Jateng

Lokananta dan Gamelan yang Berbunyi Sendiri: Antara Mitos, Sejarah, dan Galeri Modern

Theo Adi Pratama | 22 Oktober 2026, 23:30 WIB
Lokananta dan Gamelan yang Berbunyi Sendiri: Antara Mitos, Sejarah, dan Galeri Modern
Gamelan di Lokananta

JATENG.AKURAT.CO, Di balik wajah barunya sebagai creative hub modern, Lokananta masih menyimpan satu ruangan yang tidak pernah benar-benar sepi: Ruang Gamelan, tempat Gamelan Kyai Sri Kuncoro Mulyo dipajang di balik kaca—dan menurut cerita yang tak pernah mati, dentingnya kadang terdengar sendiri di tengah malam, seolah ada yang menabuh dari alam lain.

Malam di Lokananta punya aturan tidak tertulis. Jangan berjalan sendirian di lorong penyimpanan. Jangan mengetuk kaca Ruang Gamelan. Dan yang paling penting: kalau mendengar suara saron atau gong di tengah gedung yang sudah tutup, jangan mencari sumbernya.

Cerita ini sudah berumur puluhan tahun, jauh sebelum Galeri Lokananta direvitalisasi dan berubah jadi ruang pameran yang rapi. Dulu, saat studio ini masih menjadi pabrik piringan hitam dan kaset, para penjaga malam sering mendengar suara gamelan yang berbunyi tanpa penabuh. Suaranya datang dari ruang penyimpanan, tempat seperangkat gamelan tua bernama Kyai Sri Kuncoro Mulyo disimpan.

Gamelan itu bukan benda sembarangan. Konon dibuat pada masa Pangeran Diponegoro, lalu berpindah tangan beberapa kali sebelum akhirnya diboyong ke Lokananta pada 12 Oktober 1984. Nama “Lokananta” sendiri diambil dari mitologi pewayangan: seperangkat gamelan surgawi dari kahyangan yang bisa berbunyi sendiri dengan merdu.

Jadi, ketika gamelan di ruang penyimpanan itu terdengar menabuh dirinya sendiri, cerita rakyat tidak perlu jauh-jauh mencari penjelasan. Nama gedungnya sudah menjadi undangan.

Ruang Gamelan: dipajang, tapi tidak boleh disentuh

Sekarang, Kyai Sri Kuncoro Mulyo tidak lagi tersimpan di sudut gudang berdebu. Gamelan itu punya ruang sendiri di Galeri Lokananta.

Pengunjung bisa melihatnya, memotretnya dari balik kaca, tapi tidak boleh menyentuhnya. Sebuah artikel di Jurnal Aceh menyebut ruangan ini sebagai salah satu titik yang paling sering membuat pengunjung berhenti lebih lama.

Yang menarik, ruang itu tidak pernah dimasukkan ke dalam daftar “wahana horor” resmi. Galeri Lokananta lebih suka menyebutnya sebagai bagian dari koleksi budaya.

Tapi pemandu yang membawa pengunjung berkeliling sering menurunkan suaranya saat melewati Ruang Gamelan. Bukan karena takut, tapi karena cerita yang menyertainya memang lebih enak didengar sambil berbisik.

Wajah baru yang tidak menghapus cerita lama

Pada 2026, Lokananta sudah bukan bangunan tua yang sunyi. RRI melaporkan bahwa studio rekaman pertama Indonesia ini telah bertransformasi menjadi pusat kreativitas modern, lengkap dengan amfiteater, galeri seni, dan instalasi kontemporer. Seorang wisatawan asal Medan, Ratu Syofina, mengaku perjalanan jauhnya terbayar setelah melihat langsung koleksi legendaris di Galeri Lokananta.

“Saya sengaja datang dari Medan karena penasaran dengan revitalisasi studio ini, dan ternyata atmosfernya luar biasa tenang sekaligus membanggakan,” ujarnya, seperti dikutip RRI.

Ratu tidak sedang membicarakan hantu. Ia berbicara tentang suasana. Tapi di Lokananta, “tenang” dan “seram” kadang cuma berjarak satu lorong.

Melintas edisi 1 Agustus 2026 mencatat bahwa kawasan ini kini didominasi anak muda. Mereka datang untuk nongkrong, melihat koleksi piringan hitam, dan menonton konser komunitas. Salah seorang pengunjung, Ronald, mengaku awalnya hanya ingin ngopi.

“Awalnya saya hanya ingin nongkrong sambil ngopi. Ternyata Lokananta seru sekali. Koleksi musik lawas dipadukan teknologi modern membuat sejarah terasa lebih hidup dan menyenangkan,” katanya.

Sejarah yang terasa hidup. Mungkin itu kalimat paling jujur untuk menggambarkan Ruang Gamelan. Bukan hidup karena ada yang menabuhnya, tapi karena ceritanya terus diulang dari satu pengunjung ke pengunjung lain.

Oktober: bulan ramai, bulan cerita

Oktober memang bulan istimewa bagi Lokananta. Studio ini berdiri pada 29 Oktober 1956, dan setiap tahunnya, perayaan ulang tahun menarik lebih banyak pengunjung daripada bulan-bulan biasa.

Pada 17–18 Oktober 2026, Lokananta Bloc menggelar Pasar Karya Cenderaloka 2026, dengan bazar UMKM, lomba mewarnai, lomba tari tradisional, dan berbagai workshop kreatif.

TribunWow edisi 21 Oktober 2026 mencatat Lokananta sebagai rekomendasi wisata pertama di dekat Stasiun Purwosari, dengan tiket masuk Rp25.000 per orang.

Harganya tidak mahal. Yang mahal mungkin keberanian untuk datang sendirian menjelang tutup, lalu berdiri agak lama di depan Ruang Gamelan.

Kenapa cerita ini tidak pernah selesai

Ada satu hal yang jarang dibahas dalam artikel-artikel tentang revitalisasi Lokananta: ruang penyimpanan tidak pernah benar-benar kehilangan masa lalunya.

Piringan hitam bisa didigitalkan. Kaset bisa dipindahkan ke hard drive. Tapi gamelan tetap benda fisik yang punya usia, punya sejarah, dan dalam kepercayaan Jawa, punya “isi”.

Kyai Sri Kuncoro Mulyo tidak dipindahkan ke museum yang steril. Ia tetap berada di gedung yang sama, di kota yang sama, dengan nama yang sama. Dan selama ia masih di sana, cerita tentang suara gamelan yang berbunyi sendiri akan tetap hidup—bukan karena ada bukti, tapi karena selalu ada yang ingin percaya.

Pengunjung yang datang siang hari akan melihat galeri yang rapi, lampu yang terang, dan pemandu yang ramah. Pengunjung yang datang menjelang tutup mungkin akan melihat hal yang sama.

Tapi ada satu ruangan yang tidak pernah benar-benar ikut tutup. Di Ruang Gamelan, waktu seolah berhenti di 1984, dan denting yang tidak ada penabuhnya masih menunggu untuk didengar.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.