Sejarah dan Perkembangan Masjid Sunan Muria: Mengungkap Jejak Sunan Muria di Colo, Kudus

AKURAT.CO Sejarah, Di sebelah utara kota Kudus, sekitar 18 km, terdapat sebuah desa bernama Colo yang terletak dalam wilayah Kecamatan Gawe, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah.
Desa kecil ini menjadi terkenal karena menjadi tempat peristirahatan terakhir seorang waliyuilah yang tergabung dalam barisan Wali Songo, yaitu Sunan Muria, yang sebenarnya bernama Raden Umar Said.
Sunan Muria diberi gelar tersebut karena tempat ia berdakwah untuk menyebarkan agama Islam terletak di kaki Gunung Muria.
Beliau bahkan membangun pesantren dan masjid di puncak gunung tersebut, tepat di belakang masjid yang dibangunnya sendiri.
Meski masjid tersebut telah mengalami pemugaran yang mengubah beberapa bagian, beberapa peninggalan asli Sunan Muria masih dapat ditemui di dalamnya, seperti mihrab (tempat imam), umpak batu (tempat penyangga tiang masjid) yang dibawa dari Pulau Bali, dan sebuah gayor (beduk).
Masjid tersebut kini dibagi menjadi dua bagian, satu untuk kaum pria yang masih mempertahankan beberapa peninggalan asli, dan satunya untuk kaum wanita yang merupakan tambahan baru hasil renovasi.
Untuk mencapai masjid dan makam Sunan Muria yang terletak di puncak Gunung Muria dengan ketinggian sekitar 1.600 meter, pengunjung harus melewati jalan setapak mendaki sejauh 1600 meter.
Namun, bagi yang tidak sanggup, tersedia ojek sepeda motor dengan tarif Rp2.000 sekali jalan, meskipun cukup mahal karena jalan yang harus dilewati sangat curam dan berbahaya.
Mengapa gunung ini dinamakan Muria? Menurut hipotesa Solihin Salam, penulis buku "Kudus Purbakala dalam Perjoangan Islam", nama Muria diidentifikasi dengan Gunung Moriah di dekat Yerusalem, Palestina, tempat Nabi Daud dan Nabi Sulaiman membangun sebuah kenisah di puncaknya.
Selain tempat bersejarah, daerah Colo juga menjadi objek wisata bagi pemerintah Kudus.
Banyak vila telah dibangun di sana, dan terdapat pula air terjun yang disebut Curug Monthel, yang sering dikunjungi pada hari Minggu untuk berekreasi.
Namun, pada hari Kamis Legi dan Jumat Pahing, banyak orang berziarah ke makam Sunan Muria.
Saat memasuki pintu gerbang makam, pengunjung akan melihat pelataran yang dipenuhi oleh 17 batu nisan, yang merupakan makam para prajurit dan punggawa keraton.
Di tengah pelataran, berdiri bangunan cungkup makam dua tingkat yang merupakan makam Sunan Muria.
Ada pula nisan yang diyakini sebagai makam putri Sunan Muria, Raden Ayu Nasiki.
Di sebelah barat dinding belakang Masjid Muria, terdapat makam Panembahan Pengulu Jogodipo, putra sulung Sunan Muria.
Dengan kekayaan sejarah dan spiritualitasnya, Desa Colo menjadi tempat yang menarik untuk dikunjungi bagi mereka yang ingin menelusuri jejak perjalanan spiritual Wali Songo dan menikmati keindahan alam serta kedamaian suasana pegunungan.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Profil Instagram Ko Hyung-jin Wasit Indonesia vs Malaysia, Sejarah Kelam 2019 Kembali Terbayang usai Tom Haye Dikartu Merah!
- 2LIVE SCORE Indonesia vs Malaysia, Skor 0-0 Menit ke-70 Thom Haye Kartu Merah, Cek Skor Akhir FULL TIME Menang Siapa?
- 3Kalender Jawa Oktober 2026: Weton, Neptu, dan Rekomendasi Hari Baik untuk Hajatan
- 4Laga PERSIKU VS PSIS BATAL DIGELAR! Ini Alasan Manajemen Tuan Rumah Terkait Pembatalan Pertandingan
- 5Laga Persiku vs PSIS Mendadak BATAL Digelar, Netizen: Harusnya Tuan Rumah Kalah WO!
- 6F1 Ubah Jadwal GP Azerbaijan ke Sabtu, Ternyata Ini Penyebabnya
- 7Panduan Lengkap Kalender Jawa November 2026, dari Minggu Pahing hingga Senin Legi
- 8MotoGP 2026 Masuki Fase Akhir: Ini Jadwal Lengkap Sisa Balapan
- 9PLN Umumkan Pemeliharaan Jaringan di Semarang Timur, Listrik Padam 6 Jam
- 10TNT Awards Jateng 2026 Dorong Elektronifikasi Transaksi Pemerintah Daerah







