Jateng

Menelusuri Jejak Sejarah Situs Gunung Wingko: Permukiman Purba dengan Kekayaan Arkeologis yang Mengagumkan

Theo Adi Pratama | 27 Januari 2024, 16:00 WIB
Menelusuri Jejak Sejarah Situs Gunung Wingko: Permukiman Purba dengan Kekayaan Arkeologis yang Mengagumkan

AKURAT.CO Sejarah, Berlokasi 30 km sebelah selatan Kota Yogyakarta, Gunung Wingko bukan hanya sekadar bukit pasir yang indah, melainkan saksi bisu dari kehidupan manusia purba.

Dalam liputan ini, kita akan menelusuri kisah-kisah yang tersembunyi di dalam bukit pasir ini dan bagaimana situs ini menjadi benda penelitian intensif bagi Balai Arkeologi Yogyakarta (Balar) dan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas).

Baca Juga: Sejarah dan Perjalanan Kesenian: Gendang: Alat Musik Tradisional yang Memukau dari Pelbagai Nusantara

Nama dan Kelurahan Gunung Wingko

Gunung Wingko dulunya adalah nama kelurahan yang mencakup empat dukuh: Dukuh Ngepet, Dukuh Tegalrejo-Tegalsari, Dukuh Soge Sanden, dan Dukuh Baran Cetan.

Namun, saat ini, namanya lebih sering dikaitkan dengan bukit pasir yang membentang di sepanjang jalan raya menuju Pantai Samas.

Artefak dan Fragmen Gerabah

Melalui penelitian arkeologi yang dilakukan oleh Balar dan Puslit Arkenas, Gunung Wingko mengungkapkan keberadaan artefak-artefak berharga.

Temuan ini termasuk tulang manusia, tulang hewan, benda logam, bandul jala, keramik, serta fragmen gerabah yang dikenal sebagai "wingko."

Fragmen gerabah tersebut memiliki cap anyaman dan masih ditemukan hingga saat ini.

Baca Juga: Sejarah Alat Musik Tradisional: Bonang, Keunikan Alat Musik Gamelan Jawa yang Memukau

Intensifnya Penelitian

Mulai dari tahun 1972 hingga 1998, penelitian intensif dilakukan dengan survei dan ekskavasi.

Sebanyak 51 kotak ekskavasi dibuat, menghasilkan empat tahapan permukiman dengan lapisan budaya tersendiri.

Temuan yang dominan adalah fragmen gerabah polos dan bermotif, sisa-sisa fauna, rangka manusia, dan logam.

Tahapan Permukiman dan Kebudayaan

  1. Budaya Beting Gisik (Beachridge Culture): Tahap pertama terjadi di atas beting gisik sebelum gumuk pasir terbentuk. Gerabah tangan dan roda putar lambat ditemukan bersama dengan tulang-tulang binatang yang didomestikasi.

  2. Kebudayaan Aeolian Bawah (Low Aeolian Culture): Pada tahap ini, masyarakat mulai bercocok tanam dan berburu. Motif hias melibatkan tera anyaman dan motif campuran kepang-kepang kecil.

  3. Kebudayaan Aeolian Tengah (Middle Aeolian Culture): Tahap ketiga menunjukkan pertambahan penduduk dan perluasan wilayah permukiman. Pembuatan gerabah dengan roda putar cepat menjadi populer, dengan motif hias gores garis sejajar.

  4. Kebudayaan Aeolian Atas (Upper Aeolian Culture): Tahap keempat mencakup lini masa hingga masa kolonial Belanda. Pembuatan garam dilarang pada tahun 1778. Gerabah diproduksi dengan roda putar cepat dan dilapisi warna merah cokelat.

Baca Juga: Sejarah Alat Musik Tradisional: Kolintang, Harmoni Tradisi Sulawesi Utara yang Tetap Berdentum

Keberlanjutan Penelitian dan Pelestarian

Meskipun intensifnya penelitian telah berakhir, Gunung Wingko terus menjadi pusat perhatian. Temuan arkeologis yang kaya menjadi sumber pengetahuan tentang kehidupan manusia purba.

Pentingnya pelestarian situs ini sebagai bagian berharga dari warisan budaya Indonesia juga menjadi fokus perhatian.

Gunung Wingko, dengan segala keunikan dan kekayaan arkeologisnya, membuka pintu gerbang pengetahuan tentang masa lalu.

Dari budaya beting gisik hingga masa kolonial, situs ini menyimpan cerita tentang evolusi kehidupan manusia dan perubahan kebudayaan.

Melalui artikel ini, kita berharap dapat lebih menghargai warisan sejarah yang ada di sekitar kita dan menjaga agar Gunung Wingko tetap menjadi bagian integral dari perjalanan sejarah Indonesia.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.