Jateng

Bangunan Bersejarah di Yogyakarta: Rumah Tradisional Jawa Eks Kantor Kalurahan Mojohuro, Keindahan dan Sejarah yang Terpatri

Theo Adi Pratama | 17 Januari 2024, 15:00 WIB
Bangunan Bersejarah di Yogyakarta: Rumah Tradisional Jawa Eks Kantor Kalurahan Mojohuro, Keindahan dan Sejarah yang Terpatri

AKURAT.CO Sejarah, Rumah Tradisional Jawa eks Kantor Kalurahan Mojohuro adalah sebuah peninggalan budaya yang memikat, melangkah lebih jauh dalam sejarah desa dan menawarkan pandangan mendalam ke dalam keindahan arsitektur Jawa.

Berdiri kokoh di sebelah timur kantor Desa Sriharjo, rumah ini memiliki bagian-bagian yang unik, masing-masing menunjukkan keelokan dan kekayaan tradisi Jawa.

Baca Juga: Peninggalan Bangunan Bersejarah: Rumah Dinas Walikota Salatiga, Jejak Sejarah yang Tetap Megah di Tengah Kota

Pendapa: Kepesonaan Tipe Joglo Lawakan Pertama-tama, pendapa yang menarik perhatian dengan atap tipe Joglo Lawakan menciptakan gambaran indah yang khas.

Terletak di bagian paling selatan kompleks rumah, pendapa berdenah persegi panjang berukuran 10,84 m x 9,59 m.

Lantai pendapa yang ditinggikan memberikan sentuhan eksklusif, dan plesteran bligon memberikan kesan estetik yang memukau.

Empat sokoguru dari kayu jati berdimensi 18 cm x 18 cm, tinggi 268 cm menjadi penopang pendapa.

Ornamen seperti blandar, pengeret, sunduk, dan kili melengkapi keindahan struktur ini.

Pada bagian tengah pamidhangan, dhadha peksi dengan ukiran memberikan nilai seni yang tinggi, sedangkan plafond anyaman bambu menggambarkan pesan 'rasa asih suci budi' dalam huruf Jawa.

Baca Juga: Peninggalan Bangunan Bersejarah: Wisma BCA Salatiga, Keindahan dan Sejarah yang Tetap Terjaga di Pusat Kota

Lantai pendapa dan emper berupa plesteran bligon, menciptakan ruang yang nyaman dan tradisional.

Dinding yang terbuat dari anyaman bambu (gedhek) memberikan nuansa klasik dan meresapkan keindahan alami.

Longkangan: Pemisah yang Teratur Longkangan lebar 1,97 m di sebelah utara pendapa berperan sebagai elemen pemisah yang teratur antara pendapa dan bangunan dalem, menciptakan tatanan ruang yang harmonis.

Dalem: Keanggunan Tipe Limasan Srotong Bangunan dalem yang mengusung tipe Limasan Srotong memiliki denah persegi panjang berukuran 10,82 m x 3,91 m dengan tinggi atap mencapai 5,11 m.

Delapan saka utama dan empat saka pengganti sunduk kili menjadi elemen utama penopang bagian gajah dan emper.

Baca Juga: Menggali Jejak Sejarah di Kota Salatiga: Pendapa Pakuwon dan Tantangan Konservasi Bangunan Bersejarah

Dinding dalem berupa gebyok dengan pelitur menyediakan ruang interior yang menawan.

Pintu kayu berdaun empat berukuran 300 cm x 210 cm menjadi akses ke dalam dalem, sementara jendela geser dan kisi-kisi kayu memberikan sentuhan estetik yang lebih dalam.

Gandok: Fungsi dan Kecantikan di Sebelah Timur Pendapa Gandok, yang terletak di sebelah timur pendapa, menampilkan atap Limasan Pacul Gowang dan emper di sisi barat.

Denah empat persegi panjang berukuran 11,1 m x 5,8 m menjadikan gandok sebagai elemen penambah keindahan kompleks.

Longkangan yang memisahkan dalem dan gandok menonjolkan perencanaan tata ruang yang cerdas.

Pintu kayu berdaun dua berukuran 183 cm x 100 cm menjadi pintu masuk, menambahkan unsur artistik yang khas.

Baca Juga: Jejak Peninggalan Sejarah Kota Salatiga: Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat (GPIB) Tamansari

Pawon: Kelengkapan dan Pergeseran Fungsional Pawon yang terletak di sebelah utara ruang makan dan sebelah timur lumbung pangan mengusung keunikan tipe kampung.

Bangunan ini, meskipun berdiri di atas bekas lokasi pawon lama yang runtuh, tetap mempertahankan keberlanjutan fungsional dan estetika.

Pakiwan: Runtuhan Gempa yang Merupakan Bagian dari Sejarah Pakiwan, mencakup kamar mandi, sumur, dan WC, menyampaikan kisah puing-puing gempa 27 Mei 2006.

Meskipun sebagian dindingnya telah runtuh, pakiwan tetap sebagai saksi sejarah yang menggambarkan perubahan dalam kehidupan rumah tersebut.

Sejarah dan Peran Sosial

Dibangun oleh Tirto Utomo, kakek buyut dari keluarga Bapak Sulistiyadi Eko Putro, rumah ini memiliki peran penting dalam sejarah Desa Sriharjo.

Sejak tahun 1946 hingga 1980-an, pendapa rumah tersebut menjadi Kantor Kalurahan Sriharjo dan juga menjadi tempat sekolah SD Tunggalan I dan II.

Pada masa perang kemerdekaan, rumah ini menjadi tempat singgah para gerilyawan.

Baca Juga: Sejarah dan Perjalanan Gedung Papak: Jejak Peninggalan Bersejarah di Kantor Wali Kota Salatiga

Rumah Tradisional Jawa Eks Kantor Kalurahan Mojohuro adalah sebuah warisan budaya yang mempesona dan sarat akan sejarah.

Keindahan arsitektur, ornamen tradisional, dan peranannya dalam perkembangan Desa Sriharjo menjadikannya jendela yang menarik untuk menyelami kekayaan budaya Jawa.

Semoga rumah ini terus dijaga dan dilestarikan, menjaga kenangan akan masa lalu dan menawarkan inspirasi bagi generasi mendatang.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.