Jateng

Menelusuri Sejarah dan Keagungan Masjid Agung Surakarta: Masjid Peninggalan Kerajaan Mataram

Theo Adi Pratama | 7 Februari 2024, 16:00 WIB
Menelusuri Sejarah dan Keagungan Masjid Agung Surakarta: Masjid Peninggalan Kerajaan Mataram

AKURAT.CO Sejarah, Masjid Agung Surakarta, sebuah peninggalan gemilang dari Kerajaan Mataram, membanggakan kota Solo dengan keindahan arsitektur dan keberadaannya yang megah.

Sebagai salah satu masjid bersejarah di Indonesia, Masjid Agung Surakarta memiliki kriteria khusus yang mengukuhkannya sebagai sebuah masjid kerajaan zaman dahulu.

Baca Juga: Perjalanan Sejarah Masjid Agung Tegal: Saksi Bisu Perlawanan dan Pusat Keislaman di Tengah Kota Bahari

Kriteria Khusus Masjid Kerajaan

Seperti masjid kerajaan lainnya, Masjid Agung Surakarta terletak dekat dengan Keraton sebagai pusat pemerintahan dan tempat tinggal raja.

Selain itu, keberadaannya yang strategis di sekitar alun-alun dan pasar menjadikannya pusat aktivitas masyarakat yang tak terpisahkan.

Keindahan Arsitektur dan Nuansa Budaya

Dibangun pada era Paku Buwono III, masjid ini memperoleh pengaruh gaya arsitektur Jawa Kuno dan Belanda.

Dominasi bahan kayu pada beberapa bagian bangunan menambah pesona khas Jawa pada masjid ini.

Atap tumpang tiga yang bercorak tajug menggambarkan pokok-pokok tuntunan Islam, sementara mustaka atau mahkota atap memberi ciri khas tersendiri dengan bentuknya yang unik.

Baca Juga: Perjalanan dan Peran Masjid al-Muttaqin Kaliwungu: Pusat Spiritual dan Sejarah Kebangkitan Islam di Kendal

Pembangunan dan Perkembangan

Peresmian nama Masjid Agung Surakarta terjadi pada masa pemerintahan Sri Susuhunan Paku Buwono IV.

Mustaka yang awalnya terbuat dari emas murni kemudian diganti dengan bahan metal yang kuat.

Renovasi dan pembangunan berlanjut pada masa Sri Susuhunan Paku Buwono VIII, dengan penambahan berbagai fasilitas seperti pawestren, serambi, dan balai pernikahan.

Kolam Air dan Keberadaan Jogosworo

Tidak hanya sebagai tempat ibadah, masjid ini juga dilengkapi dengan kolam-kolam air untuk kebutuhan wudhu dan memberikan kesan sejuk.

Jogosworo, sebuah menara tempat pengeras suara, menjadi penanda masuknya waktu shalat fardu dengan suara azan yang menggema.

Baca Juga: Sejarah dan Perjalanan Masjid Jami Tegalsari Surakarta: Menara Spiritual dan Pusat Pendidikan

Peninggalan Sejarah Mataram

Masjid Agung Surakarta merupakan salah satu masjid yang didirikan oleh penguasa Mataram pada abad ke-18.

Terletak di sebelah timur kota Solo, masjid ini awalnya tidak sebesar seperti sekarang.

Namun, dengan peran serta para penerusnya, masjid ini berkembang menjadi sebuah peninggalan sejarah yang megah dan tak terlupakan.

Pengelolaan dan Pergantian Wewenang

Pengelolaan masjid ini mengalami beberapa kali pergantian dari pendanaan oleh keraton hingga diserahkan kepada Kementerian Agama.

Namun, pada tahun 1988, pengelolaannya kembali diserahkan kepada Keraton Kasunanan Surakarta.

Masjid Agung Surakarta, dengan segala keindahan dan kekayaan sejarahnya, bukan hanya menjadi tempat ibadah bagi umat Islam setempat, tetapi juga menjadi destinasi wisata sejarah yang menarik bagi siapa pun yang berkunjung ke Solo.

Sebuah perpaduan harmonis antara spiritualitas dan keagungan budaya Jawa yang abadi.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.