Jateng

Gaji UMK Semarang Rp3,7 Juta, Inflasi 3,28 Persen: Anak Muda Masih Bisa Nabung Asal Ambil Duluan

Theo Adi Pratama | 22 Oktober 2026, 17:04 WIB
Gaji UMK Semarang Rp3,7 Juta, Inflasi 3,28 Persen: Anak Muda Masih Bisa Nabung Asal Ambil Duluan
Foto Ilustrasi

JATENG.AKURAT.CO, Dengan inflasi nasional 3,28 persen dan UMK Semarang Rp3,7 juta, anak muda kota ini sebenarnya masih bisa menabung—asal berhenti menganggap sisa gaji sebagai tabungan dan mulai memindahkan uang sebelum sempat dipakai nongkrong.

Di sebuah kos di Tembalang, Alya, 24 tahun, membuka aplikasi bank digital sambil menyeruput kopi sachet. Gajinya sebagai staf administrasi belum genap Rp3,5 juta.

Tapi setiap tanggal gajian, dia langsung memindahkan Rp400 ribu ke rekening terpisah. Bukan karena dia pelit. “Kalau nunggu sisa, nggak pernah ada sisanya. Jadi aku ambil duluan,” katanya.

Kalimat itu mungkin terdengar sederhana. Tapi di tengah harga makanan yang naik dan godaan promo dompet digital yang datang tiap jam, memindahkan uang “duluan” adalah bentuk perlawanan kecil yang jarang dibahas di konten motivasi keuangan.

Angka yang bikin gerah

Badan Pusat Statistik mencatat inflasi tahunan September 2026 sebesar 3,28 persen. Untuk Kota Semarang, inflasi tahunan Agustus 2026 berada di 2,73 persen, dengan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menjadi pendorong tertinggi hingga 11,62 persen.

Angka ini memang tidak seheboh krisis, tapi cukup untuk membuat harga kos, makan, dan transportasi naik pelan-pelan tanpa terasa.

Biaya hidup mahasiswa dan pekerja muda di Semarang berada di kisaran Rp1,5 juta sampai Rp3 juta per bulan, tergantung tipe kos dan gaya hidup.

UMK Kota Semarang 2026 sendiri ditetapkan Rp3.701.709 . Artinya, banyak anak muda hidup di angka pas-pasan. Kalau tidak punya sistem, gaji bisa habis sebelum tanggal 20.

Financial check-up: bukan cek dompet, tapi cek kebiasaan

Director Strategic Analytics & Insight NielsenIQ Indonesia, Inggit Primadevi, menyebut ada empat indikator kesehatan finansial anak muda: kemampuan memenuhi kebutuhan dasar, kesiapan menghadapi kejadian tak terduga, pertumbuhan finansial, dan kebebasan finansial.

“Pentingnya anak muda tidak hanya memiliki kesadaran untuk mengelola keuangan, tetapi juga memastikan pengelolaan tersebut mencakup kebutuhan saat ini hingga persiapan jangka panjang,” ujarnya, seperti dikutip Antara .

Survei OCBC Financial Fitness Index 2026 menunjukkan skor kesehatan finansial anak muda turun tipis menjadi 39,4 dari sebelumnya 40,6. Yang lebih mengkhawatirkan: 80 persen belum melakukan pencatatan keuangan, dan hanya 27 persen yang memiliki dana darurat .

Data lain menyebut 47 persen Gen Z menganggap inflasi sebagai tantangan utama. Sebanyak 29,8 persen Gen Z masih menggunakan dana darurat untuk kebutuhan gaya hidup.

Di sisi lain, 51,9 persen Gen Z sudah mulai memangkas anggaran kopi dan nongkrong demi membiayai hal lain yang lebih prioritas . Jadi, sebenarnya kesadaran sudah ada. Yang belum rapi adalah eksekusinya.

Trik menabung yang tidak menyiksa

Alya bukan ahli keuangan. Tapi dia punya tiga kebiasaan yang membuat tabungannya tetap tumbuh meski inflasi jalan terus.

Pertama, pay yourself first. Begitu gaji masuk, Rp400 ribu langsung pindah ke rekening tabungan yang tidak terhubung ke kartu debit harian.

“Rekening tabungan sengaja aku buat tanpa kartu. Biar ribet kalau mau dipakai,” katanya. Metode ini sejalan dengan prinsip otomatisasi: sisihkan 10–20 persen pendapatan di hari gajian, bukan menunggu sisa .

Kedua, 50/30/20 versi lokal. Alya membagi pendapatan menjadi 50 persen kebutuhan pokok (kos, makan, transportasi), 30 persen keinginan (nongkrong, kuota, langganan), dan 20 persen tabungan atau investasi.

Skema ini memang klasik, tapi tetap relevan karena fleksibel. Untuk yang penghasilannya di bawah UMK, porsi tabungan bisa diturunkan ke 10 persen dulu, yang penting konsisten.

Ketiga, soft saving. Alya tidak menetapkan target muluk-muluk. Dia menabung Rp10 ribu per hari, atau sekitar Rp300 ribu sebulan. “Kalau targetnya Rp1 juta sebulan, aku udah nyerah di minggu kedua. Mending kecil tapi jalan,” ujarnya. Pendekatan soft saving memang menekankan tujuan yang konkret dan tidak menghukum diri sendiri ketika gagal .

Dana darurat: yang paling sering dilupakan

Dari semua pos keuangan, dana darurat adalah yang paling jarang dimiliki anak muda. Padahal, inilah bantalan pertama ketika ada PHK, sakit, atau motor rusak. Idealnya, dana darurat berisi 3–6 kali pengeluaran bulanan.

Untuk Alya yang pengeluaran bulanannya sekitar Rp2,5 juta, artinya dia butuh Rp7,5 juta sampai Rp15 juta. Angka yang terasa jauh. Tapi bisa dimulai dari Rp500 ribu dulu, lalu ditambah sedikit-sedikit.

Tempat menyimpannya juga perlu dipilih. Rekening tabungan biasa bunganya kecil, sekitar 1–3 persen per tahun. Bank digital menawarkan bunga lebih tinggi, bahkan ada yang mencapai 6–8 persen untuk deposito, meski perlu dicatat bahwa penjaminan LPS untuk bank umum berada di kisaran 4,25 persen.

Untuk dana darurat, likuiditas tetap nomor satu. Jangan simpan di instrumen yang butuh waktu lama untuk dicairkan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.