Dinkes Semarang Ingatkan Demam Menggigil Tak Bisa Dianggap Sepele, DBD hingga Leptospirosis Mengintai saat Pancaroba

JATENG.AKAURAT.CO, Masyarakat Kota Semarang diminta lebih waspada terhadap demam yang disertai menggigil, terutama di tengah perubahan cuaca selama masa pancaroba. Keluhan tersebut tidak boleh serta-merta dianggap sebagai dampak cuaca yang berubah-ubah karena bisa menjadi tanda infeksi, termasuk demam berdarah dengue (DBD) dan leptospirosis.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang, M Abdul Hakam, mengatakan perubahan suhu udara, tingkat kelembapan, serta curah hujan berpotensi memengaruhi kondisi kesehatan masyarakat. Selain DBD dan leptospirosis, sejumlah penyakit lain yang perlu diantisipasi adalah infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), influenza, dan diare.
Menurut Hakam, kondisi cuaca yang berubah dari panas menjadi hujan dalam waktu relatif singkat perlu diikuti dengan peningkatan kewaspadaan terhadap berbagai gangguan kesehatan.
“Perubahan cuaca yang cukup ekstrem, kadang panas kemudian turun hujan, disertai perubahan suhu dan kelembapan, dapat meningkatkan risiko munculnya beberapa penyakit di masyarakat,” ujar Hakam, Selasa (13/10/2026).
Ia mengingatkan masyarakat agar tidak terburu-buru mengaitkan demam dan menggigil dengan perubahan cuaca. Sebab, gejala tersebut dapat dipicu oleh berbagai kondisi kesehatan yang membutuhkan pemeriksaan dan penanganan berbeda.
Demam Berulang Perlu Diperiksa, Jangan Tunggu Kondisi Memburuk
Hakam menegaskan, demam yang disertai menggigil bukanlah keluhan yang bisa selalu dianggap ringan. Pemeriksaan tenaga kesehatan diperlukan untuk mengetahui penyebab pasti, terutama jika demam berlangsung terus-menerus, menggigil berulang, atau kondisi tubuh semakin melemah.
Masyarakat juga diminta segera mencari pertolongan medis apabila mengalami gejala yang mengarah pada kondisi serius. Tanda bahaya tersebut antara lain sesak napas, penurunan kesadaran, muntah berulang, nyeri perut hebat, hingga perdarahan.
Menurutnya, pengenalan gejala sejak awal menjadi salah satu langkah penting untuk mencegah penyakit berkembang menjadi lebih berat. Masyarakat tidak perlu panik, tetapi tetap harus bersikap waspada dan tidak menunda pemeriksaan ketika keluhan yang dialami semakin mengkhawatirkan.
“Demam disertai menggigil tidak bisa langsung kita simpulkan hanya disebabkan oleh perubahan cuaca. Yang terpenting adalah mengenali gejalanya dan memastikan penyebabnya melalui pemeriksaan tenaga kesehatan,” tegasnya.
Ia menambahkan, kewaspadaan masyarakat perlu diimbangi dengan pemahaman bahwa tidak semua demam memiliki penyebab yang sama. Karena itu, penanganan sebaiknya tidak hanya didasarkan pada perkiraan atau anggapan pribadi.
“Pesan kami, masyarakat tidak perlu panik, tetapi jangan menganggap setiap demam dan menggigil sebagai akibat cuaca biasa. Deteksi dini dan penanganan yang tepat adalah kunci untuk mencegah kondisi yang lebih serius,” kata Hakam.
Pantau Tren Penyakit melalui 40 Puskesmas
Untuk mengantisipasi perkembangan penyakit selama pancaroba, Dinkes Kota Semarang terus memantau data kunjungan pasien di 40 puskesmas. Pemantauan dilakukan guna mengetahui pola keluhan kesehatan serta perkembangan kasus yang tercatat di fasilitas pelayanan kesehatan.
Hakam menjelaskan, peningkatan kewaspadaan terhadap penyakit musiman tidak serta-merta menunjukkan bahwa jumlah kasus sedang melonjak. Kepastian mengenai kenaikan kasus harus mengacu pada hasil pemantauan dan perbandingan data secara berkala.
“Untuk memastikan ada atau tidaknya kenaikan, kami melihat data kunjungan dan tren kasus di fasilitas pelayanan kesehatan secara berkala,” jelasnya.
Data tersebut menjadi dasar untuk mengidentifikasi kemungkinan perubahan pola penyakit di masyarakat. Dengan pemantauan yang berkelanjutan, langkah pencegahan dan penanganan dapat disesuaikan dengan kondisi yang ditemukan di lapangan.
Dinkes juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah menyimpulkan terjadinya lonjakan penyakit hanya berdasarkan perubahan cuaca atau munculnya keluhan pada sejumlah orang. Informasi mengenai perkembangan kasus perlu merujuk pada data yang telah dihimpun dan dievaluasi oleh petugas kesehatan.
ISPA dan Influenza Bisa Ditekan dengan Pola Hidup Sehat
Di tengah perubahan cuaca, masyarakat juga diminta menjaga daya tahan tubuh dan menerapkan kebiasaan hidup bersih. Upaya pencegahan yang dianjurkan meliputi mencuci tangan menggunakan sabun, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, mencukupi waktu istirahat, serta menggunakan masker ketika sedang sakit.
Selain itu, warga perlu menerapkan etika batuk dan bersin serta mengurangi kontak dekat dengan orang lain saat mengalami gejala infeksi saluran pernapasan. Kebiasaan tersebut menjadi bagian dari upaya mengurangi risiko penularan ISPA dan influenza.
Masyarakat juga diminta tidak mengabaikan keluhan yang tidak kunjung membaik. Jika gejala semakin berat atau mengganggu aktivitas, pemeriksaan medis diperlukan agar penyebab penyakit dapat diketahui dan penanganan diberikan sesuai kondisi pasien.
Penerapan perilaku hidup bersih dan sehat diharapkan dapat membantu melindungi diri sendiri sekaligus mengurangi risiko penularan penyakit kepada anggota keluarga maupun orang-orang di sekitar.
Gerakan 3M Plus Jadi Kunci Pencegahan DBD
Selain penyakit pernapasan, DBD menjadi salah satu ancaman kesehatan yang perlu diantisipasi selama pancaroba. Upaya pencegahan dapat dimulai dari lingkungan rumah dengan memutus siklus perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti, yang menjadi penular virus dengue.
Dinkes Kota Semarang mengimbau warga rutin melakukan pemberantasan sarang nyamuk melalui gerakan 3M Plus. Gerakan tersebut mencakup menguras tempat penampungan air, menutup rapat wadah penyimpanan air, serta mendaur ulang atau menyingkirkan barang bekas yang berpotensi menampung air hujan.
Adapun langkah Plus dilakukan melalui tindakan tambahan untuk mengurangi risiko perkembangbiakan dan gigitan nyamuk, sesuai kebutuhan serta anjuran petugas kesehatan.
Pemeriksaan lingkungan tidak cukup hanya dilakukan sesekali. Warga perlu rutin mengecek pot tanaman, ember, talang air, wadah bekas, dan berbagai tempat lain yang memungkinkan air menggenang.
Genangan dalam wadah berukuran kecil sekalipun dapat menjadi tempat nyamuk berkembang biak apabila dibiarkan. Karena itu, menjaga kebersihan lingkungan dan menghilangkan tempat penampungan air yang tidak diperlukan perlu menjadi kebiasaan bersama.
Pencegahan DBD juga membutuhkan keterlibatan seluruh anggota keluarga dan lingkungan sekitar. Langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten dinilai penting untuk mengurangi peluang nyamuk berkembang biak di permukiman.
Leptospirosis Mengintai di Lingkungan Banjir dan Genangan
Selain DBD, masyarakat Semarang diminta mewaspadai leptospirosis, khususnya ketika terjadi banjir atau genangan yang berpotensi tercemar urine hewan terinfeksi.
Leptospirosis merupakan penyakit akibat bakteri Leptospira. Bakteri tersebut dapat masuk ke tubuh melalui kulit yang terluka atau selaput lendir ketika seseorang bersentuhan dengan air maupun tanah yang terkontaminasi, termasuk akibat paparan urine tikus yang terinfeksi.
Untuk mengurangi risiko penularan, masyarakat disarankan menghindari kontak langsung dengan air yang diduga tercemar. Apabila harus beraktivitas di kawasan banjir atau genangan, warga perlu menggunakan alat pelindung yang sesuai dan segera membersihkan tubuh setelah terpapar.
Kewaspadaan juga perlu ditingkatkan apabila seseorang mengalami demam setelah beraktivitas di lingkungan yang berisiko. Riwayat kontak dengan air banjir, genangan, atau tanah yang berpotensi tercemar sebaiknya disampaikan kepada tenaga kesehatan ketika menjalani pemeriksaan.
Informasi mengenai riwayat paparan tersebut dapat membantu tenaga kesehatan melakukan penilaian terhadap kemungkinan penyebab penyakit dan menentukan pemeriksaan lanjutan yang diperlukan.
Dinkes Tekankan Pencegahan dan Deteksi Dini
Hakam menegaskan, perlindungan kesehatan masyarakat selama pancaroba tidak cukup hanya mengandalkan pengobatan ketika seseorang sudah jatuh sakit. Pencegahan, pemantauan perkembangan penyakit, dan deteksi dini perlu berjalan beriringan untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan.
Masyarakat diharapkan tetap tenang menghadapi perubahan cuaca, tetapi tidak meremehkan gejala yang muncul. Menjaga kebersihan diri dan lingkungan, memberantas sarang nyamuk, menghindari paparan air yang berpotensi tercemar, serta memeriksakan diri ketika mengalami keluhan yang mengkhawatirkan merupakan langkah penting untuk menjaga kesehatan.
Dinkes Kota Semarang juga mengingatkan pentingnya kesadaran masyarakat dalam mengenali gejala penyakit dan mencari pertolongan medis sesuai kebutuhan. Semakin cepat suatu penyakit dikenali, semakin besar peluang untuk memperoleh penanganan yang tepat sebelum kondisi berkembang menjadi lebih serius.
“Keberhasilan pelayanan kesehatan bukan hanya ketika masyarakat yang sakit dapat diobati, tetapi ketika semakin banyak masyarakat dapat kita lindungi agar tidak jatuh sakit,” tutur Hakam.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Kisah Heroik H Soekaimi, Komandan Hizbullah Mranggen yang Gugur Ditembak Belanda pada 1946
- 2Drama VAR! Persib vs Dewa United, Maung Dibikin Geram! Penalti di Akhir Laga Tak Diberikan
- 3Prediksi Skor Deltras FC vs Persela Lamongan: Duel Sengit Perebutan Puncak Klasemen Pegadaian Championship 2026/27
- 4MotoGP Mandalika 2026: Acosta dan Marquez Saling Memberi Posisi demi Hindari Penalti
- 5Kapan Balapan F1 Berikutnya? GP Amerika Serikat 2026 di Austin, Ini Jadwal Lengkapnya
- 6Semarang Heritage Night Run 2026 Hadirkan Sensasi Lari Malam di Tengah Kekayaan Budaya Kota Lama
- 7Ofero Ride Fest 2026 Hadir di Semarang, Kenalkan Motor Listrik Carria 1 dengan Jarak Tempuh 130 Kilometer
- 8Cegah Pembayaran Upah Tak Sesuai Kinerja, Pemkot Semarang Perkuat Sistem Evaluasi PJLP
- 9OJK Jateng Gandeng Nasyiatul Aisyiyah, 70 Kader Perempuan Disiapkan Jadi Duta Literasi Keuangan
- 1015 Rekomendasi Film Komedi Indonesia di Netflix, Ceritanya Kocak dan Bikin Mood Balik Lagi!




