Jateng

Jejak Sejarah dan Asal Nama Desa Boja: Kisah Perjalanan dari Pionir Hingga Desa yang Berjaya di Kendal

Theo Adi Pratama | 3 Maret 2024, 13:00 WIB
Jejak Sejarah dan Asal Nama Desa Boja: Kisah Perjalanan dari Pionir Hingga Desa yang Berjaya di Kendal

AKURAT.CO Sejarah, Desa Boja, sebuah kawasan yang terletak di kecamatan Boja, Kabupaten Kendal, mempunyai sejarah yang kaya dan menarik yang membentuk identitasnya yang unik.

Dengan jarak sekitar 25 kilometer dari Kota Kendal, wilayah Desa Boja membentang dari timur di Pertigaan Jamban hingga ke barat di Pasar Boja, dan dari Dusun Sembung di selatan hingga Dusun Ngadibolo di sebelah utara.

Sebagian besar wilayahnya adalah permukiman, sementara sisanya adalah persawahan dan lahan kebun masyarakat.

Desa Boja terdiri dari 10 dusun yang kaya akan sejarah, di antaranya Dusun Jagalan, Dusun Sapen, Dusun Gentan Lor, Dusun Gentan Kidul, Dusun Kauman, Dusun Gedangan, Dusun Penaton, Dusun Pilang, Dusun Klesem, dan Dusun Ngadibolo.

Sejarah Desa Boja dimulai dari sosok tokoh terkenal bernama Ki Ageng Pandanaran, yang konon merupakan Bupati pertama Semarang.

Baca Juga: Jejak Sejarah Tangsi Militer Belanda di Semarang: Dari Perlawanan hingga Transformasinya Menjadi Pusat Perbelanjaan Terbesar

Ki Ageng Pandanaran adalah keturunan dari Pangeran Mode Pandan, yang memimpin perjalanan untuk menyebarkan agama Islam ke arah barat daya.

Dalam perjalanan tersebut, mereka tiba di daerah yang kini dikenal sebagai Semarang, dan mendirikan sebuah pesantren yang menjadi cikal bakal kemakmuran wilayah tersebut.

Salah satu putra Pangeran Mode Pandan, Raden Pandanaran atau Ki Ageng Pandanaran, memutuskan untuk melepaskan jabatannya sebagai Bupati Semarang dan melanjutkan perjuangan menyebarkan agama Islam ke daerah selatan Semarang, yang kemudian dikenal sebagai Sunan Bayat.

Adik Ki Ageng Pandanaran, Ni Pandansari, juga mengikuti jejak kakaknya dalam menyebarkan agama Islam.

Bersama pengawalnya, Ni Pandansari melakukan perjalanan hingga tiba di daerah yang sekarang dikenal sebagai Tembayat.

Baca Juga: Perjalanan Sebuah Gereja Blenduk: Jejak Sejarah dan Kecantikan Arsitektur di Kota Lama Semarang

Di sinilah Ni Pandansari mendapat panggilan untuk berguru agama Islam di perguruan Blimbing Segulung yang dipimpin oleh Ki Jiwaraga.

Di sekitar perguruan tersebut, Ni Pandansari bermain dengan teman-temannya dan bahkan membuat sebuah sayembara untuk menciptakan sumber mata air.

Berkat kekuasaan Allah, Ni Pandansari berhasil menciptakan sumber air yang kini dikenal sebagai Sendang Sebrayat atau Sendang Sebrayut.

Dalam perjalanannya, Ni Pandansari bertemu dengan seorang pemuda bernama K Dhapuraja atau Ki Dhapuraja, yang merupakan utusan dari Keraton Cirebon.

Mereka berdua saling jatuh cinta dan menikah, serta berguru agama Islam bersama-sama.

Namun, Ki Dhapuraja akhirnya meninggalkan Ni Pandansari untuk melanjutkan perjalanannya ke daerah lain.

Baca Juga: Misteri dan Sejarah Tanjakan Gombel: Pintu Gerbang Menuju Kota Semarang yang Menantang

Setelah peristiwa ini, Ni Pandansari tinggal bersama abdi kinasihnya, Ki Wonobodro dan Ki Wonosari.

Ki Wonosari kemudian pergi dan menetap di Dusun Pilang, salah satu dusun di Desa Boja.

Konon, Ki Wonobodro memiliki seorang anak bernama Kyai Boja, yang kemudian menjadi Lurah pertama Desa Boja.

Kyai Boja, yang memiliki sifat sederhana dan penuh kebijaksanaan, merupakan pemimpin yang dihormati oleh masyarakatnya.

Meskipun masih banyak misteri dan legenda mengenai sejarah Desa Boja, jejak-jejaknya yang kaya akan cerita dan warisan budaya menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas desa tersebut.

Dengan keberadaan tokoh-tokoh seperti Ki Ageng Pandanaran, Ni Pandansari, dan Kyai Boja, Desa Boja terus menjadi tempat yang bersemangat dalam menjaga dan memperkaya sejarahnya yang berharga.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.