Atasi Masalah Sampah, Pemkab Demak Melalui Dinas Lingkungan Hidup Gandeng Ponpes di Mijen

Akurat.co – Mengatasi masalah sampah, Pemkab Demak melakukan kerjasama dengan pondok pesantren yang ada di wilayah Demak.
Salah satunya adalah dengan melakukan pengelolaan sampah Pondok Pesantren Darus Salam Kecamatan Mijen.
Diharapkan dengan kegiatan ini, para santri bisa menerapkan ilmu yang diperoleh.
Mulai dari belajar mengaplikasikan bagaimana cara memilah sampah, mendaur ulang, dan mengolah sampah organik menjadi kompos.
Demikian dikatakan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Demak Muh Ridhodhin, Sh, Mh saat membuka pelatihan pengelolaan sampah berbasis masyarakat/komunitas di Pondok Pesantren Darus Salam Mijen beberapa waktu lalu.
Kadinas berharap dengan adanya pelatihan tersebut semoga ke depan bisa menciptakan inovasi untuk mengubah limbah menjadi produk yang berguna dan memiliki nilai ekonomis.
“Melalui pelatihan ini, kita berupaya untuk membekali para santri dan pengelola pesantren dengan pengetahuan dan keterampilan dalam mengelola sampah secara mandiri dan berkelanjutan,” ujar Rudhodhin.
Pihaknya berharap, para peserta pelatihan dapat memanfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya untuk belajar bagaimana cara memilah sampah, mendaur ulang, dan mengolah sampah organik menjadi kompos.
Dengan penerapan praktik-praktik ini, kita bisa menciptakan lingkungan pesantren yang bersih, asri, dan sehat, yang pada akhirnya akan meningkatkan kualitas hidup seluruh penghuni pesantren.
Menurutnya Pemerintah Kabupaten Demak terus melakukan berbagai upaya peningkatan kebersihan dan keindahan wilayah.
Salah satunya melalui pengelolaan sampah terpadu dan juga bank sampah.
Saat ini Demak memiliki tiga Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang berada di Candisari Mranggen, TPA Kalikondang dan TPA Berahan Kulon.
Namun, hanya TPA Berahan Kulon yang masih beroperasi, karena 2 TPA lainnya sudah overload, karena lebih dari 60 persen sampah yang dihasilkan merupakan timbunan sampah plastik.
Pemkab Demak juga terus berupaya mengajak, mengedukasi dan menggerakkan masyarakat, untuk mulai menghidupkan bank sampah.
Harapannya, masyarakat mulai memiliki pola pikir dari “membuang” menjadi “memanfaatkan”, sehingga pendekatan pengelolaan sampah harus diubah dari “cost centre” menjadi “profit centre”.
“Besar harapan kami dengan pelatihan ini, para santri Ponpes Darus Salam bisa menjadi teladan bagi masyarakat dalam menerapkan program pengelolaan sampah berbasis masyarakat di pesantren,” pungkasnya. ADVDEMAK
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










