Jateng

Rebahan Sambil Scroll HP di Malam Hari? Pekerja Semarang, Waspada 5 Bahaya Ini

Theo Adi Pratama | 13 Oktober 2026, 21:00 WIB
Rebahan Sambil Scroll HP di Malam Hari? Pekerja Semarang, Waspada 5 Bahaya Ini
Foto Ilustrasi

JATENG.AKURAT.CO, Kebiasaan scroll HP sambil rebahan di malam hari terasa seperti cara paling nyaman melepas penat setelah seharian kerja, tapi tanpa disadari, kebiasaan ini diam-diam menggerogoti kualitas tidur, postur tubuh, hingga performa kerja pekerja Semarang keesokan harinya.

Pukul 22.30. Kamu sudah rebahan di kasur, lampu kamar dimatikan, dan HP masih menyala. Ibu jari terus menggeser layar, dari satu video ke video lain, dari satu grup WhatsApp ke grup lain. "Lima menit lagi," begitu janjimu pada diri sendiri. Tahu-tahu sudah jam satu pagi, dan alarm besok masih disetel pukul 05.30.

Kalau ini terdengar seperti rutinitas malammu, kamu tidak sendirian. Data dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menunjukkan bahwa lebih dari separuh orang dewasa di Indonesia tidur kurang dari tujuh jam sehari.

Survei YouGov Desember 2023 mencatat angka 51 persen—artinya separuh dari total masyarakat Indonesia mengalami gangguan tidur. Dan di Semarang, kebiasaan scroll HP sebelum tidur jadi salah satu penyebab utamanya.

Sebuah pra-penelitian pada mahasiswa di Kota Semarang menunjukkan 52,2 persen responden mengaku sering begadang hingga kehilangan waktu tidur demi online, sementara 77,1 persen pernah kehilangan waktu tidur karena alasan yang sama.

Masalahnya, kebiasaan ini bukan cuma soal kurang tidur. Ada sederet bahaya kesehatan yang mengintai—dan efeknya justru terasa paling parah bagi pekerja kantoran yang butuh fokus dan energi sepanjang hari.

1. Tidur Hancur, Produktivitas Kerja Ikut Ambyar

Ini bahaya yang paling langsung terasa. Paparan cahaya biru dari layar HP pada malam hari menghambat produksi melatonin—hormon yang memberi sinyal ke tubuh bahwa sudah waktunya tidur. Sebuah studi menunjukkan bahwa hanya setelah sekitar dua jam terpapar layar LED di malam hari, kadar melatonin bisa turun drastis dan waktu tidur tertunda lebih dari satu jam.

Tapi bukan cuma cahaya yang jadi masalah. Konten yang kamu scroll—baik itu video lucu, berita kerjaan, atau drama grup WhatsApp—membuat otak tetap aktif dan sulit masuk ke mode istirahat. Penelitian dari Michigan State University menemukan bahwa orang yang menggunakan smartphone larut malam untuk urusan pekerjaan mengalami semacam "hangover digital" keesokan harinya: merasa lelah, sulit fokus, dan tidak bertenaga.

Dan kalau kamu berpikir kurang tidur cuma bikin ngantuk doang, angka-angkanya bicara lain. Data dari American Academy of Sleep Medicine menunjukkan bahwa orang yang tidur hanya 5-6 jam per malam mengalami penurunan produktivitas kerja sebesar 19 persen dibandingkan mereka yang tidur 7-8 jam. Kalau tidurnya kurang dari 5 jam, produktivitasnya turun hingga 29 persen. Penderita insomnia sedang hingga berat bahkan kehilangan lebih dari dua kali lipat produktivitasnya.

Sebuah studi dalam jurnal Frontiers in Psychology yang melibatkan 315 karyawan menemukan bahwa penggunaan smartphone sebelum tidur menurunkan kualitas tidur, yang kemudian berujung pada performa kerja yang lebih rendah, keterlibatan kerja yang menurun, dan konflik interpersonal di tempat kerja yang meningkat.

2. Postur Hancur: Leher dan Punggung Menanggung Beban yang Tidak Wajar

Bahaya kedua mungkin lebih terasa di badan daripada di otak. Rebahan sambil main HP—apalagi dengan posisi miring bertumpu pada satu siku—memberi tekanan asimetris yang luar biasa pada tulang belakang. Columbia Asia dalam artikelnya memperingatkan bahwa kebiasaan rebahan sambil menatap layar gawai berjam-jam bisa menjadi pemicu munculnya skoliosis dini. Tulang belakang dipaksa melintir dari poros alaminya, otot penyangga di satu sisi tubuh menegang ekstrem, sementara otot di sisi berlawanan melemah.

Sementara itu, posisi menunduk saat melihat layar HP—yang jadi kebiasaan umum saat rebahan—juga berbahaya. Dr. dr. Didik Librianto, pakar Orthopedi dan Traumatologi dari RS Fatmawati, menjelaskan bahwa saat seseorang menunduk untuk melihat ponsel, beban yang dipikul tulang belakang leher meningkat secara drastis.

"Seseorang itu bisa mengalami hal tersebut yang sering adalah karena aktivitas hari-hari. Pekerjaan, olahraga, posisi. Dari yang sederhana, misalnya kita sering nundukin kepala, main HP, itu juga bisa, atau komputer, laptop," ujar dr. Didik.

Kondisi ini dikenal sebagai text neck syndrome. Ketika kamu menunduk hingga sudut 60 derajat untuk mengetik pesan, beban mekanis pada area leher melonjak hingga mencapai 27 kilogram. Tekanan ekstrem yang berlangsung terus-menerus berpotensi merusak bantalan tulang dan memicu kompresi pada celah saraf leher. Gejalanya bisa menjalar dari nyeri leher hingga kesemutan di tangan dan jari.

Bagi pekerja Semarang yang duduk di depan komputer seharian, kombinasi postur kerja yang buruk dan kebiasaan rebahan main HP di malam hari adalah bom waktu bagi kesehatan tulang belakang.

3. Mata Kering dan Computer Vision Syndrome

Bahaya ketiga adalah yang paling sering diabaikan sampai akhirnya terasa: mata. Saat menatap layar HP dalam waktu lama, frekuensi berkedip menurun drastis. Akibatnya, lapisan air mata di permukaan bola mata menguap lebih cepat, dan muncul rasa kering, perih, serta sensasi seperti ada benda asing di mata.

Kondisi ini disebut digital eye strain atau dalam dunia medis lebih dikenal sebagai Computer Vision Syndrome (CVS). Gejalanya meliputi mata kering, kelelahan mata, penglihatan kabur, dan sakit kepala.

Yang bikin khawatir: pekerja di Semarang sudah masuk kategori rawan. Penelitian dari Universitas Diponegoro terhadap pekerja instansi pemerintahan di Kota Semarang menemukan bahwa 100 persen pekerja mengalami keluhan Computer Vision Syndrome. Sebanyak 31 pekerja (68,9 persen) mengalami keluhan CVS dengan gejala terbanyak sakit kepala (68,9 persen) dan mata terasa gatal (64,4 persen). Kota Semarang sendiri masuk dalam tiga besar wilayah dengan kejadian CVS terbanyak di Indonesia.

Artinya, kalau kamu pekerja kantoran di Semarang dan sudah merasakan mata kering atau pusing setelah seharian di depan layar, kebiasaan scroll HP di malam hari hanya akan memperparah kondisinya.

4. Kualitas Tidur Makin Buruk, Lingkaran Setan Dimulai

Ini yang paling berbahaya: keempat masalah di atas saling memperkuat. Kurang tidur membuatmu sulit fokus di kantor. Sulit fokus membuat pekerjaan menumpuk. Pekerjaan menumpuk membuatmu stres. Stres membuatmu sulit tidur. Dan untuk mengatasi sulit tidur, kamu malah scroll HP lagi. Lingkaran setan pun berputar.

Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Sleep Medicine Reviews bahkan menyebutkan bahwa faktor mental yang membuat otak tetap aktif—seperti konten yang menstimulasi emosi atau pekerjaan yang belum selesai—sering kali lebih berdampak pada sulit tidur dibandingkan cahaya biru itu sendiri. Jadi, bahkan kalau kamu sudah mengaktifkan mode malam atau memakai kacamata blue light filter, kalau otak masih sibuk memproses informasi, tidur tetap akan sulit.

5. Misteri Kacamata Blue Light Filter: Apakah Benar Efektif?

Banyak orang membeli kacamata blue light filter dengan harapan bisa tetap scroll HP malam-malam tanpa mengganggu tidur. Sayangnya, bukti ilmiahnya tidak mendukung klaim tersebut.

Cochrane, organisasi independen yang melakukan tinjauan sistematis terhadap bukti medis, menyimpulkan bahwa kacamata dengan filter blue light "mungkin tidak memberikan perbedaan" pada ketegangan mata, kesehatan mata, atau kualitas tidur. Sebuah tinjauan kritis dalam jurnal ophthalmology juga menegaskan bahwa "tidak ada bukti yang mendukung penggunaan rutin kacamata blue-blocking untuk tujuan preventif atau terapeutik".

"Tidak ada data bagus yang menunjukkan bahwa memakai kacamata blue light efektif dalam memulihkan pola tidur normal Anda," kata Balachandran dari MD Anderson Cancer Center.

Strategi yang paling efektif bukan membeli gadget baru, melainkan light hygiene: mengurangi paparan cahaya di malam hari, menjaga jadwal tidur yang konsisten, dan—yang paling penting—menjauhkan HP dari kasur setidaknya 30 menit sebelum tidur.

Tips Praktis untuk Pekerja Semarang

  1. Terapkan aturan 30 menit. Jauhkan HP dari jangkauan 30 menit sebelum tidur. Isi waktu dengan membaca buku fisik, meregangkan badan, atau sekadar berbaring tanpa distraksi.

  2. Gunakan postur yang benar kalau memang harus main HP. Duduk bersandar dengan nyaman, angkat layar sejajar pandangan mata, dan jangan rebahan miring bertumpu pada satu siku.

  3. Aktifkan mode malam, tapi jangan andalkan. Mode malam membantu mengurangi cahaya biru, tapi tidak menyelesaikan masalah utama: stimulasi mental dari konten yang kamu konsumsi.

  4. Rutinkan peregangan setiap 30 menit. Kalau kamu sudah duduk seharian di kantor, jangan tambah beban leher dengan rebahan main HP berjam-jam.

  5. Kalau mata sudah terasa kering, terapkan aturan 20-20-20. Setiap 20 menit menatap layar, lihat objek berjarak 20 kaki (6 meter) selama 20 detik.

  6. Kalau nyeri punggung sudah menetap berminggu-minggu, jangan abaikan. Itu sinyal tubuh yang butuh perhatian medis, bukan sekadar diurut atau dikasih balsem.


Malam ini, sebelum kamu rebahan dan meraih HP, coba ingat satu hal: tubuhmu sudah bekerja keras seharian. Lehermu sudah menopang kepala selama berjam-jam di depan komputer. Matamu sudah lelah menatap layar.

Punggungmu sudah kaku karena postur kerja yang tidak ideal. Memberinya waktu istirahat yang benar bukan kemewahan, tapi kebutuhan.

Dan kadang, cara terbaik untuk pulih dari hari yang melelahkan adalah dengan benar-benar berhenti—bukan dengan scroll tanpa ujung sampai jam dua pagi.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.