Jateng

MITOS GUNUNG GEDE PART 2: Telaga Warna Simpan Ikan Gaib Pengabul Permintaan, Tapi Waspada Gerbang Dunia Lain di Kandang Badak!

Theo Adi Pratama | 30 Oktober 2025, 19:00 WIB
MITOS GUNUNG GEDE PART 2: Telaga Warna Simpan Ikan Gaib Pengabul Permintaan, Tapi Waspada Gerbang Dunia Lain di Kandang Badak!

JATENG.AKURAT.CO, Melanjutkan eksplorasi kita terhadap sisi gelap dan mistis Gunung Gede, kini kita memasuki zona-zona yang lebih mendalam, dari telaga tersembunyi hingga area perkemahan yang paling angker.

Gunung Gede bukan hanya tentang keindahan puncak, tetapi juga tentang cara kita bersikap dan menghormati para penunggu yang mendiami setiap jengkal jalurnya.

Inilah deretan mitos dan urban legend Gunung Gede (Bagian 2) yang dijamin akan membuat Anda berpikir dua kali sebelum bicara kasar atau sekadar memetik bunga!

1. Telaga Warna: Ikan Gaib Pengabul Hajat

Telaga Warna yang terletak di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango ini memang terkenal karena keindahannya yang bisa berubah-ubah warna airnya.

Namun, mitos yang menyelimuti telaga ini tak kalah menarik, dan juga menyeramkan.

  • Ikan Misterius: Konon, terdapat ikan gaib yang menjadi penunggu setia danau. Mitosnya sangat menarik: jika Anda cukup beruntung melihat ikan misterius ini melompat ke permukaan, maka semua keinginan Anda bisa terkabul. Sebuah janji yang menggiurkan!
  • Bahaya Malam: Namun, jangan pernah nekat mencari ikan ini saat malam hari. Telaga Warna menjadi tempat berkumpulnya banyak penampakan lain yang siap mengganggu. Beberapa pendaki mengaku merasa ditarik-tarik oleh tangan tak kasat mata saat berfoto di tepi telaga, atau mendengar suara orang memanggil nama mereka dari dalam air.

Kesempatan mengabulkan hajat selalu datang dengan risiko besar di tempat yang disakralkan.

2. Kandang Badak: Gerbang Menuju Alam Gaib

Pos Kandang Badak sudah lama terkenal angker di kalangan pendaki. Lokasinya yang sering diselimuti kabut tebal secara alami menciptakan suasana yang sangat horor dan mencekam.

  • Transisi Dimensi: Banyak yang percaya bahwa Kandang Badak adalah gerbang antara dunia nyata dan alam gaib. Kabut tebal tersebut seolah menjadi tirai yang memisahkan dua dimensi.
  • Penampakan dan Suara: Penampakan di sini sangat bervariasi: mulai dari suara derap kaki kuda padahal tidak ada hewan ternak di sana, hingga bayangan hitam yang melompat gesit dari satu pohon ke pohon lain.
  • Risiko Tersesat: Terlepas dari hal gaib, Kandang Badak memang secara logis sangat rawan menyebabkan pendaki tersesat karena jalurnya bercabang dan visibilitasnya sering minim karena kabut. Namun, bagi para pendaki, tersesat di sini sering dikaitkan dengan gangguan dari "penunggu".

3. Larangan Bicara Kasar yang Menjadi Kenyataan

Mitos ini adalah salah satu yang paling sering ditekankan dan memiliki bukti kisah nyata yang cukup banyak dari pendaki.

Gunung Gede konon sangat sensitif terhadap ucapan, dan ada larangan keras untuk berbicara kasar, jorok, atau sombong selama pendakian.

  • Bentuk Teguran: Jika ada yang melanggar, mereka akan langsung “ditegur” oleh penunggu gunung. Bentuk tegurannya beragam, dari hal ringan seperti nyasar beberapa menit, hingga yang paling parah: kesurupan massal.
  • Grup Pendaki Linglung: Salah satu cerita yang sering beredar adalah tentang sekelompok pendaki yang salah satu anggotanya bicara kotor. Tiba-tiba, seluruh anggota kelompok menjadi linglung, muter-muter di jalur yang sama berjam-jam, dan baru bisa sadar serta menemukan jalur yang benar setelah mereka semua meminta maaf kepada penunggu gunung.

Ini adalah pengingat penting: hargai tempat yang Anda pijak, karena alam bisa mendengar dan merespons.

4. Alun-Alun Suryakencana yang "Hidup" di Malam Hari

Meskipun di siang hari Alun-Alun Suryakencana adalah spot favorit untuk berfoto dengan hamparan edelweiss yang menawan, suasananya berubah 180 derajat setelah matahari terbenam.

  • Pesta Gaib: Saat malam, pendaki sering mendengar suara gamelan dan bisik-bisik dari arah semak belukar. Mitos ini diyakini sebagai pertemuan gaib yang diadakan oleh Pangeran Suryakencana—sosok mitologis yang dipercaya menjadi pelindung gunung—bersama pengikutnya.
  • Prajurit Berjaga: Ada juga laporan penampakan prajurit kerajaan lengkap dengan baju zirah yang terlihat berjaga-jaga.
  • Larangan Bermalam: Karena aktivitas gaib yang intens ini, pendaki lokal sangat melarang untuk bermalam langsung di tengah alun-alun. Lebih baik mendirikan tenda di pinggiran atau area yang sudah disarankan.

5. Kutukan Memetik Bunga Edelweiss

Meskipun sudah ada larangan resmi dari Taman Nasional untuk tidak memetik bunga edelweiss (bunga abadi), mitos tentang kutukan memetik bunga ini masih sangat kuat dipercaya.

  • Sial Bertubi-tubi: Konon, siapa pun yang nekat memetik bunga edelweiss akan ketimpa sial berturut-turut setelah turun gunung. Ada cerita horor tentang pendaki yang tangannya tiba-tiba bengkak setelah memetik edelweiss, hingga yang mengalami musibah bertubi-tubi di rumah.
  • Bunga Keramat: Bagi pendaki lokal, edelweiss bukan hanya tanaman yang harus dilindungi karena aturan konservasi, tetapi juga karena statusnya sebagai bunga keramat yang dijaga oleh penunggu gunung. Melindungi edelweiss sama dengan melindungi keselamatan diri sendiri.

Dari mitos pengabul permintaan hingga bahaya larangan bicara, Gunung Gede mengajarkan kita pentingnya kerendahan hati dan etika saat berinteraksi dengan alam. Selalu utamakan keselamatan dan hormati setiap kisah yang menyelimutinya!

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.