Jateng

24 Jam Terakhir: Prancis Rusuh 2.400 Ditangkap, Demo “Menular” ke Italia hingga Portugal

Theo Adi Pratama | 19 Oktober 2026, 14:57 WIB
24 Jam Terakhir: Prancis Rusuh 2.400 Ditangkap, Demo “Menular” ke Italia hingga Portugal

JATENG.AKURAT.CO, Hari ini, Senin (19/10/2026), gelombang protes biaya hidup yang dipicu kerusuhan di Prancis resmi “menular” ke Italia, Belgia, Portugal, dan Albania—dan yang paling bikin merinding, hampir semua aksi berujung bentrok dengan polisi.

Prancis: 2.400 Ditangkap, Hampir 1.000 Petugas Terluka

Ini angka yang bikin mata melotot. Otoritas Prancis mencatat sekitar 2.400 orang ditangkap pada Sabtu (17/10) dalam kerusuhan yang oleh AFP disebut sebagai “some of the worst urban violence in France in years”. Hampir 1.000 polisi dan gendarme terluka, tujuh di antaranya dalam kondisi serius.

Apa yang awalnya dimulai sebagai protes pelajar SMA soal kualitas pendidikan meledak menjadi gelombang kemarahan nasional soal biaya hidup. Serikat pekerja dan gerakan gilets jaunes (rompi kuning) ikut bergabung, menciptakan “badai sempurna” yang sulit dibendung.

Presiden Emmanuel Macron buka suara. Dalam pidato nasionalnya, ia menyebut kekerasan itu sebagai “unbridled violence” dan berjanji akan menindak tegas.

“Kita semua merasa marah dan malu,” kata Macron, seraya menegaskan bahwa otoritas akan “tanpa kompromi” terhadap “agitator dari kelompok sayap kiri ekstrem, yang bergabung dengan banyak pelaku kriminal” .

Kerusakannya nyata: balai kota di Limoges terbakar, kantor pariwisata di Lyon dibakar, butik mewah dan supermarket dijarah, dan balai kota di Marseille diterobos demonstran berpakaian serba hitam.

Italia: Milan “Seperti Zona Perang”, 160 Ditahan

Gelombang protes menyeberang ke Italia dengan intensitas yang tak kalah panas. Di Milan, bentrokan berlangsung dua hari berturut-turut (Sabtu dan Minggu). Sekelompok anak muda bertopeng memecahkan jendela toko, menjarah, dan membakar tempat sampah di sekitar Piazza del Duomo.

Polisi merespons dengan gas air mata dan meriam air. Setidaknya 160 orang ditahan, dan yang bikin miris: sekitar 80 persen di antaranya masih di bawah umur.

Perdana Menteri Giorgia Meloni langsung bereaksi keras dan memanggil rapat keamanan darurat di Palazzo Chigi.

“Berunjuk rasa adalah hak. Mengubah kota-kota kita menjadi medan pertempuran bukanlah sebuah hak,” tegas Meloni.

Bentrokan serupa juga terjadi di Bologna, Turin, Brescia, dan Bergamo, dengan total 28 demonstran ditangkap di berbagai kota tersebut.

Di Roma, serikat pekerja terbesar Italia, CGIL, menggelar aksi besar menentang kebijakan pemerintahan Meloni—menuntut upah yang lebih tinggi dan layanan publik yang lebih baik.

Belgia: Gas Air Mata di Brussels, 195 Ditahan

Di Brussels dan Liège, demo yang awalnya menuntut kenaikan biaya pendidikan berubah menjadi bentrokan. Polisi menembakkan gas air mata dan meriam air untuk membubarkan massa yang melemparkan petasan dan benda-benda lain.

Otoritas Belgia mencatat 195 orang ditahan dalam aksi tersebut. Sebuah kantor partai Sosialis juga dilaporkan dirusak, dan demonstran sempat mendirikan barikade serta membakar barang-barang di jalan.

Portugal: Tenda Protes di Lisbon dan Porto, “Kami Tersedak”

Kalau di Prancis dan Italia kekerasannya meledak, di Portugal protesnya diam tapi keras kepala. Ratusan demonstran mendirikan tenda-tenda protes di Praça D. João I, Porto, dan Rossio, Lisbon—menuntut hak atas perumahan yang makin tak terjangkau.

Polisi (PSP) memerintahkan mereka membongkar tenda karena tidak memiliki izin, tapi mayoritas demonstran menolak pergi. Di Lisbon, mereka membentuk barisan manusia mengelilingi tenda; di Porto, sebagian memakai helm sebagai simbol pertahanan.

Seorang demonstran, Elena Costa (46), menggambarkan situasinya dengan satu kata: “Kami tersedak.” Ia dan banyak warga Portugal lainnya merasa bahwa mereka yang membayar pajak dan “menjalankan negara” justru kehilangan hak paling dasar—tempat tinggal.

Aksi ini sudah berlangsung lebih dari sepekan. Para demonstran bahkan telah mengirim pemberitahuan resmi untuk protes hingga 31 Desember 2026, dan merencanakan aksi di depan Assembleia da República pada 27 Oktober, bertepatan dengan pembahasan anggaran negara 2027.

Albania dan India: Murka yang Tak Kalah Panas

Di Tirana, Albania, demo anti-pemerintah sudah memasuki hari keenam. Ribuan anak muda menuntut pengunduran diri PM Edi Rama, memprotes korupsi, kondisi universitas yang buruk, biaya kuliah tinggi, dan minimnya lapangan kerja.

Bentrokan Minggu (18/10) berlangsung keras: demonstran melempar batu, bom molotov, dan menyalakan kembang api, sementara polisi membalas dengan gas air mata dan peluru karet. 28 orang terluka, termasuk 19 petugas polisi. Rama menolak mundur dan menyebut demo sebagai “ulah pihak luar” . Komisi Eropa pun mengutuk kekerasan yang terjadi.

Sementara di India, mahasiswa IIT Bombay menggelar protes menuntut keadilan atas kematian Sahil Wakode, seorang mahasiswa B.Tech tahun kedua yang mayatnya ditemukan pada 18 September. 22 mahasiswa ditahan pada Minggu (18/10) saat berunjuk rasa di kampus.

Di New Delhi, aksi juga berlangsung menuntut pengunduran diri Kepala Komisi Pemilihan Umum (CEC) Gyanesh Kumar dan pembatalan kebijakan revisi daftar pemilih.

Benang Merah: “Kulkas Kosong Tak Mengenal Partai Politik”

Kalau ditarik satu garis, semua ledakan sosial hari ini punya akar yang sama: biaya hidup yang mencekik.

Di Prancis, pemicunya adalah harga bahan bakar dan pangan yang melonjak; di Portugal, harga sewa yang naik 124 persen dalam sedekade; di Italia, upah yang stagnan sementara harga terus meroket; di Albania, pengangguran dan korupsi; di India, ketidakadilan institusional. Semuanya bermuara pada satu kesimpulan: orang-orang merasa sistem tidak lagi berpihak pada mereka.

Seperti kata seorang aktivis gilets jaunes yang ikut dalam demo di Prancis:

“Kemarahan tak mengenal partai politik, kulkas kosong tak mengenal partai politik.”

Catatan untuk WNI di Luar Negeri

Hingga saat ini, tidak ada laporan WNI yang terlibat dalam kerusuhan tersebut. Namun, KBRI Paris telah mengimbau WNI di Prancis untuk meningkatkan kewaspadaan, menghindari area demo, dan memantau informasi resmi dari otoritas setempat. Hotline KBRI Paris: +33-6-2112-2109.

Jika kamu berada di Eropa—atau berencana ke sana dalam waktu dekat—hindari area demonstrasi di Paris, Milan, Brussels, Lisbon, Porto, dan Tirana. Pantau informasi perjalanan dan siapkan rencana alternatif jika transportasi umum terganggu.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.