Jateng

Kenapa Barang Diskon Sering Nggak Terpakai? Ternyata Ini 4 Jebakan Psikologisnya

Theo Adi Pratama | 19 Oktober 2026, 16:20 WIB
Kenapa Barang Diskon Sering Nggak Terpakai? Ternyata Ini 4 Jebakan Psikologisnya
Foto Ilustrasi - Barang Diskon

JATENG.AKURAT.CO, Barang yang dibeli saat diskon besar-besaran sering berakhir tidak terpakai karena otak kita sudah “menang” di kasir, bukan di ruang keluarga—dan riset terbaru 2026 bilang ini bukan soal boros, tapi soal dopamin, FOMO, dan rasa sayang yang salah tempat.

Baca Juga: Sisa Saldo Rp50.000, Gajian Masih Jauh: Panduan Bertahan Hidup Tanpa Gali Lubang

Ilusi “Hemat” yang Bikin Kita Justru Boros

Pernah nggak, kamu beli air fryer karena diskon 60 persen, lalu setelah dua minggu alat itu jadi pajangan di atas lemari? Atau beli baju “buat kondangan” yang sampai sekarang masih ada tag-nya? Kalau iya, kamu nggak sendirian.

Data riset di Indonesia cukup telak: sekitar 50–60 persen konsumen saat momentum Harbolnas cenderung berbelanja konsumtif, bukan berdasarkan kebutuhan.

Studi lain pada 315 mahasiswa Gen Z pengguna e-commerce menemukan bahwa promosi penjualan berkontribusi 44,6 persen terhadap perilaku belanja impulsif—dan belanja impulsif ini sering mengarah pada pembelian barang yang tidak terpakai.

Artinya, barang yang nggak terpakai itu bukan bug dalam sistem belanja kita. Ia adalah hasil desain—baik desain pemasaran, maupun desain cara otak kita merespons diskon.

Kenapa Otak Kita “Kalap” Saat Lihat Label Diskon?

1. Dopamin: Sensasi Menang di Kasir, Bukan di Rumah

Diskon memicu respons dopamin—hormon yang bikin kita merasa senang dan “menang”. Riset dari Universitas Politeknik Valencia (UPV) 2026 menyebut belanja diskon memicu kombinasi rasa hemat, kesenangan emosional, dan rasa bersalah yang lebih rendah—yang membuat keputusan jadi lebih cepat dan lebih impulsif.

Masalahnya, dopamin ini datang dari proses membeli, bukan dari kegunaan barang. Begitu transaksi selesai, sensasi “menang” itu perlahan hilang. Yang tersisa adalah barang yang belum tentu dibutuhkan—dan kadang penyesalan di akhir bulan.

2. FOMO: “Sayang Kalau Dilewatkan”

Fear of Missing Out (FOMO) adalah bahan bakar utama diskon. Strategi seperti countdown timer, stok terbatas, dan notifikasi “produk hampir habis” sengaja dirancang untuk menekan sisi emosional kita.

Seorang ibu rumah tangga di Sibolga, Lilis Damanik, mengakui hal ini dengan jujur:

“Awalnya cuma mau beli kebutuhan dapur, tapi karena lihat ada diskon 50 persen untuk barang lain, jadi ikut beli juga. Rasanya sayang kalau dilewatkan.”

Kalimat “sayang kalau dilewatkan” itu bukan sekadar ungkapan. Itu adalah bentuk rasa sakit yang dirancang pemasaran untuk kita rasakan—dan kita menghindarinya dengan cara membeli.

3. Anchoring: Harga Awal Bikin Diskon Terasa “Hadiah”

Otak kita menilai diskon relatif terhadap harga awal, bukan terhadap kebutuhan. Ini disebut anchoring effect: ketika harga awal yang tinggi menjadi patokan, harga diskon terasa seperti keuntungan besar—bahkan jika barangnya tidak terlalu dibutuhkan.

Penelitian dari Harvard Business School yang dikutip RRI menunjukkan bahwa urutan melihat harga bisa mengubah cara otak menghitung nilai pembelian. Jadi, ketika kamu lihat “Rp500.000 → Rp199.000”, otakmu membaca “hemat Rp301.000”, bukan “keluar Rp199.000 untuk barang yang nggak kamu butuhkan”.

4. Post-Purchase Dissonance: Penyesalan yang Datang Belakangan

Setelah membeli, muncul post-purchase dissonance—ketidaknyamanan psikologis ketika perilaku (membeli) bertentangan dengan ekspektasi atau kebutuhan. Untuk meredakannya, kita sering membenarkan pembelian (“nanti pasti kepakai”), bukan mengakui bahwa itu impulsif.

Tapi pembenaran nggak bisa menyulap barang jadi terpakai. Ia cuma menunda penyesalan.

“Efek Memiliki”: Kenapa Barang yang Sudah Dibeli Terasa Sayang Dibuang

Ada satu lagi jebakan psikologis yang bikin barang diskon betah menumpuk: endowment effect—kecenderungan kita menilai barang yang sudah kita miliki lebih tinggi daripada barang yang sama yang belum kita miliki.

Begitu barang diskon itu sampai di rumah dan masuk lemari, ia berubah status dari “barang toko” menjadi “barang saya”. Dan otak kita mulai berkata: “Masa dibuang? Sayang, dulu belinya diskon.”

Padahal, biaya sebenarnya bukan cuma uang yang sudah keluar, tapi juga ruang, waktu, dan energi mental untuk menyimpan dan memikirkannya. Itu yang jarang dihitung.

“Ilusi Diri yang Lebih Baik”: Barang Diskon sebagai Janji yang Tak Ditepati

Salah satu alasan paling halus kenapa barang diskon nggak terpakai adalah karena kita membeli versi diri yang kita inginkan, bukan diri kita yang sebenarnya.

Kita beli alat olahraga karena membayangkan diri jadi orang yang rutin workout.

Kita beli buku self-improvement karena membayangkan diri jadi orang yang rajin baca. Kita beli baju formal karena membayangkan diri menghadiri acara-acara penting.

Diskon membuat janji itu terasa murah dan mendesak—padahal yang dibeli sering bukan barangnya, melainkan fantasi tentang diri sendiri.

Ketika realitas kembali: alat olahraga jadi gantungan baju, buku belum dibuka, dan baju formal masih ada tag-nya.

Jadi, Gimana Cara Berhenti Jadi Kolektor Barang Diskon?

Nggak perlu berhenti belanja. Cukup ubah cara mengambil keputusan—terutama di 30 detik pertama saat melihat label diskon.

1. Terapkan aturan “24 jam”. Sebelum checkout, simpan dulu di keranjang dan tunggu sehari. Kalau besoknya masih merasa butuh, baru beli. Riset menunjukkan bahwa memberi jeda waktu bisa menurunkan dorongan impulsif.

2. Tanya: “Kalau barang ini harga normal, apakah aku tetap beli?” Kalau jawabannya “tidak”, berarti kamu bukan membeli barangnya—kamu membeli diskonnya.

3. Hitung “biaya pakai”, bukan “harga beli”. Barang Rp200.000 yang dipakai 50 kali lebih murah per pakainya daripada barang Rp50.000 yang cuma dipakai sekali. Diskon besar pada barang yang nggak dipakai tetap kerugian penuh.

4. Pisahkan “kebutuhan” dan “keinginan” secara fisik. Buat daftar belanja sebelum buka aplikasi. Kalau barang nggak ada di daftar, anggap itu keinginan—dan keinginan nggak dilarang, tapi harus dianggarkan, bukan didadak.

5. Sadari bahwa “hemat” itu bukan pemasukan. Uang yang “dihemat” dari diskon bukan uang yang masuk ke rekeningmu. Ia cuma uang yang tidak jadi keluar—dan hanya itu. Kalau kamu beli barang yang nggak butuh, kamu tetap mengeluarkan uang, bukan menghemat.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.