Jateng

Kenapa Sumur Tua Semarang Selalu Dikaitkan dengan Laut Selatan? Ini Penjelasannya

Theo Adi Pratama | 22 Oktober 2026, 23:00 WIB
Kenapa Sumur Tua Semarang Selalu Dikaitkan dengan Laut Selatan? Ini Penjelasannya
Taman Srigunting

JATENG.AKURAT.CO, Di sudut Kota Lama Semarang, dekat Taman Srigunting, ada sumur tua peninggalan 1841 yang airnya tak pernah kering bahkan di puncak kemarau, dan di balik fakta itu tumbuh satu bisikan yang sudah berumur ratusan tahun: katanya, lubang ini bukan sekadar sumur, melainkan salah satu pintu yang menembus jauh ke alam lain.

Bayangkan berdiri di depan sebuah lingkaran beton yang permukaannya sudah retak di sana-sini, tertutup rapat, tak lagi dipakai orang untuk menimba. Di sekelilingnya, kafe-kafe kekinian dan jalur pejalan kaki yang rapi. Kota Lama sudah berubah. Tapi sumur ini tidak.

Sejarawan Kota Semarang, Rukardi Achmadi, pernah menjelaskan asal-usulnya dengan gamblang. Sumur itu dibangun pada 1841, ketika malaria dan kolera mewabah dan merenggut ratusan nyawa setiap hari.

“Sumur itu ada riwayat sejarah dalam menyelamatkan warga Semarang dari wabah penyakit saat itu,” katanya, seperti dikutip Suara.com. Teknologi pengeboran artesis yang dipakai saat itu memungkinkan air tawar keluar dari kedalaman, di tengah tanah aluvial pesisir yang asin.

Selama puluhan tahun, sumur itu menjadi urat nadi. Bukan cuma untuk warga Kota Lama, tapi juga untuk para pelaut yang sandar di dermaga Semarang. Mereka membawa airnya bergalon-galon ke kapal, sebagai bekal perjalanan layar yang bisa berbulan-bulan.

Air yang tidak pergi, dan penjaga yang tidak terlihat

Sumur itu tidak pernah kering. Saat kemarau panjang melanda dan sumur-sumur lain mulai mengering, airnya tetap ada. Bagi warga yang tinggal di kawasan itu secara turun-temurun, keabadian air bukan semata soal teknologi Belanda abad ke-19. Ada penjelasan lain yang lebih tua dari buku sejarah.

Warga setempat sering mengaitkan keabadian air sumur ini dengan keberadaan makhluk halus berwujud naga penjaga air, atau dana, yang bersemayam di dasar sumur. Dalam kosmologi Jawa, dana bukan sekadar mitos.

Ia adalah penunggu, entitas yang mengikat diri pada suatu tempat dan menjaga keseimbangannya. Selama penunggunya senang, air tetap mengalir. Kalau penunggunya terusik, entah apa yang terjadi.

Mitos lain yang beredar di kalangan warga menyebutkan bahwa sumur itu pernah digunakan sebagai tempat pembuangan jenazah secara darurat pada masa-masa kelam, ketika wabah atau konflik membuat penguburan layak menjadi kemewahan yang tidak selalu tersedia.

Cerita ini tidak pernah masuk ke laporan resmi, tapi ia hidup di percakapan warung kopi dan bisik-bisik pemandu wisata.

“Tembus laut” dan asal-usul bisikan Laut Selatan

Di sinilah cerita mulai bercabang. Di berbagai forum dan blog yang membahas misteri Kota Lama, muncul klaim bahwa ada ruang bawah tanah di kawasan itu yang “tembus laut”. Tidak selalu jelas laut yang mana.

Ada yang menyebut Laut Jawa, yang secara geografis memang berbatasan langsung dengan Semarang. Tapi ada juga yang menarik garis imajiner lebih jauh ke selatan, ke Laut Selatan, ke kediaman Kanjeng Ratu Kidul.

Kebanyakan cerita “tembus Laut Selatan” yang benar-benar spesifik di Jawa Tengah tidak mengarah ke Semarang. Ia mengarah ke Sumur Jalatunda, sebuah kepundan vulkanik raksasa di Dataran Tinggi Dieng, Banjarnegara, dengan kedalaman sekitar 100 meter dan diameter 90 meter.

Sumur itu diyakini sebagai salah satu pintu gaib menuju istana penguasa Laut Selatan. Konon, siapa pun yang berhasil melempar batu hingga melintasi seberang sumur, permintaannya akan terkabul.

Jadi, ketika bisikan tentang “sumur tua Semarang yang tembus Laut Selatan” sampai ke telinga, yang sebenarnya sedang terjadi adalah peleburan dua lapisan mitos.

Sumur tua Kota Lama punya aura mistis karena penunggunya, karena airnya yang abadi, dan karena sejarah kelam yang menempel padanya. Sumur Jalatunda punya mitos pintu gerbangnya.

Dalam imajinasi kolektif, dua tempat yang berjauhan itu bisa menyatu menjadi satu narasi: kalau ada sumur tua yang tidak pernah kering di Semarang, mungkin itu juga pintu ke sana.

Sendang Wonodri: sumur lain, cerita lain

Semarang Selatan punya sumur tua lain yang juga disakralkan, tapi bukan karena Laut Selatan. Di Kelurahan Wonodri, ada dua sumur tua—Wonodri Grajen dan Wonodri Sendang—yang dipercaya menyimpan pusaka milik Ki Ageng Pandanaran II, tokoh pendiri Kota Semarang.

Di salah satu sumur, menurut cerita turun-temurun yang dicatat oleh sesepuh kampung, tersimpan benda-benda pusaka yang dititipkan kepada Rukminah dan Rukmini, adik tiri Pandanaran II, ketika ia melepaskan jabatan Bupati Semarang.

Sendang Wonodri juga dikaitkan dengan Sunan Kalijaga, yang konon pernah berwudu di sana saat mencari kayu jati untuk Masjid Agung Demak. Tidak ada cerita tentang Laut Selatan di sini. Yang ada adalah cerita tentang penyebaran Islam, tentang pusaka yang dijaga, dan tentang air yang tidak pernah surut.

Dua sumur, dua cerita. Satu di utara, dekat pelabuhan dan benteng kolonial, berbau Eropa dan wabah. Satu di selatan, dekat permukiman tua, berbau pusaka dan penyebaran agama. Keduanya sama-sama dianggap keramat. Keduanya sama-sama punya air yang tidak pergi. Tapi hanya yang di utara yang kemudian ditarik ke dalam orbit mitos Laut Selatan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.