Jateng

Terungkap! Mengapa Kuliner Gado-Gado Boplo & Cemara Begitu Legendaris, Bahkan Jadi Langganan Presiden Soekarno!

Theo Adi Pratama | 23 September 2025, 14:28 WIB
Terungkap! Mengapa Kuliner Gado-Gado Boplo & Cemara Begitu Legendaris, Bahkan Jadi Langganan Presiden Soekarno!

JATENG.AKURAT.CO, Pernahkah Anda membayangkan sepiring penuh sayuran rebus, kentang, tahu, tempe, dan telur yang tersaji dengan siraman bumbu kacang yang melimpah dan renyah? Itulah gado-gado, hidangan ikonik yang tak hanya memanjakan lidah, tetapi juga menyimpan kisah yang unik.

Makanan ini sempurna disandingkan dengan nasi hangat atau potongan lontong, menjadi favorit banyak orang dari berbagai kalangan.

Sekilas, gado-gado punya kemiripan dengan beberapa hidangan khas daerah lain di Indonesia, seperti Lotek dari Jawa Barat atau Pecel dari Jawa Timur. Namun, jika diperhatikan lebih detail, ada perbedaan signifikan.

Bumbu kacang pada gado-gado tidak menggunakan kencur, yang menjadi ciri khas Lotek dan Pecel.

Selain itu, gado-gado lebih komplit, tidak hanya berisi sayuran seperti pecel pada umumnya, tetapi juga dilengkapi dengan telur, tahu, tempe, serta lontong. Inilah yang membuatnya istimewa.

Asal-Usul Nama dan Pengaruhnya dalam Bahasa Sehari-hari

Meskipun gado-gado sangat populer, tidak ada yang tahu persis dari mana hidangan ini berasal. Referensi yang ada cenderung mengaitkannya dengan Betawi, suku asli Jakarta. Namun, misteri ini tidak hanya menyelimuti asal-usulnya, tetapi juga namanya.

Kata "gado-gado" tidak ditemukan dalam kamus bahasa Indonesia atau bahkan kosakata bahasa Betawi. Uniknya, justru keberadaan makanan ini yang menginspirasi perkembangan bahasa.

Pernah dengar istilah "pernikahan gado-gado"? Itu merujuk pada kawin campur. Atau "bahasa gado-gado" yang artinya bahasa campur aduk.

Ini menunjukkan betapa kuatnya pengaruh hidangan sederhana ini dalam budaya dan percakapan sehari-hari.

Rasa bumbu kacangnya yang gurih dan mudah diterima lidah siapa pun membuat gado-gado menyebar luas, tidak hanya di Jakarta, tetapi juga ke berbagai daerah di Indonesia.

Saking populernya, banyak turis asing menjadikannya sebagai salah satu hidangan yang wajib dicoba saat berkunjung ke Indonesia.

Mencicipi Legenda di Dua Tempat Favorit Soekarno

Bagi para penikmat gado-gado, mencari tempat favorit adalah sebuah pencarian personal.

Setiap orang punya kriteria tersendiri, mulai dari rasa bumbu yang kental, tekstur sayuran yang pas, hingga suasananya.

Bahkan, Presiden RI Pertama, Soekarno, punya tempat langganan untuk menikmati hidangan ini.

Meski gado-gado bisa dengan mudah ditemukan di warung pinggir jalan atau dari penjaja keliling, ada dua tempat legendaris yang sangat populer, bahkan sampai hari ini.

Keduanya berasal dari kawasan yang dulu dikenal sebagai "Boplo", sebuah nama yang berasal dari bahasa Belanda "bouw-ploeg" yang artinya 'regu pekerja bangunan', yang terletak di dekat Stasiun Gondangdia.

Dua tempat tersebut adalah:

  • Gado-Gado Boplo: Saat ini lokasinya sudah pindah ke Melawai, Jakarta Selatan. Keistimewaan tempat ini terletak pada racikan bumbu kacangnya yang menggunakan campuran kacang tanah dan kacang mete. Campuran ini menghasilkan rasa gurih yang lebih kaya dan tekstur yang lebih lembut, membuat siapa pun yang mencobanya ketagihan.
  • Gado-Gado Cemara: Berlokasi di Tanah Abang. Tempat ini terkenal karena kesegaran sayuran rebusnya dan bumbu kacang yang resepnya dijaga turun-temurun. Kualitas yang konsisten ini menjadikannya favorit banyak orang yang menginginkan cita rasa otentik.

Kisah gado-gado tidak hanya tentang makanan, tetapi juga tentang warisan, budaya, dan cita rasa yang terus hidup.

Jadi, jika Anda ingin mencoba gado-gado yang autentik, mungkin salah satu dari dua tempat legendaris ini bisa menjadi pilihan yang tepat. Siapa tahu, Anda bisa merasakan cita rasa yang sama dengan sang proklamator!

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.