Jateng

Dari Raksasa Internet Menuju Kehancuran: Kisah Tragis Yahoo yang Melewatkan Google, Facebook, dan Masa Depannya!

Theo Adi Pratama | 21 Februari 2025, 08:00 WIB
Dari Raksasa Internet Menuju Kehancuran: Kisah Tragis Yahoo yang Melewatkan Google, Facebook, dan Masa Depannya!

JATENG.AKURAT.CO, Siapa yang tidak kenal Yahoo? Di era awal internet, nama ini begitu megah, bak raja yang menguasai dunia digital.

Yahoo Mail, Yahoo Messenger, dan mesin pencarinya pernah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan online kita.

Tapi, di mana Yahoo sekarang? Mengapa perusahaan yang dulu begitu perkasa ini kini nyaris hilang dari peta persaingan teknologi? Mari kita telusuri kisah naik turunnya sang raksasa internet yang gagal mempertahankan tahtanya.

Yahoo: Sang Pelopor Internet

Yahoo didirikan pada tahun 1994 oleh dua mahasiswa Stanford, Jerry Yang dan David Filo.

Awalnya, Yahoo hanyalah sebuah direktori bookmark yang membantu pengguna internet menemukan situs-situs favorit mereka.

Namun, dengan cepat, Yahoo berkembang menjadi portal internet terbesar di dunia.

Mereka merilis layanan seperti Yahoo Mail, Yahoo Messenger, dan Yahoo Games, yang semuanya menjadi pionir di masanya.

Pada puncak kejayaannya di tahun 2000, Yahoo mencapai valuasi pasar sebesar $125 miliar.

Mereka adalah perusahaan internet terbesar di dunia, mengalahkan semua pesaingnya. 

Namun, siapa sangka bahwa kejayaan itu hanya bertahan sebentar?

Kesalahan Fatal yang Menghancurkan Yahoo

Yahoo perlahan tapi pasti kehilangan dominasinya. Ada beberapa kesalahan fatal yang membuat perusahaan ini jatuh dari puncak:

1. Tidak Memiliki Unique Value Proposition

Yahoo mencoba melakukan segalanya: mesin pencari, email, pesan instan, media sosial, dan banyak lagi.

Namun, mereka tidak pernah benar-benar unggul di bidang mana pun.

Mesin pencari mereka kalah oleh Google, Yahoo Messenger kalah oleh Facebook, dan Yahoo Mail kalah oleh Gmail.

2. Menolak Membeli Google (Dua Kali!)

Pada tahun 1998, Larry Page dan Sergey Brin menawarkan Google kepada Yahoo dengan harga 1juta. Yahoo menolak, menganggap mesin pencari tidak akan pernah menjadi bisnis yang menguntungkan.

Kesempatan kedua datang pada tahun 2002, ketika Yahoo menawar Google seharga 3 miliar, tetapi menolak menaikkan tawaran saat Google meminta 5miliar.

Padahal, kini Google bernilai lebih dari 2  triliun!

3. Gagal Mengakuisisi Facebook

Pada tahun 2006, Yahoo menawarkan 1miliar untuk membeli Facebook.

Meskipun sebagian besar direksi Facebook setuju, Mark Zuckerberg menolak karena yakin Facebook bernilai lebih.

Alih−alih menaikkan tawaran, Yahoo malah menurunkannya menjadi 800 juta, dan kesepakatan pun gagal.

4. Menolak Tawaran Microsoft

Pada tahun 2008, Microsoft menawarkan $44,4 miliar untuk membeli Yahoo.

Namun, Yahoo menolak dengan alasan harga tersebut meremehkan nilai perusahaan.

Keputusan ini dianggap sebagai salah satu blunder terbesar dalam sejarah bisnis teknologi.

5. Masalah Keamanan dan Server

Yahoo juga dilanda masalah kebocoran data besar-besaran dan server yang sering down.

Kejadian ini membuat kepercayaan pengguna hancur, dan banyak yang beralih ke layanan lain yang lebih andal.

Akhir Tragis Sang Raksasa

Pada tahun 2017, Yahoo akhirnya diakuisisi oleh Verizon dengan harga hanya $4,83 miliar—jauh dari valuasi puncaknya di tahun 2000.

Yahoo, yang dulu menjadi simbol inovasi dan kekuatan internet, kini hanya tinggal kenangan.

Pelajaran dari Kejatuhan Yahoo

Kisah Yahoo memberikan banyak pelajaran berharga:

1. Jangan Berhenti Berinovasi

Yahoo terlalu nyaman dengan posisinya dan gagal beradaptasi dengan perubahan teknologi.

2. Fokus pada Unique Value

Mencoba melakukan segalanya justru membuat Yahoo kehilangan identitas.

3. Manfaatkan Peluang Emas

Yahoo melewatkan kesempatan untuk membeli Google dan Facebook, dua perusahaan yang kini menguasai dunia teknologi.

4. Visi dan Misi yang Jelas

Tanpa visi yang kuat, sebuah perusahaan akan mudah tersesat dalam persaingan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.