Bukan Cuma Lari di Depan Candi: Kenapa Puluhan Ribu Orang Rela Berebut Slot Borobudur Marathon

JATENG.AKURAT.CO, Bank Jateng Borobudur Marathon 2026 bukan cuma lomba lari 42 kilometer di depan candi, tapi event yang slotnya diperebutkan lewat ballot, dijaga standar Elite Label World Athletics, dan sukses membuat warga desa sekitar Borobudur merasa punya gawe besar sendiri—tiga hal yang menjelaskan kenapa puluhan ribu orang rela berebut 12.500 tiket.
Banyak event lari yang tinggal daftar, bayar, lalu datang. Bormar tidak.
Sejak 10 Juli 2026, semua calon peserta wajib ikut ballot. Skema fast track dihapus, diganti mekanisme yang lebih merata. Pada edisi sebelumnya, pendaftar lewat ballot menembus 42.000 orang, bahkan mendekati 45.000, untuk slot yang waktu itu cuma 11.500. Tahun ini kuota naik jadi 12.500, tapi angkanya tetap tidak sebanding dengan jumlah orang yang ingin berdiri di Taman Lumbini.
Antusiasme itu bukan tanpa alasan. Bormar sudah naik kelas. Sejak 2025, ia memegang status Elite Label dari World Athletics, dan disebut sebagai satu dari hanya dua road race di Indonesia yang menyandang status itu. Label ini bukan sekadar stiker di poster.
Ada standar pengukuran rute, tes doping, dan kualitas penyelenggaraan yang harus dipenuhi. Efeknya terasa di lapangan: target pelari mancanegara tahun ini lebih dari 500 orang, naik dari sekitar 290 pelari dari 39 negara pada edisi sebelumnya.
Rute yang tidak bisa direplikasi di kota lain
Start dan finis semua kategori ada di Taman Lumbini, kompleks Candi Borobudur. Dari sana, pelari 42K keluar Pintu 8, menyusuri Jalan Medang Kamulan, lalu masuk ke Desa Wanurejo, Tuksongo, dan Bumisegoro. Ada sawah yang membentang, sungai kecil, jalan desa yang berkelok, dan siluet gunung di kejauhan.
Di tengah rute itu ada Tanjakan Cinta, titik yang paling dibenci sekaligus paling dirindukan. Sekretaris Daerah Jawa Tengah, Sumarno, menyebut tanjakan itu sebagai titik favorit yang selalu dinantikan pelari.
Tahun ini, Pemprov juga meminta panitia mengarahkan rute melewati area parkir Masjid Agung Jawa Tengah, supaya peserta dari luar daerah kenal dengan lanskap religi Magelang.
Rute seperti ini tidak bisa dipindahkan ke kota lain. Candi Borobudur tidak bisa dibangun ulang di pinggiran Jakarta. Sawah dan jalan desa yang berkelok tidak bisa direplikasi di atas treadmill.
Itu sebabnya pelari yang sudah pernah datang sering ingin kembali, bukan karena medali, tapi karena pengalaman yang tidak bisa dibeli.
Baca Juga: Dari Senin sampai Sabtu: Jadwal Latihan Tapering yang Bikin Kaki Segar, Bukan Kaku
Warga desa bukan penonton, tapi bintang utama
Yang membuat Bormar terasa berbeda bukan hanya rute, tapi orang-orang di pinggir jalan. Warga Borobudur tidak sekadar berdiri dan bertepuk tangan. Mereka bikin yel-yel ala suporter bola, menabuh drum, menari tradisional, memasang poster lucu, bahkan menyediakan makanan dan minuman gratis di halaman rumah.
Pada edisi sebelumnya, sekitar 20 desa dan 52 sekolah terlibat dalam kelompok penyorak. Tahun ini jumlahnya diprediksi lebih banyak, dengan atraksi yang lebih beragam. Sekitar 10.000 warga ikut memberi semangat di sepanjang lintasan.
“Kami ingin Borobudur Marathon menjadi gawe-nya masyarakat Borobudur. Nilai yang paling penting adalah kebersamaan dan gotong royong. Itulah warisan yang harus terus dijaga agar event ini tetap berkelanjutan,” kata Sumarno.
Kalimat itu bukan basa-basi. Warga memang merasa memiliki. Mereka menyebut Bormar seperti “Lebaran-nya pelari”, momen mudik dan reuni akrab bagi komunitas lari yang biasanya cuma bertemu di media sosial.
Pelari dari Kalimantan, Vonny, sampai rela menyisihkan lebih dari Rp5 juta setahun sekali untuk terbang ke Magelang, menginap di homestay, dan berburu oleh-oleh. Pelari dari Yogyakarta, Inggit, bilang suasananya “seperti pulang kampung saat Lebaran”.
Baca Juga: 10K, Half, atau Full? Tiga Wajah Borobudur Marathon yang Bikin Kamu Galau Sebelum Lari
Dampak ekonominya bukan kaleng-kaleng
Bormar bukan cuma meriah di lintasan. Ia menggerakkan uang dalam jumlah yang serius. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menargetkan perputaran ekonomi edisi 2026 menembus Rp100 miliar, naik dari Rp67 miliar pada 2025.
Angka itu masuk akal. Survei Litbang Kompas menunjukkan 94,2 persen pelari datang dari luar kota, dan 87,8 persen di antaranya memilih menginap. Rata-rata mereka membawa tiga teman atau anggota keluarga. Kampung Homestay Ngaran 2, misalnya, selalu penuh 100 persen saat Bormar. Jumlah unit homestay di kampung itu tumbuh dari 15 unit dengan 70 kamar pada 2018 menjadi 32 unit dengan lebih dari 150 kamar.
Di sisi kuliner, lebih dari 70 UMKM lokal dilibatkan lewat program Bank Jateng Pawone. Mereka dikurasi oleh chef dari hotel bintang lima, supaya jajanan yang disajikan benar-benar layak untuk pelari. Ada juga pedagang nasi goreng yang biasanya baru tutup lewat tengah malam, tapi saat Bormar sudah habis sebelum pukul 22.00.
Medali satu dekade dan rasa ingin kembali
Tahun ini Bormar merayakan satu dekade. Tema “Decade of Legacy” bukan sekadar hiasan. Panitia menyiapkan medali khusus bagi pelari yang sudah finis sedikitnya lima kali dalam rentang 2017–2026. Pelari yang memenuhi syarat bisa pulang membawa dua medali sekaligus: medali finisher dan medali satu dekade.
Dede Purnomo, pelari asal Purwokerto, sudah ikut sejak 2017. Ia menyebut Bormar sebagai “perayaan dari proses latihan lari yang panjang”. Rute tanjakan dan turunannya bikin dia rela latihan khusus di kawasan Ajibarang yang konturnya mirip Magelang.
“Konsistensi tumbuh karena satu hal, yakni mencintai,” ujarnya.
Survei Litbang Kompas 2025 juga menemukan 64,3 persen dari 583 pelari menyebut Bormar sebagai event terbaik tahun itu. Angka itu bukan hasil klaim panitia, tapi suara peserta yang sudah merasakan sendiri.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Jalan Diperbaiki, Warga Malah Menderita: Seragam Anak Kotor, Motor Rusak di Jalur Semarang–Kendal
- 2Prediksi Skor Madura United vs Persib: Ketajaman Dimitar Mitkov Jadi Ancaman, Ini yang Diwaspadai Igor Tolic
- 3Rute Macet Semarang-Solo, 22 Oktober 2026: Mana yang Harus Dihindari, Mana yang Harus Diambil
- 4Pentingnya Ketajaman Intuisi untuk Menghadapi Dinamika Kehidupan
- 5Prediksi Madura United vs Persib: Balsa Sekulic Starter, Mitkov Kembali Jadi Ancaman
- 6Polda Jateng Bongkar Jaringan Togel di Demak, Grobogan, dan Semarang, Saldo Rekening Rp2,46 Miliar Diblokir
- 726 Tahun Biznet, Perkuat Infrastruktur AI dan Kabel Laut untuk Perluas Konektivitas Digital Indonesia
- 8Livia Stevenson Buka Keran Emas Kota Semarang di Porprov Jateng 2026, Disiplin Latihan Jadi Kunci
- 9iPhone 18 Pro dan Pro Max Resmi Tersedia, Telkomsel Tawarkan Bundling Halo dan SIMPATI hingga Diskon Rp1 Juta
- 10Mahjong Rooftop Clash di Semarang, Louis Kienne Hotel Hadirkan Ruang Hangout dan Kolaborasi Komunitas




