Jateng

Dulu Bantu Ibu Bungkus Nasi Jam 3 Pagi, Kini Jeni Berangkat Umrah Berkat PNM Mekaar

Theo Adi Pratama | 31 Januari 2026, 14:41 WIB
Dulu Bantu Ibu Bungkus Nasi Jam 3 Pagi, Kini Jeni Berangkat Umrah Berkat PNM Mekaar

JATENG.AKURAT.CO, Setiap pukul tiga dini hari, saat sebagian besar remaja seusianya masih terlelap, Jeni Adilasari sudah terjaga.

Di sebuah rumah sederhana di Bojonegoro, ia membantu sang ibu membungkus nasi untuk dijual.

Sejak duduk di bangku SMP, rutinitas itu menjadi bagian tak terpisahkan dari hidupnya—sebuah potret nyata perjuangan keluarga kecil yang bertahan lewat kerja keras.

Sebagian nasi dibungkus untuk dititipkan ke warung, sisanya dibawa Jeni ke sekolah. Ia menawarkannya ke teman-teman, bukan dengan rasa malu, tetapi dengan tekad.

Hidup, bagi Jeni, tak memberi banyak pilihan selain ikut membantu. Namun justru dari keterbatasan itu, benih mimpi mulai tumbuh.

“Sekolah” yang Mengubah Cara Pandang

Sepulang sekolah, Jeni kerap mendapati rumah kosong. Hingga suatu sore, ia bertanya pada tetangga ke mana ibunya pergi. Jawabannya sederhana namun membekas: ibunya sedang “sekolah” di Mekaar.

Di lingkungan tempat tinggalnya, “sekolah” bukanlah ruang kelas formal. Istilah itu merujuk pada Pertemuan Kelompok Mingguan (PKM) PNM Mekaar, forum belajar para ibu untuk memahami pengelolaan usaha, keuangan, dan perencanaan masa depan.

Dari sinilah Jeni mulai mengerti, ibunya bukan sekadar berjualan—ia sedang membangun fondasi hidup yang lebih baik.

PNM Mekaar dan Arti Pemberdayaan Perempuan

PNM Mekaar selama ini dikenal sebagai program pemberdayaan perempuan prasejahtera melalui pembiayaan dan pendampingan usaha. Namun bagi Jeni, Mekaar lebih dari sekadar program ekonomi. Ia adalah simbol keberanian ibu-ibu untuk belajar, bermimpi, dan bangkit dari keterbatasan.

Melihat ibunya rutin mengikuti PKM menanamkan tekad kuat dalam diri Jeni. Jika perempuan-perempuan di desanya berani belajar dan berjuang, ia ingin suatu hari berdiri di sisi mereka—bukan sebagai penonton, tetapi sebagai pendamping.

Dari Anak Nasabah Menjadi Account Officer

Setelah lulus SMA, Jeni mengambil keputusan penting: mendaftar sebagai Account Officer (AO) PNM Mekaar.

Pilihan itu bukan kebetulan, melainkan panggilan personal. Program yang dulu membantu keluarganya kini ingin ia lanjutkan untuk membantu keluarga lain.

Lima tahun bergabung, Jeni menyaksikan transformasi nyata. Tidak hanya pada para nasabah yang ia dampingi, tetapi juga pada dirinya sendiri.

Ia perlahan menjadi tulang punggung keluarga, menopang pendidikan adik-adiknya, dan membuktikan bahwa latar belakang sederhana bukan penghalang untuk tumbuh.

Ketika Kerja Keras Berbuah Umrah

Salah satu mimpi yang lama ia simpan akhirnya terwujud pada Januari 2026. Melalui Program Employee Reward PNM, sebagai bentuk apresiasi atas kinerja terbaik, Jeni mendapatkan kesempatan umrah gratis. Sebuah pencapaian yang terasa nyaris mustahil saat ia masih membungkus nasi di dini hari.

Perjalanan ke Tanah Suci menjadi simbol perjalanan panjang hidupnya—dari keterbatasan menuju kesempatan, dari membantu ibu hingga mampu memberi dampak bagi banyak keluarga lain.

Refleksi: Dampak Nyata Program Sosial yang Berkelanjutan

Kini, setiap kali mendampingi ibu-ibu dalam PKM, Jeni seperti melihat kembali potongan hidupnya sendiri.

Di antara tawa, catatan kecil, dan cerita perjuangan, ia memahami satu hal penting: pemberdayaan ekonomi bukan hanya soal modal, tetapi soal kepercayaan diri dan keberanian bermimpi.

Kisah Jeni Adilasari menunjukkan bahwa program seperti PNM Mekaar bukan sekadar intervensi ekonomi jangka pendek.

Ia menciptakan efek berantai—mengubah satu keluarga, lalu melahirkan agen perubahan yang membantu keluarga lain tumbuh dan bertahan.

#PNMuntukUMKM
#PNMPemberdayaanUMKM

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.