Jateng

Dari Kecerdasan Budaya Hingga Tantangan AI: Seminar Internasional FIPP Bedah Masa Depan Pendidikan dan Psikologi

M Husni | 20 Februari 2026, 12:23 WIB
Dari Kecerdasan Budaya Hingga Tantangan AI: Seminar Internasional FIPP Bedah Masa Depan Pendidikan dan Psikologi

JATENG.AKURAT.CO, Bagaimana mahasiswa asing bertahan dari culture shock? Bagaimana sistem pendidikan tetap berjalan di tengah krisis politik? Dan benarkah AI membuat mahasiswa mengalami "ilusi pemahaman"? 

Isu-isu krusial ini menjadi sorotan utama dalam seminar yang merupakan rangkaian FIPP International Forum 2026 yang berlangsung di Aula Dekanat Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi (FIPP) Universitas Negeri Semarang (UNNES), Kamis 19 Februari 2026.

Meski pelaksanaan forum bertepatan dengan kebijakan Work From Anywhere (WFA) hari pertama Ramadan 1447 H di lingkungan kampus, antusiasme peserta tidak surut dalam membedah isu-isu strategis.

Dekan FIPP UNNES, Prof. Dr. Edy Purwanto, M.Si., dalam sambutannya menyatakan bahwa diskusi lintas negara ini adalah pengejawantahan visi UNNES sebagai pelopor kecemerlangan pendidikan yang bereputasi dunia.

"​Kolaborasi internasional melalui student exchange dan temu akademik lintas negara adalah upaya untuk membuka wawasan mahasiswa," katanya.

Seminar internasional ini mempertegas komitmen FIPP UNNES dalam mendukung SDGs No. 4 tentang pendidikan inklusif dan SDGs No. 5 terkait kesetaraan gender, dengan memastikan diskursus akademik tetap menyentuh isu-isu kelompok marginal dan tantangan teknologi masa depan.

Adapun ​seminar tersebut mempertemukan perspektif dari berbagai negara: Kirgistan, Myanmar, Gambia, hingga Indonesia untuk merumuskan arah pendidikan dan psikologi abad ke-21. 

Resiliensi Pendidikan dan Kecerdasan Budaya

Mahasiswa S3 UNNES asal Kirgistan, Nurtilek Kadyrov membuka diskusi dengan konsep Cultural Intelligence. Ia bercerita tentang pengalamannya selama 11 tahun di Indonesia. Ia menegaskan bahwa kemampuan beradaptasi di jantung budaya Jawa bukan sekadar soal bahasa, melainkan negosiasi psikologis. 

"Kecerdasan budaya adalah kunci yang mengubah tembok perbedaan menjadi jembatan kolaborasi," ujarnya.

​Sisi resiliensi yang lebih ekstrem dipaparkan oleh mahasiswi S2 Pengembangan Kurikulum asal Myanmar, Hsu Nandar Myint. Ia membagikan bagaimana kurikulum di negaranya dipaksa bertransformasi akibat krisis politik pasca-2021. 

Penggunaan solusi low-technology dan pendidikan berbasis komunitas menjadi bukti bahwa pendidikan harus tetap hadir meski dalam keterbatasan total.

Dilema Digital: Antara Kesejahteraan Mental dan AI

Di ranah psikologi, diskusi menyoroti kesejahteraan mental mahasiswa di era media sosial. Jenyes Intan Sururoh, mahasiswi Bimbingan Konseling menekankan pentingnya otonomi dan regulasi diri agar mahasiswa tidak kehilangan jati diri.

Sementara itu, mahasiswi Psikologi Shelma Rania Putri Nugroho membedah rendahnya efikasi diri pada perempuan yang tidak menempuh pendidikan atau pekerjaan akibat hambatan norma gender.

​Isu teknologi diperdalam oleh mahasiswa UIN Salatiga asal Gambia, Mafu Ceesay yang mendorong literasi data dan coding sebagai standar logika baru. 

Namun, peringatan kritis datang dari mahasiswi Hukum Ekonomi Syariah UIN Salatiga Annisa Denti Papita terkait penggunaan AI dalam pendidikan.

Ia menggarisbawahi risiko Illusion of Understanding, di mana kemudahan akses informasi instan melalui AI justru berpotensi mendangkalkan kemampuan analisis kritis mahasiswa.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
M Husni
M
Editor
M Husni