Jateng

Kopi Kenthir, Simbol Perjuangan Buruh Tani Lulusan SD yang Hidup Pantang Menyerah

Theo Adi Pratama | 23 April 2025, 14:53 WIB
Kopi Kenthir, Simbol Perjuangan Buruh Tani Lulusan SD yang Hidup Pantang Menyerah

 

JATENG.AKURAT.CO, Kehidupan terkadang memang terasa tak adil, namun pada dasarnya perjalanan hidup itu punya standar keadilannya sendiri.

Orang-orang yang di masa lalu tidak beruntung entah secara ekonomi atau pendidikan, ternyata jika mampu menjalani proses hidup dengan pantang menyerah serta memiliki mimpi, akan mencapai level yang tidak disangka-sangka.

Sriyanto, pria 51 tahun asal Dusun Jeruk Wangi Desa Bedono Kecamatan Jambu Kabupaten Semarang yang pernah melanglang buana ke seantero Nusantara sebagai sales kaligrafi dan apotek walaupun hanya lulusan SD pernah merasakan ketidakadilan itu.

Sriyanto dipaksa berhenti sekolah saat dia baru lulus SD. Dia dibelikan cangkul oleh orang tuanya untuk menjadi buruh tani di kampungnya. Keluarganya memang kekurangan secara ekonomi.

Nahas bagi Sriyanto, ayahnya meninggal saat baru saja membelikan cangkul untuknya. Namun Sriyanto memiliki sesuatu yang diwariskan, yakni tanaman kopi di sekitar rumahnya.

“Saya menanam kopi ini sudah turun temurun. Pada tahun 1986 saya lulus SD saya tidak disuruh meneruskan sekolah, jadi saya Cuma lulus SD. Kemudian saya dibelikan cangkul, terus belajar Bertani. Eh malah bapak meninggal, jadi saya sebatang kara sama ibu saya karena saya anak paling kecil dan pada saat itu saudara-saudara saya sudah berkeluarga sendiri. Jadi saya sama ibu terus Bertani,” ujarnya pada Rabu (23/4/2025).

Untuk meningkatkan penghasilan keluarga, Sriyanto memulai sambilan merawat tanaman kopi, sambil jadi buruh tani khusus mencangkul, sembari menjadi buruh gergaji, kernet angkutan bangunan sambil belajar jadi tukang.

“Saya bekerja di Srondol Semarang sebagai mandor. Tapi saya merasa kerja di bangunan kok panas banget jadi saya nggak betah terus bertani kembali,” ungkapnya.

Menjadi Sales

Di kampungnya ada seorang pengusaha kaligrafi yang namanya sudah tersohor. Sriyanto memutuskan bekerja di situ menjadi sales. Sriyanto mendapatkan training selama satu bulan setengah untuk berlatih berkomunikasi dengan calon pelanggan.

“Di sini saya sempat bekerja sebagai sales kaligrafi sebelum fokus menanam kopi. Saya ditraining jadi sales kaligrafi. Saya belajar berkomunikasi dengan baik, saya disuruh ngomong dengan pohon, dengan tembok, ngomong dengan apapun yang ada di depan saya. Tapi itu diibaratkan kita bicara dengan calon konsumen,” bebernya.

Selesai training selama satu bulan setengah dia ditempatkan di Samarinda, Kalimantan Timur tahun 1997. Pada 17 hari pertama di Samarinda dia belum mendapatkan order yang menbuatnya hampir putus asa.

“Barulah hari ke 18 saya langsung dapat dua orderan. Uang yang saya dapat itu luar biasa banyak bagi saya waktu itu, itu bikin saya semangat untuk bekerja lebih giat. Di Samarinda selama 5 bulan itu saya dapat uang 2.600.000 rupiah yang saat itu, tahun 1997 nilainya sangat besar. Setelah itu saya ditempatkan di Menado selama 9 bulan, saya dapat 9.000.000 rupiah,” bebernya.

Kemudian dia pulang selama 10 bulan ke kampung, setelah itu diberangkatkan ke Lampung untuk jadi manajer pemasaran. Ternyata jadi manajer dia tidka kuat.

“Empat bulan di Lampung saya langsung pulang,” tandasnya.

Setelah pulang sriyanto di kirim ke Menado lagi, dari sana lanjut ke Jambi hingga ke Batam. Di masa setelah reformasi, di Batam terjadi kerusuhan yang membuatnya dikembalikan ke Jambi lagi.

“Habis dari Jambi saya dikirim ke Bangka Belitung. Di Bangka Belitung saya dekat dengan Yusril Ihza Mahendra. Di Bangka saya bekerja sampai tahun 2000. Di tahun itu saya dipindah ke Makassar sampai tahun 2001 terus barulah saya pulang,” bebernya.

Tahun 2002 Sriyanto diangkat jadi manajer di wilayah Jawa Tengah sampai tahun 2003, kemudian dipindah ke Jawa Timur sampai 2004.

Tahun 2004 terjadi sebuah Keputusan penting, Sriyanto memutuskan pindah kerja lalu diangkat general manajer di klinik Karya Indah Abadi milik Budiono Tugiyo di Wonokasihan sampai tahun 2006.

Inspirasi Mengolah Kopi

Sriyanto sendiri memulai usaha kopi sejak tahun 2014. Namun sebelum itu, tahun 2006 Sriyanto diberagkatkan ke Aceh selama tiga tahun. Di sana dia melihat banyak sekali kedai kopi yang sukses.

“Itu yang menginspirasi saya untuk membuka usaha kopi,” tandasnya.

“Saya sempat belajar juga dengan seorang mentor, jika ingin usaha, bukalah usaha dengan komoditas konsumtif. Karena potensinya besar. Kebetulan di kampung saya sangat cocok buat menanam kopi yang juga menjadi ciri khas keluarga saya dulu,” ungkapnya.

Sriyanto mulai menetap di kampungnya sendiri dan membangun usaha karena terinspirasi dari Gubernur Jawa Tengah kala itu, yakni Bibit Waluyo.

“Di tahun 2008 ada kunjungan Pak Gubernur Jawa Tengah, Bibit Waluyo yang mengumandangkan visi ‘Bali Deso Mbangun Deso’ (Pulang ke Desa Membangun Desa),” tuturnya.

“Tahun 2008 itulah saya memutuskan berhenti sebagai sales dan langsung bergabung ke kelompok tani untuk belajar mengolah kopi sekaligus mengikuti pelatihan pembuatan banyak varian kopi. Kalau untuk urusan pemasaran, bukannya saya sombong, saya sudah punya strategi berdasarkan pengalaman,” kisahnya.

Bagi Sriyanto, kopi itu bukan hanya ‘kopi’ karena ini denyut nadi kehidupan keluarganya sejak dulu. Sesuatu yang pernah Sriyanto tinggalkan namun saat ini justru yang menghidupnya.

“Saya berkebun kopi dengan penuh semangat sampai saya bisa membangun pondokan atau kedai yang sekaligus jadi tempat produksi sederhana. Dulu saya beri nama Kopi Ekskupites tapi tidak akrab di telinga orang kampung dan susah diucapkan. Akhirnya saya ubah Kopi Kenthir,” tuturnya.

Bantuan BRI

Sriyanto mengaku dulu membangun ini tanpa memiliki modal, kemudian dirinya dibantu Bank Rakyat Indonesia (BRI) dengan pinjaman tanpa agunan sebanyak 3 juta rupiah.

“Itu saya belikan kopi semua terus saya olah mulai dari bijih kopi sampai bisa jadi kopi kemasan. Setiap harinya saya bolak-balik Semarang – Jambu untuk menawarkan kopi ke pejabat sambil jadi tukang terapi,” tuturnya.

Uang hasil penjualan kopi dia jadikan modal, kemudian untuk memenuhi kehidupan keluarga adalah uang dari hasil terapinya. Setelah itu berkembang terus usahanya. Lalu dia berfikir untuk membuat produk yang lebih berkualitas. Tapi dia belum memiliki tempat produksi yang memadai.

Sriyanto sendiri memiliki tempat di tepian tebing yang cocok sekali buat nongkrong. Dia membangun tempat ini untuk tempat produksi, tapi bisa jadi tempat duduk-duduk nyantai sambil ngopi.

“Awal saya punya tempat produksi, saya dapet orderan kopi hijau. Kopi yang baru dipetik langsung digiling tanpa diroasting yang katanya bisa untuk diet. Orderannya sampai 500 Kg per bulan,” bebernya.

Untuk nama Kenthir, Sriyanto mengatakan dulu waktu dirinya mendaftarkan Hak Kekayaan Inteletual (HAKI) untuk nama Ekskupites, konsultannya langsung memvonis nama ini tidak bisa diterima. Jadi langsung diganti saja dengan nama ‘Kenthir’.

“Nah kenapa saya kepikiran nama ‘Kenthir’. Dulu waktu tempat saya namanya ‘Ekskupites’ kedatangan roaster professional asal bandung yang sudah 14 tahun bekerja di kedai Kopi di Jepang. Dia mengecek alat produksi saya yang masih manual dan api untuk memanggang kopinya terlalu besar. Dia minta nyala api dikecilkan lagi. Saat dia nyebut itu, dia bilang pake api kentir. Dari situ saya namai Kopi Kenthir,” bebernya.

“Jadi jangan salah paham, Kenthir itu artinya kecil dari Bahasa Sunda. Bukan Kenthir Bahasa Jawa yang artinya gila atau stress. Tapi saya sendiri memberi akronim ‘Kenthir’ ini sebagai “Kenthel tur Ireng” (kental hitam pekat). Kemudian kiai-kiai di sini membuat akronim kata Kenthir dengan kepanjangan Kenthengno Dzikirmu (sungguh-sungguhlah dzikirmu),” sambungnya.

Pemasaran Sriyanto sekarang ini melalui pameran dan edukasi untuk penikmat yang memesan langsung. Sriyanto sendiri sering diundang oleh Dinas Pariwisata dan Dinas Koprasi UMKM Provinsi, yang paling sering tentunya undangan pameran dari BRI.

Pameran kopinya sudah dilakukan sudah ke berbagai kota dan provinsi. Setiap diundang pameran, Sriyanto mengajak komunitas produsen kopi dari Pati, Kudus, Temanggung, Jepara, Wonosobo, Purwokerto, Magelang dan Semarang. Total ada 60 pengusaha yang sekarang membentuk komunitas.

Belum lama ini BRI juga mengajak Sriyanto melakukan pameran di Bhayangkari Enterpreuner. Di pameran tersebut Sriyanto langsung diajak Kerjasama oleh Kakorlantas Polda Jateng yang memiliki caffe di Jatibarang Kecamatan MIjen Kota Semarang.

Rumah BUMN

“Saya sudah gabung di Rumah BUMN selama satu tahun terakhir untuk mengikuti cooking class, terus dibikinkan katalog produk untuk ditaruh di display rumah BUMN,” ujarnya.

Sementara itu, Endang Sulistyaningsih yang merupakan koordinator Rumah BUMN Semarang yang merupakan tangan Panjang BRI dalam membina UMKM mengatakan, Rumah BUMN bukan hanya sekedar sebagai tempat untuk memperkenalkan produk.

Di sini para member bisa saling bercerita, curhat, atau melampiaskan isi hatinya dengan kegiatan yang positif sekaligus produktif.

“Rata-rata orang yang mau masuk ke sini itu karena ada masalah ekonomi keluarga. Akhirnya di sini kita harus memastikan produk UMKM yang dibawa member harus terjual,” tuturnya.

Tia sendiri memfasilitasi para member dalam pelatihan, bazar, dan mengakomodir pengunjung.

“Nah di rumah BUMN sendiri menyediakan pelatihan marketing gratis dan member bisa mendisplay produknya ke sini sehingga pengunjung bisa membeli. Selain itu rumah BUMN juga membuatkan event, bazar, dan lain-lain,” ujar Tia menjabarkan tanggungjawab utamanya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.