Tanjung Emas Semarang

Theo Adi Pratama | 7 Januari 2024, 14:00 WIB
Sejarah Perjalanan Mercusuar Willem III: Peninggalan Bersejarah Pelabuhan Tanjung Emas Semarang

AKURAT.CO Sejarah, Mercusuar Willem III, sebuah keajaiban arsitektur yang menjadi saksi sejarah Kota Semarang, muncul sebagai peninggalan kolonial Belanda yang megah dan monumental.

Terletak di kawasan Pelabuhan Tanjung Emas, mercusuar ini mengangkat deretan kisah tentang kejayaan kota sebagai pusat perdagangan internasional di masa lalu.

Baca Juga: Misteri dan Keangkeran Gunung Alas Gumitir: Legenda dan Sejarah yang Selalu Memikat

Keberadaan Mercusuar Willem III

Mercusuar Willem III menjulang di Jalan Yos Sudarso, Bandarharjo, Kecamatan Semarang Utara, menjadi penanda sejarah kuat yang mencerminkan masa kejayaan Kota Semarang.

Dibangun pada tahun 1879 dan selesai pada 1884, mercusuar ini dihadirkan untuk merayakan kemajuan kota sebagai pusat perdagangan dan pelabuhan yang berkembang.

Simbol Kota Perdagangan

Menara setinggi 32 meter ini, terbuat dari besi cetak dan baja, menjadi simbol keberhasilan Kota Semarang sebagai pusat perdagangan.

Nama "Willem III" diambil dari nama Raja Belanda pada masa pembangunan.

Mercusuar ini tidak hanya menjadi pemandangan megah di pelabuhan, tetapi juga berfungsi sebagai panduan untuk kapal-kapal laut yang merapat ke Pelabuhan Tanjung Emas Semarang.

Baca Juga: Misteri yang Menyelimuti Pabrik Seranite Banyuwangi: Sejarah Angker dan Nuansa Mistis yang Membuat Merinding

Cahaya Mercusuar yang Dahulu

Dulu, cahaya lampu mercusuar Willem III dapat terlihat dari puncak Gunung Merbabu, memberikan panduan yang kuat untuk kapal-kapal yang berlayar di sekitar perairan Semarang.

Meskipun sekarang hanya memiliki daya lampu sekitar 1.000 watt dengan jarak cahaya sekitar 20 mil, mercusuar ini tetap memainkan peran penting dalam navigasi kapal laut di kawasan pelabuhan.

Peran dalam Pembangunan Pelabuhan

Pembangunan Pelabuhan Tanjung Emas Semarang dimulai sejak abad ke-16.

Untuk memastikan kelancaran akses kapal-kapal besar, Pemerintah Kolonial Belanda bekerja sama melakukan pengerukan di sekitar area pelabuhan.

Seiring dengan berkembangnya produksi gula di Jawa Tengah, Kota Semarang menjadi pusat perdagangan yang vital.

Mercusuar Willem III pun dibangun sebagai respons terhadap meningkatnya lalu lintas kapal di Pelabuhan Tanjung Emas.

Baca Juga: Perkembangan Gereja Kepanjen Surabaya: Perjalanan Sejarah dan Keindahan Arsitektur Sebuah Bangunan Ibadah

Keterikatan Mercusuar dan Pelabuhan

Mercusuar Willem III dan Pelabuhan Tanjung Emas saling terkait dalam sejarah Kota Semarang.

Keduanya menjadi saksi bisu majunya kota ini dalam perdagangan dan peradaban.

Kini, mereka masih berdiri tegak, masing-masing membawa nilai historis yang tak ternilai.

Peran Saat Ini

Meskipun tenggelam sedikit karena penurunan air tanah, Mercusuar Willem III tetap berdiri kokoh sebagai saksi bisu masa lalu Kota Semarang.

Dikelola oleh Kantor Distrik Navigasi (Disnav) kelas 1 Semarang, mercusuar ini tidak hanya menjadi daya tarik visual, tetapi juga menjadi sumber pembelajaran di bidang pelayaran, menginspirasi siswa-siswi untuk menggali lebih dalam sejarah pelaut dan perdagangan.

Baca Juga: Perjalanan Gedung De Javasche Bank Surabaya: Jejak Sejarah Perbankan yang Hadir di Indonesia

Melalui keberadaannya, Mercusuar Willem III terus mengajarkan dan mengingatkan kita akan kekayaan sejarah Kota Semarang sebagai pusat perdagangan yang berpengaruh pada masa lalu.

Terlepas dari perubahan zaman, mercusuar ini tetap menjadi ikon monumental yang membangkitkan kejayaan dan kebanggaan kota yang pernah menjadi salah satu pusat perdagangan terkemuka di Nusantara.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.