Jateng

22 Orang Batuk dan Sesak Napas Imbas Kebakaran TPA Jatibarang, Bara Api Masih Mengancam

Muhammad Husni Mushonifi | 13 Oktober 2026, 19:02 WIB
22 Orang Batuk dan Sesak Napas Imbas Kebakaran TPA Jatibarang, Bara Api Masih Mengancam

JATENG.AKURAT.CO, Kebakaran Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatibarang, Kecamatan Mijen, Kota Semarang, menyisakan persoalan serius meski kobaran api di permukaan telah berhasil dipadamkan. Sebanyak 22 orang dilaporkan mengalami gangguan pernapasan berupa batuk dan sesak napas, sementara petugas gabungan masih berjibaku mendinginkan timbunan sampah yang menyimpan bara api.

Hingga Selasa (13/10/2026), titik panas yang masih dalam penanganan diperkirakan seluas 0,163 hektare. Petugas memusatkan upaya pengendalian di zona 4 untuk memastikan bara di bagian dalam timbunan sampah tidak kembali memicu kebakaran.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang, Endro Pudyo Martantono, mengatakan kondisi di permukaan lokasi kebakaran sudah tidak menunjukkan adanya kobaran api. Kendati demikian, proses pendinginan belum dapat dihentikan karena masih ditemukan sisa bara di dalam tumpukan sampah.

"Sudah tidak ada api di permukaan. Tinggal proses pendinginan. Bara api masih sedikit, bisa dilokalisasi dengan injeksi di zona 4," kata Endro, Selasa (13/10/2026).

Menurut dia, penanganan difokuskan pada penyuntikan air ke bagian dalam timbunan sampah. Langkah ini dilakukan untuk menjangkau sumber panas yang tidak terlihat dari permukaan, sekaligus mengurangi risiko munculnya kembali kobaran api.

22 Orang Mengalami Gangguan Pernapasan

Dampak kebakaran TPA Jatibarang turut dirasakan masyarakat melalui keluhan kesehatan. BPBD Kota Semarang mencatat sebanyak 22 orang mengalami batuk dan sesak napas selama kebakaran berlangsung.

Meski terdapat laporan gangguan pernapasan, Endro menyebut tidak ada korban jiwa maupun korban luka-luka dalam peristiwa tersebut.

Asap dari pembakaran timbunan sampah menjadi salah satu persoalan yang perlu diwaspadai selama proses penanganan. Paparan asap dapat mengganggu kualitas udara dan memicu keluhan pernapasan, terutama bagi orang yang berada di sekitar kawasan terdampak.

Masyarakat yang mengalami sesak napas atau merasakan gejala yang semakin berat perlu segera mencari pertolongan medis. Warga juga perlu mengurangi paparan asap selama kondisi di sekitar lokasi belum dinyatakan sepenuhnya aman.

Adanya laporan gangguan pernapasan tersebut menunjukkan bahwa penanganan kebakaran tidak cukup hanya berorientasi pada pemadaman api. Pengendalian asap dan upaya mengurangi paparan terhadap masyarakat juga menjadi perhatian penting hingga seluruh titik panas berhasil ditangani.

Area Terdampak Berhasil Ditekan, Pendinginan Belum Tuntas

Endro menjelaskan, upaya pemadaman dan mitigasi telah menekan area yang masih terdampak hingga sekitar 95 persen. Namun, kondisi tersebut tidak berarti penanganan kebakaran dapat langsung dihentikan.

Titik panas yang tersisa seluas sekitar 0,163 hektare tetap membutuhkan penanganan khusus. Bara yang tertinggal di dalam timbunan sampah berpotensi memicu pembakaran ulang apabila tidak didinginkan secara menyeluruh.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, petugas menggunakan pompa air alcon dan pompa portabel. Air diambil dari sungai, kemudian dialirkan melalui selang dan nosel menuju bagian timbunan sampah yang masih menyimpan panas.

"Upaya pemadaman menggunakan pipa injeksi di empat titik. Pemasangan trucuk dilakukan sebagai pembatas untuk menahan material sampah dan memudahkan proses pendinginan," ungkap Endro.

Pipa injeksi digunakan untuk menyalurkan air ke titik-titik yang membutuhkan pendinginan, sedangkan pemasangan trucuk berfungsi membantu menahan pergerakan material sampah. Kombinasi metode tersebut diharapkan mempermudah petugas mengendalikan bara di zona 4.

Kebakaran Meluas hingga 10 Hektare

Kebakaran TPA Jatibarang dilaporkan mulai terjadi pada Rabu (30/9/2026) sekitar pukul 17.30 WIB. Api pertama kali muncul di zona 3 sebelum merambat ke zona 1 dan zona 2.

Dari total luas kawasan TPA Jatibarang sekitar 46,183 hektare, area yang terdampak kebakaran diperkirakan mencapai 10 hektare. Sekitar 8 hektare berada di zona 1 dan zona 2, sedangkan 2 hektare lainnya berada di zona 3.

Besarnya area terdampak membuat penanganan kebakaran tidak dapat dilakukan secara sederhana. Petugas harus memastikan api di permukaan padam sekaligus menelusuri bagian dalam timbunan sampah yang masih menyimpan panas.

Salah satu dugaan yang muncul terkait kebakaran tersebut adalah keberadaan gas metana yang mudah terbakar, ditambah kondisi cuaca ekstrem selama musim kemarau. Namun, dugaan tersebut belum dapat dipastikan sebagai penyebab utama tanpa hasil pemeriksaan dari pihak berwenang.

Karakteristik timbunan sampah yang tebal juga menjadi tantangan tersendiri. Api yang tidak lagi terlihat dari luar belum tentu menandakan seluruh sumber panas telah hilang. Karena itu, pendinginan harus dilakukan secara bertahap dan menyeluruh.

Petugas Kerahkan Alat Berat dan Pompa Air

Untuk mempercepat penanganan, petugas gabungan mengerahkan armada pemadam kebakaran, truk tangki air dari sejumlah instansi, serta peralatan pendukung lainnya.

Sejumlah alat berat yang digunakan meliputi empat ekskavator, dua loader, dan dua buldoser. Selain itu, empat pompa portabel dikerahkan untuk membantu mengalirkan air ke lokasi yang masih membutuhkan pendinginan.

Alat berat dimanfaatkan untuk membantu penanganan dan pengaturan material sampah, sedangkan pompa digunakan untuk mendukung distribusi air ke titik-titik panas.

Meski berbagai peralatan telah dikerahkan, proses penanganan masih menghadapi kendala akses menuju lokasi kebakaran. Jalan yang sempit dan terbatasnya jalur menuju bagian terdalam kawasan membuat mobilisasi personel maupun peralatan tidak selalu mudah.

Kondisi tersebut menyebabkan penanganan harus dilakukan dengan mempertimbangkan akses dan tingkat kerawanan di setiap titik. Area yang masih menyimpan bara menjadi prioritas agar potensi kebakaran susulan dapat ditekan.

Bara Api Jadi Fokus Penanganan Lanjutan

BPBD Kota Semarang bersama petugas gabungan masih melanjutkan pendinginan di zona 4. Injeksi air dilakukan untuk menjangkau bagian dalam timbunan sampah, sementara pembatasan material membantu mendukung proses pengendalian di lokasi.

Penanganan belum dapat dinyatakan selesai hanya berdasarkan tidak adanya kobaran api di permukaan. Sisa bara di dalam timbunan sampah masih harus dipastikan benar-benar terkendali agar tidak memicu kebakaran kembali.

Di sisi lain, laporan 22 orang yang mengalami batuk dan sesak napas menjadi pengingat bahwa dampak kebakaran TPA Jatibarang tidak hanya menyangkut kerusakan area penimbunan sampah, tetapi juga potensi gangguan kesehatan masyarakat.

Dengan titik panas tersisa sekitar 0,163 hektare, petugas masih harus memastikan proses pendinginan berjalan optimal. Pemantauan lanjutan diperlukan hingga seluruh bara berhasil dikendalikan dan kondisi kawasan dinyatakan aman.

Upaya tersebut menjadi bagian penting untuk mencegah kebakaran berulang sekaligus mengurangi risiko paparan asap yang dapat memperburuk kualitas udara di sekitar TPA Jatibarang.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.