Selesai Lari 42K di Borobudur Marathon, Jangan Langsung Pulang: Cicipi Beberapa Kuliner Magelang Ini

JATENG.AKURAT.CO, Selesai lari 42 kilometer di Borobudur Marathon 2026, tubuh mungkin cuma ingin rebahan, tapi perut di Magelang tidak bisa diajak kompromi: dari mangut beong yang pedasnya bikin mata melek sampai sop senerek warisan kolonial yang kuahnya bening tapi kaya rempah, kota ini punya cara sendiri untuk memaksa pelari berjalan kaki lagi, kali ini demi kuliner.
Garis finis ada di Taman Lumbini. Medali sudah di leher, keringat masih bercucuran, dan otot betis masih berdenyut. Di titik itu, biasanya ada dua jenis pelari: yang langsung mencari tempat duduk, dan yang langsung membuka peta kuliner.
Bagi yang memilih opsi kedua, Magelang tidak pernah kehabisan alasan untuk membatalkan niat diet. Kota ini punya lapisan kuliner yang sudah berumur puluhan tahun, bercampur dengan warung-warung yang muncul belakangan. Semuanya ada dalam radius yang masih bisa dijangkau dengan kaki yang lelah.
Seorang pelari asal Semarang, Dimas, mengaku setelah finis ia justru bingung bukan karena kram, tapi karena tidak tahu harus makan apa dulu. “Perut lapar, tapi mata juga lapar. Mau mangut beong, tapi juga penasaran sop senerek. Akhirnya makan dua-duanya,” katanya.
Baca Juga: Bukan Cuma Lari di Depan Candi: Kenapa Puluhan Ribu Orang Rela Berebut Slot Borobudur Marathon
Mangut Beong: pedasnya bikin lupa kalau baru saja lari 42K
Ini adalah primadona kuliner sekitar Borobudur. Mangut beong menggunakan ikan beong, ikan air tawar endemik Sungai Progo yang tekstur dagingnya lembut, mirip lele tapi lebih besar . Kuahnya santan kuning yang sangat pedas, diperkaya rempah seperti kencur, kunyit, daun jeruk, dan serai .
Salah satu yang paling terkenal adalah Mangut Beong Sehati di Dusun Bumen, Desa Kembanglimus, sekitar 10 menit dari Candi Borobudur . Harganya mulai Rp30.000 sampai Rp70.000, tergantung ukuran potongan ikan .
Bagi pelari yang baru saja menghabiskan energi, pedasnya bisa jadi semacam kejutan yang membangunkan sistem saraf. Tapi bagi yang lambungnya sensitif, sebaiknya jangan langsung menantang level pedas tertinggi. Tubuh sudah lelah, dan lambung bukan medan yang tepat untuk uji nyali.
Sop Senerek: warisan kolonial yang kuahnya bening tapi tidak main-main
Nama “senerek” berasal dari snert, sup kacang polong Belanda yang diadaptasi dengan lidah Jawa . Isinya kacang merah, bayam, wortel, dan irisan daging sapi. Kuahnya bening, tapi rasanya dalam. Rempahnya tidak menusuk, tapi hangat dan mengendap di tenggorokan.
Sop Senerek Pak Parto di Jalan Jenderal Sudirman adalah yang paling legendaris. Buka sejak pukul 06.00 pagi, warung ini sudah menjadi langganan warga lokal untuk sarapan . Harganya sekitar Rp19.000 untuk versi campur, dan sekitar Rp25.000–Rp30.000 kalau ditambah paru atau daging .
Setelah lari panjang, tubuh kehilangan banyak cairan dan elektrolit. Kuah bening yang gurih seperti ini terasa seperti mengisi ulang sesuatu yang kosong, tanpa membuat perut kaget oleh lemak berlebih.
Baca Juga: Dari Senin sampai Sabtu: Jadwal Latihan Tapering yang Bikin Kaki Segar, Bukan Kaku
Kupat Tahu Pojok: legenda sejak 1942 yang tidak pernah pensiun
Kupat tahu Pojok sudah ada sejak 1942. Awalnya dikenal sebagai Warung Seng, dan sampai sekarang masih menjadi jujugan, bahkan bagi Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono, yang sempat mampir pada Februari 2026 .
Seporsi kupat tahu berisi ketupat, tahu goreng hangat, kol, tauge, dan siraman bumbu kacang cair yang manis gurih dengan aroma daun jeruk yang kuat . Harganya sekitar Rp17.000, atau Rp22.000 kalau ditambah telur dadar .
Lokasinya di Jalan Sutopo No. 15, Cacaban, Magelang Tengah. Buka dari pagi sampai sore. Cocok untuk pelari yang ingin makanan ringan tapi tetap mengenyangkan setelah lomba.
Baca Juga: 10K, Half, atau Full? Tiga Wajah Borobudur Marathon yang Bikin Kamu Galau Sebelum Lari
Nasi Goreng Magelangan: karbohidrat ganda untuk pemulihan
Nama “Magelangan” bukan sekadar nama kota. Ini adalah teknik mencampur nasi dengan mie kuning, dimasak dengan bumbu rempah di atas tungku arang, menghasilkan aroma smoky yang khas .
Salah satu tempat yang masih menjaga cara masak tradisional ini adalah Pak Kayun di kawasan kuliner malam Jalan Yos Sudarso. Harganya sekitar Rp15.000–Rp25.000 .
Bagi pelari, kombinasi nasi dan mie adalah dua sumber karbohidrat sekaligus. Setelah 42 kilometer, tubuh membutuhkan pengisian glikogen, dan satu piring magelangan mungkin lebih efektif daripada sekadar nasi putih dengan lauk.
Sego Godog: nasi yang dimasak ulang dalam kaldu
Sego godog adalah nasi yang dimasak kembali dalam kuah kaldu ayam berbumbu, dicampur dengan mie, sayuran, dan suwiran ayam . Teksturnya lembut, hampir seperti bubur, tapi tidak sepenuhnya hancur.
Salah satu yang legendaris adalah Bakmi & Sego Godog Pak Naryo di dekat Lapangan Rindam IV Diponegoro, berdiri sejak 1992. Porsinya jumbo, kuahnya gurih dengan sedikit pedas. Harganya mulai Rp18.000 untuk porsi biasa dan Rp28.000 untuk porsi super .
Untuk pelari yang perutnya masih sensitif setelah lomba, sego godog bisa jadi pilihan yang lebih ramah daripada makanan pedas atau berminyak. Teksturnya lembut, kuahnya hangat, dan isinya cukup lengkap.
Getuk: oleh-oleh wajib yang tidak boleh terlupakan
Selesai makan berat, jangan langsung pulang. Getuk adalah camilan khas Magelang yang terbuat dari singkong, dengan tekstur lembut dan rasa manis legit. Salah satu yang legendaris adalah Getuk Pojok Bu Endang di Pasar Rejowinangun, yang eksis sejak 1950-an .
Harganya sangat ramah di kantong, mulai Rp10.000 untuk kotak kecil . Ada berbagai varian rasa: pandan, frambos, gula jawa, hingga getuk kulit tumbuk . Cocok untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh, atau dimakan di perjalanan pulang sebagai penutup hari.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Jalan Diperbaiki, Warga Malah Menderita: Seragam Anak Kotor, Motor Rusak di Jalur Semarang–Kendal
- 2Prediksi Skor Madura United vs Persib: Ketajaman Dimitar Mitkov Jadi Ancaman, Ini yang Diwaspadai Igor Tolic
- 3Rute Macet Semarang-Solo, 22 Oktober 2026: Mana yang Harus Dihindari, Mana yang Harus Diambil
- 4Pentingnya Ketajaman Intuisi untuk Menghadapi Dinamika Kehidupan
- 5Prediksi Madura United vs Persib: Balsa Sekulic Starter, Mitkov Kembali Jadi Ancaman
- 6Polda Jateng Bongkar Jaringan Togel di Demak, Grobogan, dan Semarang, Saldo Rekening Rp2,46 Miliar Diblokir
- 726 Tahun Biznet, Perkuat Infrastruktur AI dan Kabel Laut untuk Perluas Konektivitas Digital Indonesia
- 8Livia Stevenson Buka Keran Emas Kota Semarang di Porprov Jateng 2026, Disiplin Latihan Jadi Kunci
- 9iPhone 18 Pro dan Pro Max Resmi Tersedia, Telkomsel Tawarkan Bundling Halo dan SIMPATI hingga Diskon Rp1 Juta
- 10Mahjong Rooftop Clash di Semarang, Louis Kienne Hotel Hadirkan Ruang Hangout dan Kolaborasi Komunitas




