Jateng

Rahasia Tersembunyi di Balik Renyahnya Rempeyek: Dari Makanan Kerajaan Sampai Simbol Persatuan!

Theo Adi Pratama | 6 September 2025, 14:30 WIB
Rahasia Tersembunyi di Balik Renyahnya Rempeyek: Dari Makanan Kerajaan Sampai Simbol Persatuan!

JATENG.AKURAT.CO, Siapa yang tidak kenal rempeyek? Kudapan renyah nan gurih ini hampir selalu hadir di meja makan, menjadi pelengkap sempurna untuk nasi pecel, gado-gado, atau sekadar camilan sore.

Tapi, tahukah Anda, di balik kerenyahannya, rempeyek menyimpan kisah yang jauh lebih dalam?

Ia bukan hanya sekadar gorengan, melainkan warisan budaya yang penuh filosofi, bahkan pernah menjadi bagian dari ritual kuno.

Mari kita kupas tuntas sejarah dan makna di balik rempeyek yang legendaris ini.

Baca Juga: Yuk Cobain Kraton Waterpark di Sidoarjo, Wahana Bermain Seru Bareng Keluarga

Lebih dari Sekadar Tepung dan Kacang

Secara umum, rempeyek dibuat dari adonan tepung terigu yang dicampur bumbu, lalu diberi isian yang khas.

Isiannya bisa beragam, mulai dari biji kacang tanah atau kedelai, hingga bahan hewani seperti ikan teri, udang, atau bahkan laron.

Keberagaman isian ini membuat rempeyek disukai banyak orang.

Bumbu halusnya—kemiri, ketumbar, bawang putih, dan garam—menjadi kunci utama rasa gurihnya yang bikin ketagihan.

Namun, sejarah rempeyek tidak sesederhana itu. Konon, kudapan ini sudah ada sejak masa Kesultanan Mataram di abad ke-16.

Meskipun sumber sejarahnya terbatas, kehadiran rempeyek dalam berbagai upacara adat membuktikan bahwa posisinya di masyarakat Jawa sangat istimewa.

Baca Juga: Karawang Gak Cuma Industri! Ada Resinda Hotel, Hidden Gem Penginapan dengan Waterpark Mewah, Cocok Buat Liburan Anti Ribet!

Rempeyek sebagai Simbol Gotong Royong dan Keberkahan

Dalam budaya Jawa, rempeyek bukan hanya makanan. Ia memiliki filosofi yang mendalam.

Ambil contoh rempeyek teri, yang sering menjadi teman makan sayur lodeh.

Menurut pakar kuliner, Murdijati Gardjito, rempeyek ini melambangkan kebersamaan bagi orang Jawa.

Ada juga rempeyek gereh pethek, yang sering disajikan dalam acara selamatan.

Jenis rempeyek ini melambangkan gotong royong dan persatuan.

Kehadirannya dalam acara-acara penting—mulai dari upacara kelahiran, pernikahan, hingga kematian—menunjukkan bahwa rempeyek menjadi bagian tak terpisahkan dari daur hidup manusia.

Ia menjadi perlengkapan sesaji dalam ritual-ritual kuno, termasuk upacara kirim dowo di Wonogiri atau ritual wiwit di Klaten, yang bertujuan memohon keselamatan dan keberkahan dari alam.

Di masa kini, rempeyek mungkin lebih sering dinikmati sebagai lauk atau camilan sehari-hari.

Namun, di beberapa daerah, tradisi ini masih dilestarikan, membuktikan bahwa rempeyek memiliki tempat yang sakral dalam budaya.

Inovasi Rempeyek yang Tak Pernah Berhenti

Meskipun akarnya kuat di tradisi, rempeyek terus berinovasi. Di Bantul, lebih dari 25 tahun lalu, muncul jenis baru yang disebut rempeyek tumpuk.

Varian ini diciptakan oleh seorang penjual bernama Mbok Tumpuk. Keunikannya terletak pada perbandingan adonan dan isiannya.

Rempeyek tumpuk punya isian kacang yang jauh lebih banyak daripada adonan tepungnya, dan cara menggorengnya pun unik, dilakukan secara susul-menyusul hingga tumpukannya tinggi.

Rempeyek tumpuk menjadi bukti bahwa kudapan kuno ini bisa terus berkembang, menyesuaikan diri dengan selera zaman, tanpa kehilangan esensi kerenyahan dan kegurihannya.

Rempeyek adalah cerminan dari budaya Jawa yang kaya.

Setiap gigitan renyahnya tidak hanya memanjakan lidah, tetapi juga mengajak kita menelusuri sejarah, filosofi, dan tradisi yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Jadi, lain kali Anda menikmati rempeyek, ingatlah bahwa Anda sedang menyantap sepotong kecil sejarah.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.