Jateng

Peninggalan Bangunan Bersejarah: Pasar Sangkeh, Keberlanjutan Sejarah dalam Arsitektur Belanda

Theo Adi Pratama | 18 Januari 2024, 14:00 WIB
Peninggalan Bangunan Bersejarah: Pasar Sangkeh, Keberlanjutan Sejarah dalam Arsitektur Belanda

AKURAT.CO Sejarah, Pasar Sangkeh, yang masih menjulang kokoh di tengah kehidupan sehari-hari masyarakat, menjadi saksi bisu dari jejak sejarah peninggalan Belanda yang masih dihargai hingga saat ini.

Dikenal oleh penduduk sekitar dengan sebutan "Los Belanda," pasar ini memiliki akar sejarah yang melibatkan perusahaan N.V. Machinefabriek Braat dan perjalanan panjangnya sejak dibangun pada tahun 1926-1930.

Baca Juga: Sebuah Kisah Perjalanan Bale Mangu: Jejak Sejarah dan Transformasi Fungsional

Perusahaan N.V. Machinefabriek Braat: Sebuah Nama Besar dalam Industri Mesin dan Logam

Pasar Sangkeh, yang diduga dibangun oleh N.V. Braat pada tahun 1926-1930, menarik perhatian sebagai bagian dari warisan industri N.V. Machinefabriek Braat.

Perusahaan ini, didirikan pada tahun 1901 di Gatotan, Surabaya, adalah pemain kunci dalam industri mesin dan pengecoran logam pada zamannya.

Pindahnya kantor perusahaan ke Rotterdam pada tahun 1909 menandai langkah besar dalam perkembangannya, yang kemudian menjadi perusahaan terbatas publik pada tahun 1910.

Pada tahun 1925, pendirinya, B. Braat Jzn., meninggal, dan perusahaan menghadapi tantangan, termasuk pemogokan karyawan pada tahun 1925 dan desas-desus tentang penutupan perusahaan.

Namun, berkat pesanan penting pada tahun 1934 untuk pengiriman mesin teh ke Sumatera Utara, perusahaan mendapatkan momentum baru.

Meskipun kemudian jatuh ke tangan Jepang pada tahun 1943, jejak perusahaan ini masih terus berlanjut di pasar Sangkeh yang dibangun dengan material dari N.V. Machinefabriek Braat.

Baca Juga: Kisah Perjalanan Bangsal Trajumas: Memahami Sejarah dan Peranannya dalam Kraton Yogyakarta

Pasar Sangkeh: Keindahan Arsitektur Tanpa Dinding

Pasar Sangkeh, yang menghadap ke barat, menunjukkan karakteristik arsitektur Belanda yang masih utuh.

Dua bangunan tanpa dinding dengan tiang besi di bagian tengahnya dan bersebelahan menciptakan ruang terbuka yang nyaman untuk kegiatan pasar.

Kedua bangunan tersebut memiliki ukuran 3,04 m x 12,3 m, dengan lantai yang ditinggikan 12 cm untuk memberikan perlindungan dari tanah yang lembab.

Struktur Pasar Sangkeh mempertahankan keaslian dengan umpak berukuran 48 cm x 61 cm di bagian bawah dan 28 cm x 40 cm di bagian atas, dengan tinggi total 80 cm.

Tinggi tiang mencapai 2,8 m di atas umpak, memberikan kesan ruang yang lapang dan terbuka.

Pergunakanan Pasar dan Hari Pasaran

Pasar Sangkeh tidak hanya menjadi monumen sejarah tetapi juga tetap hidup dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.

Dipergunakan pada hari pasaran Jawa Wage dan Legi, pasar ini terus menjadi tempat pertemuan dan transaksi bagi masyarakat setempat.

Baca Juga: Gedung Pusat Universitas Gadjah Mada: Menggali Jejak Sejarah dan Kecemerlangan Pendidikan

Dengan keunikan arsitektur dan kisah sejarah yang melekat pada Pasar Sangkeh, bangunan ini menjadi bukti bahwa warisan Belanda masih berakar kuat di tengah-tengah kehidupan masyarakat Indonesia.

Keberlanjutan penggunaan dan perawatan pasar ini juga merupakan bentuk penghargaan terhadap warisan sejarah yang telah menjadi bagian integral dari keseharian masyarakat.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.