Gedung Kesenian Sriwedari: Tempat Wayang Orang Pentas, Tempat Penari Gaib Menyapa

JATENG.AKURAT.CO, Gedung Kesenian Sriwedari di Solo sudah 116 tahun berdiri, tapi sampai sekarang masih ada saja penonton yang pulang bukan cuma membawa cerita wayang, melainkan juga cerita tentang sosok penari yang menyapa dari balik tirai panggung—padahal panggung sudah kosong dan lampu sudah diredupkan.
Malam di Sriwedari punya aturan tidak tertulis. Jangan menoleh ke arah sayap panggung kalau mendengar suara gamelan yang berbunyi setelah pertunjukan selesai.
Jangan menghitung jumlah penari yang keluar untuk sesi tari pembukaan. Dan yang paling penting: kalau ada sosok perempuan berkebaya yang tersenyum ke arahmu dari balik tirai, jangan balas tersenyum.
Cerita ini sudah berumur jauh lebih tua dari platform tempat ia sekarang beredar. Sebelum masuk ke utas Twitter dan video TikTok, kisah tentang penari gaib Sriwedari sudah diceritakan dari mulut ke mulut di warung kopi sekitar Taman Sriwedari, dari generasi ke generasi penonton setia Wayang Orang.
Pada 2024, ada sebuah artikel menyebut Taman Sriwedari sebagai salah satu titik paling angker di Solo, dengan cerita tentang “kuntilanak penari anglir” yang konon menghuni kawasan itu . Artikel lain juga mencatat penampakan kuntilanak di Taman Sriwedari, dengan cerita-cerita seram yang “sering terdengar dari orang-orang yang pernah mengunjungi tempat ini” .
Tapi cerita yang beredar di kalangan penonton sedikit berbeda. Bukan kuntilanak yang menakut-nakuti. Ini sosok penari. Masih memakai kain dan selendang. Wajahnya tidak selalu jelas, tapi senyumnya terlihat. Dan ia menyapa—dengan anggukan, dengan lambaian tangan kecil, atau sekadar tatapan yang terasa terlalu sadar untuk sekadar bayangan.
Gedung yang menolak redup
Sriwedari bukan gedung mati. Ia justru sedang bangkit.
Kompas.com edisi 6 Oktober 2026 mencatat bahwa Wayang Orang Sriwedari pernah “mati suri” dan kehilangan penonton, tapi berkat inovasi, kesenian ini kembali memikat, khususnya kalangan muda . TribunSolo edisi 22 Oktober 2026 masih mencantumkan pertunjukan Wayang Orang Sriwedari sebagai agenda harian Solo, dengan lakon Gathutkaca Krama dan tiket Rp20.000 untuk penonton lokal .
Solopos edisi 1 Juli 2026 mencatat bahwa Wayang Orang Sriwedari masuk nominasi Anugerah Pesona Indonesia (API) Awards 2026 kategori Atraksi Budaya. Keseniaan ini sudah eksis 116 tahun, melewati guncangan modernisasi dan perubahan tren hiburan .
“Kami para seniman di dalamnya mempertahankan cerita-cerita yang sejak mula dimainkan dahulu,” kata Ivan Jendro, salah satu seniman WOS, kepada Solopos .
Gedungnya hidup. Panggungnya hidup. Tapi justru di tempat yang hidup, cerita tentang sosok yang “tidak hidup” paling mudah tumbuh.
Kenapa penari?
Ada alasan mengapa yang muncul bukan pocong, bukan genderuwo, tapi penari.
Wayang Orang Sriwedari sudah 116 tahun memanggungkan tubuh-tubuh yang menari. Ribuan penari sudah naik-turun panggung. Ada yang menjadi legenda, seperti Rusman sebagai Gathutkaca yang bahkan disebut idola Bung Karno . Ada juga yang namanya tidak tercatat di papan pengumuman, tapi tetap meninggalkan jejak di panggung kayu itu.
Dalam kepercayaan Jawa, panggung pertunjukan bukan ruang kosong. Ia punya “penunggu”. Sebelum pentas, para seniman sering berdoa dan memohon izin, bukan karena takut, tapi karena sadar bahwa ruang itu punya sejarah yang lebih panjang dari usia mereka .
Sosok penari gaib dalam cerita Sriwedari bukan hantu yang menakut-nakuti. Ia lebih seperti penonton yang datang terlambat, atau penari yang belum selesai dengan panggungnya. Ia menyapa penonton bukan untuk membuat mereka lari, tapi untuk mengingatkan bahwa di gedung ini, batas antara yang hidup dan yang menari tidak selalu jelas.
Yang tidak diceritakan turis
Pemandu wisata di Sriwedari biasanya bercerita tentang sejarah, tentang PB X yang membuka Taman Sriwedari untuk publik, tentang penari-penari legendaris yang membuat Wayang Orang terkenal sampai ke luar Jawa. Mereka jarang bercerita tentang sosok di balik tirai.
Penonton yang datang malam hari, duduk di barisan belakang, mungkin akan mendengar bisik-bisik yang berbeda. “Jangan duduk di kursi nomor itu.” “Jangan foto ke arah panggung pas lampu mati.” “Kalau lihat perempuan berkebaya di sebelah kiri, jangan diajak ngobrol.”
Tidak ada yang tahu pasti siapa sosok itu. Ada yang bilang penari yang meninggal di tengah pentas. Ada yang bilang penari yang hilang tanpa jejak. Ada juga yang bilang itu cuma proyeksi pikiran penonton yang terlalu larut dalam cerita.
Tapi di Sriwedari, “cuma proyeksi” tidak pernah cukup untuk menghentikan cerita. Ia justru menjadi bahan bakar. Setiap penonton yang pulang dengan cerita baru, setiap utas yang dibagikan, setiap komentar “aku juga pernah lihat” menambah lapisan pada mitos yang sudah ada.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Rute Macet Semarang-Solo, 22 Oktober 2026: Mana yang Harus Dihindari, Mana yang Harus Diambil
- 2Prediksi Skor Madura United vs Persib: Ketajaman Dimitar Mitkov Jadi Ancaman, Ini yang Diwaspadai Igor Tolic
- 3Prediksi Madura United vs Persib: Balsa Sekulic Starter, Mitkov Kembali Jadi Ancaman
- 4Pentingnya Ketajaman Intuisi untuk Menghadapi Dinamika Kehidupan
- 5Kebakaran Gunung Lawu Capai 140 Hektare, Bagana dan Relawan terus Berjibaku
- 6Polda Jateng Bongkar Jaringan Togel di Demak, Grobogan, dan Semarang, Saldo Rekening Rp2,46 Miliar Diblokir
- 7Dua Tahun Pemerintahan Prabowo, Pupuk Indonesia Ungkap Transformasi Tata Kelola Pupuk yang Berpihak Pada Petani
- 8iPhone 18 Pro dan Pro Max Resmi Tersedia, Telkomsel Tawarkan Bundling Halo dan SIMPATI hingga Diskon Rp1 Juta
- 9Lepas 845 Atlet ke Porprov Jateng 2026, Semarang Bidik 190 Emas demi Pertahankan Takhta Juara Umum
- 10Mahjong Rooftop Clash di Semarang, Louis Kienne Hotel Hadirkan Ruang Hangout dan Kolaborasi Komunitas




