Jateng

Bangunan Bersejarah di Yogyakarta: Jejak Sejarah Stasiun Sedayu yang Sudah Sirna dan Bekas Rumah Dinas yang Masih Berdiri

Theo Adi Pratama | 19 Januari 2024, 14:00 WIB
Bangunan Bersejarah di Yogyakarta: Jejak Sejarah Stasiun Sedayu yang Sudah Sirna dan Bekas Rumah Dinas yang Masih Berdiri

AKURAT.CO Sejarah, Stasiun Sedayu, yang diperkirakan didirikan pada tahun 1887, memiliki kisah panjang sebagai bagian dari perjalanan kereta api di Hindia Belanda dan Indonesia.

Artikel ini akan mengungkap sejarah, peran, dan akhir tragis dari Stasiun Sedayu serta bekas rumah dinas yang masih ada.

Baca Juga: Bangunan Bersejarah: Rumah Tradisional Jawa Eks Kantor Kalurahan Kedungmiri, Keindahan Arsitektur dan Sejarah yang Terabadikan

Peran Awal dan Perkembangan

Stasiun Sedayu didirikan seiring dengan diresmikannya Stasiun Tugu Yogyakarta pada tanggal 2 Mei 1887.

Peresmian tersebut menjadi momen penting yang diikuti dengan pembukaan jalur lintas Lempuyangan-Yogyakarta dan lintas Maos-Kroya-Yogyakarta.

Stasiun ini menjadi bagian dari perusahaan kereta api SS (Staatspoorwegen), milik pemerintah Hindia Belanda, yang memulai pengerjaan jalur dari Yogyakarta menuju Maos.

Masa Konflik dan Pembangunan Ulang

Stasiun Sedayu menjadi saksi bisu peristiwa bersejarah saat dihancurkan oleh pejuang pada masa Agresi Militer Belanda II, menghindarkan penggunaannya oleh militer Belanda.

Setelah kemerdekaan Indonesia, stasiun ini dibangun kembali dengan arsitektur yang berbeda.

Namun, takdir tragisnya kembali menyelimuti saat Stasiun Sedayu dirobohkan selama pembangunan jalur rel ganda Kutoarjo-Purwosari.

Baca Juga: Perjalanan Kisah Bangunan Bersejarah: Menapak Sejarah dan Kesejukan Kompleks Masjid Pathok Negoro Mlangi, Sleman Yogyakarta

Rumah Dinas Stasiun Sedayu

Bangunan Rumah Dinas Stasiun Sedayu, yang menghadap ke barat dengan atap model limasan, mencerminkan gaya arsitektur Indis.

Bangunan ini terdiri dari dua bagian yang terpisah, dihubungkan dengan doorloop di sisi timur.

Bagian utara dengan arsitektur bergaya Indis menampilkan atap dengan ciri khas, dinding berbatu kerikil tempel, dan doorloop.

Denahnya berbentuk empat persegi panjang dengan ukuran 10,1 m x 13,8 m.

Akhir dari Stasiun Sedayu

Pada tahun 1990-an, Stasiun Sedayu dinonaktifkan dan kemudian digunakan sebagai tempat operator perlintasan kereta api.

Namun, seiring dengan pembangunan jalur rel ganda, stasiun ini akhirnya dirobohkan dan tanah tempatnya berdiri menjadi bagian dari jalur rel ganda sebelah utara.

Baca Juga: Peninggalan Sejarah: Transformasi Bangunan Eks Gedung DPRDGR Sleman Menjadi Kantor Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak

Stasiun Sedayu mewakili jejak sejarah perkeretaapian di Indonesia, dari masa Hindia Belanda hingga era kemerdekaan.

Sayangnya, akhirnya bangunan ini harus merelakan takdirnya yang tragis dan yang tersisa hanya ada bekas rumah dinas pegawai yang bekerja di Stasiun Sedayu.

Meskipun hanya tinggal kenangan, Stasiun Sedayu tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah perjalanan kereta api di Indonesia.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.