Jateng

Hutan Penggaron: Tempat Kemah yang Ditinggali Suara Gamelan dan Bangunan Mangkrak

Theo Adi Pratama | 22 Oktober 2026, 22:30 WIB
Hutan Penggaron: Tempat Kemah yang Ditinggali Suara Gamelan dan Bangunan Mangkrak

JATENG.AKURAT.CO, Di balik rimbunnya Hutan Penggaron dan megahnya proyek Jateng Valley yang kini mangkrak, tersimpan satu cerita yang paling sering dibisikkan para pencari kemah: denting gamelan gaib yang katanya berbunyi tanpa penabuh, seolah ada pesta yang tak pernah selesai di alam lain.

Malam di Hutan Penggaron punya aturan tidak tertulis. Jangan mendirikan tenda terlalu dekat dengan pohon besar. Jangan membakar kemenyan sembarangan. Dan yang paling penting: kalau mendengar suara gamelan di tengah hutan, jangan sekali-kali mencari sumbernya.

Cerita ini sudah berumur puluhan tahun, jauh sebelum Jateng Valley dibangun dan kemudian terbengkalai. Dulu, saat Wana Wisata Penggaron masih jadi bumi perkemahan resmi sejak 1997, cerita tentang suara gamelan gaib sudah jadi bagian dari pengalaman berkemah.

Para pramuka, peserta SAR, dan mahasiswa yang sering menginap di sana pulang membawa cerita yang sama: denting saron dan gong yang sayup-sayup, seperti ada pertunjukan wayang di tengah hutan, padahal tidak ada siapa-siapa.

Seorang warga Susukan, Maryam, yang sudah berjualan di kawasan itu sejak 1990-an, pernah mendengar cerita itu dari mulut ke mulut. “Dulu banyak yang cerita, tapi ya namanya juga hutan, kadang suara angin atau hewan bisa terdengar seperti apa saja,” katanya, seperti dikutip Kompas.com.

Tapi dia tidak menyangkal bahwa sampai sekarang, kawasan itu masih terasa berbeda, terutama setelah Jateng Valley mangkrak dan gerbangnya digembok.

Dari “auman harimau” ke “suara gamelan”

Nama Penggaron sendiri bukan berasal dari kata yang tenang. Konon, nama itu diambil dari “auman harimau” yang sering terdengar di hutan lebat pada zaman dulu. Hutan ini dulu dianggap angker, tempat Raden Purbaya melarikan diri dan menemukan wilayah yang begitu lebat sampai suaranya sendiri tertelan pepohonan.

Seiring waktu, auman harimau jarang terdengar. Tapi cerita mistis tidak hilang. Ia bermutasi. Salah satu yang paling dikenal adalah kisah Pohon Pengantin, yang konon dihuni arwah pasangan tragis yang meninggal sebelum menikah. Cerita ini sudah menjadi bagian dari folklore lokal, diceritakan dari generasi ke generasi, terutama oleh mereka yang masih percaya bahwa hutan punya penjaga.

Suara gamelan gaib muncul sebagai lapisan cerita berikutnya. Dalam kepercayaan Jawa, gamelan bukan sekadar alat musik. Ia punya nilai sakral, sering dikaitkan dengan ritual, pertunjukan wayang, dan momen-momen penting dalam siklus hidup manusia. Kalau gamelan berbunyi tanpa penabuh, maka yang menabuh bukan manusia.

Mitos yang beredar di masyarakat menyebutkan bahwa suara gamelan di malam hari adalah tanda makhluk halus sedang berkumpul dan mengadakan pesta di dunia mereka. Ada juga yang percaya bahwa suara itu adalah undangan, meski tidak ada yang berani datang.

Jateng Valley: proyek raksasa yang jadi “tempat seram”

Ironi terbesar Hutan Penggaron bukan pada cerita mistisnya, tapi pada apa yang dibangun di atasnya. Jateng Valley, proyek wisata senilai Rp2 triliun yang digadang-gadang menjadi yang terbesar di Asia Tenggara, kini terbengkalai.

Ground breaking dilakukan pada 2020, tapi pembangunan terhenti sejak 2021. Yang tersisa sekarang adalah kontainer berkarat, pondasi bolong, dan semak belukar yang tumbuh liar.

Maryam menyebutnya “wisata terseram”. Bukan karena hantu, tapi karena sepi dan mangkrak. “Mau dibuat wisata terbesar se-Asia Tenggara. Malah mangkrak. Jadi, wisata terseram,” ujarnya. Gerbangnya sekarang digembok, pagar seng tinggi menutup rapat akses masuk.

Di sinilah dua lapisan cerita bertemu. Hutan yang dulu punya cerita mistis tentang auman harimau dan pohon pengantin, sekarang punya bangunan mangkrak yang menambah kesan angker.

Suara gamelan gaib yang dulu dikaitkan dengan penunggu hutan, sekarang mungkin terdengar lebih nyata karena resonansi ruang-ruang kosong dan jalan beton yang retak.

Yang tidak dibicarakan di Youtube

Kanal YouTube dan podcast horor sudah sering mengangkat kisah Jateng Valley sebagai “tempat seram”. Tapi framing-nya sering kali berhenti pada sensasi: bangunan mangkrak, gerbang gembok, dan cerita-cerita pengunjung yang merasa tidak nyaman. Yang jarang dibahas adalah bagaimana proyek gagal itu mengubah wajah hutan dan kehidupan warga sekitar.

Maryam dulu bisa melayani katering untuk peserta kemah. Sekarang warungnya hanya mengandalkan pengendara yang lewat. Lurah Susukan, Suhartono, mengaku tidak dapat informasi terbaru soal kelanjutan proyek. Warga sudah bersiap menyambut wisatawan lewat program Kotaku, tapi wisatawannya tak pernah datang.

Suara gamelan gaib, kalau pun benar ada, bukan satu-satunya hal yang hilang dari Penggaron. Yang hilang juga adalah denyut ekonomi, keramaian tenda kemah, dan suara anak-anak pramuka yang dulu memenuhi area perkemahan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.