Hidup Tanpa Suami dan Mengidap Kanker, Sri Suryani Membulatkan Tekat Kembangkan Usaha Stik Demi Anak

JATENG.AKURAT.CO, Hidup tanpa suami dan mengidap kangker payudara tidak membuat Sri Suryani patah semangat untuk hidup dan menghidupi anak-anaknya.
Suaminya menghembuskan nafas terakhir pada tahun 2009 saat Sri Suryani hamil anak bungsunya.
“Saat ini ibu sudah ditinggal suami (meninggal) sejak tahun 2009 waktu saya mengandung anak bungsu. Suami saya meninggal sakit jantung coroner,” tutur Sri pada Rabu (16/4/2025).
Di saat kondisi sepertinya makin membaik, Sri justru terdeteksi mengidap kangker payu dara pada tahun 2017.
“Saya punya kanker payu dara sejak tahun 2017,” bebernya.
Meski dalam keterbatasan ekonomi, Sri tetap rutin melaukan kemoterapi dan meminum obat pembunuh sel kangker.
“Saya sudah melakukan kemoterapi sampai sinar terakhir terus juga mengkonsumsi obat setiap hari untuk mematikan sel kanker,” ujarnya.
Namun di saat Covid-19 merebak, Sri justru berhenti mengkonsumsi obat tersebut karena suatu alasan.
Diapun memperketat konsumsi agar selalu sehat dengan memakan makanan yang sehat pula.
“Setelah itu saya waktu Covid-19 saya berinisiatif berhenti minum obat dan melakukan pola makan sehat seperti mengurangi daging, karbo, dan mengkonsumsi jus buah, kemudian membuat cemilan sehat dari sayur, buah dan ikan,” jelasnya.
Awal Mula
“Awalnya cemilan itu untuk konsumsi sendiri, tapi saya bagikan stik ini ke tetangga biar kenal cemilan sehat yang buat diet juga bagus,” jelasnya.
Waktu itu, Sri masih mengembangkan usaha stik secara sambilan karena dirinya bekerja sebagai admin di Universitas Pandanaran Semarang. Di saat kemampuannya dirasa cukup baik untuk memproduksi maupun berjualan, barulah sri keluar dari Universitas Tersebut.
“Saya buat stik ini uji coba sambil bekerja menjadi admin di Universitas Pandanaran Semarang. Sampai akhirnya saya betul-betul bisa bikin varian yang banyak. Barulah saya berani jualan. Akhirnya saya keluar dari Universitas Pandanaran untuk fokus di usaha sekaligus ngurusi anak-anak saya,” ujarnya.
Bahan-bahan stik ini dicari yang bermanfaat untuk Kesehatan seperti daun kelor, buah naga, dan lain-lain.
“Saya kan sebenarnya bosan ya konsumsinya tiap hari buah terus. Dari situ saya bikin banyak variasi stik saya. Saya juga bikin variasi pedas karena cabe itu kan vitamin C ya. Nah terakhir saat ini saya bikin varian ikan,” tuturnya.
Sri membuat stik ini otodidak pada awalnya. Tapi dari situ dirinya mulai berani mendaftarkan diri sebagai UMKM dengan produk awal adalah stik buah. Di situ Sri mengaku sambil belajar sambil melengkapi perijinan seperti OSF, NIB, Halal, PIRT, HAKI dan lain sebagainya sampai lengkap hingga brand Garmil terdaftar.
“Penjualan saya sekarang nitip nitip di toko oleh-oleh. Hasilnya lumayan untuk memenuhi kebutuhan rumah bersama anak-anak,” tuturnya.
“Saya baru sedikit nitip-nitipnya seperti di Cik Memey, Kota lama, lawang Sewu, dan Bu Puji. Saya masih memproduksi sendiri sehingga belum bisa memenuhi permintaan yang banyak,” lanjutnya.
Dalam sehari, Sri mampu memproduksi 4 kilogram untuk satu varian. Kondisinya yang sehabis oprasi kemo menjadikan tenaganya terbatas.
“Ya jadi mampunya baru segitu,” ujarnya.
“Penghasilan saya saat ini sekitar satu juta sampai satu setengah juta rupiah perbulan dari sini soalnya,” ujarnya.
Rumah BUMN
Untuk memuat usahanya semakin eksis, Sri bergabung dengan RTumah BUMN binaan Bank Rakyat Indonesia (BRI) sejak tahun 2021.
“Saya mengenal Rumah BUMN dari Mbak Tia sejak tahun 2021 kemudian saya gabung ke sana untuk ikut bazar, promosi, dan dilatih marketing serta penjualan. Itu sangat membantu sekali untuk perekonomian saya,” kisahnya.
Dari sana, Sri mendapat bimbingan untuk mengambil permodal melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) di BRI.
“Terakhir saya ambil 40 juta rupiah untuk mengembangkan usaha. Dulu di awal saya ambil KUR 5 juta kemudian, 10 juta, 35 juta, terakhir 40 juta,” ungkapnya.
Sri mengatakan pengalaman yang tidak terlupakan dalam mengembangkan usahanya adalah proses belajarnya.
“Jadi dulu saya memang kepingin punya usaha tapi nggak punya pengalaman. Jadi prosesnya dulu saya selalu gagal karena stik saya keras. Terus saya ketemu chef yang melatih saya membvuat stik yang renyah dan enak,” bebernya.
Dia juga mengisahkan bahwa dalam berjualan terkadang jualannya tidak laku.
“Jadi udah jatuh bangun saya,” tandasnya.
“Alhamdulillah kemarin lebaran pemesanan sangat luar biasa banyaknya sampai 10 kilogram perhari,” tutupnya.
Sementara itu, Endang Sulistyaningsih yang merupakan koordinator Rumah BUMN Semarang yang merupakan tangan Panjang BRI dalam membina UMKM mengatakan, Rumah BUMN bukan hanya sekedar sebagai tempat untuk memperkenalkan produk.
Di sini para member bisa saling bercerita, curhat, atau melampiaskan isi hatinya dengan kegiatan yang positif sekaligus produktif.
“Rata-rata orang yang mau masuk ke sini itu karena ada masalah ekonomi keluarga. Akhirnya di sini kita harus memastikan produk UMKM yang dibawa member harus terjual,” tuturnya.
Tia sendiri memfasilitasi para member dalam pelatihan, bazar, dan mengakomodir pengunjung.
“Nah di rumah BUMN sendiri menyediakan pelatihan marketing gratis dan member bisa mendisplay produknya ke sini sehingga pengunjung bisa membeli. Selain itu rumah BUMN juga membuatkan event, bazar, dan lain-lain,” ujar Tia menjabarkan tanggungjawab utamanya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










